JawaPos Radar

Jadi 'Mafia Tanah', Camat sampai Kades di Tarumajaya Diciduk Polisi

06/09/2018, 05:40 WIB | Editor: Bintang Pradewo
Jadi 'Mafia Tanah', Camat sampai Kades di Tarumajaya Diciduk Polisi
Ilustrasi (Dok. JawaPos.com)
Share this image

JawaPos.com - Penyidik dari Direktorat Reserse Kriminal Khusus Polda Metro Jaya menangkap aparat pemerintah yang diduga menjadi mafia tanah di Desa Segaramakmur, Tarumajaya, Bekasi, Jawa Barat. Belasan pelaku kini sudah berhasil diamankan aparat dan ditahanan di Mapolda Metro Jaya.

Wakil Direktur Kriminal Umum Polda Metro Jaya, Ajun Komisaris Besar Polisi Ade Ary Syam mengatakan ada 11 orang yang diamankan dalam kasus tersebut. Mereka memiliki peran yang berbeda-beda dalam penggelapan uang dalam kasus tanah.

Aparat pemerintah yang diduga bermain menjadi mafia tanah yaitu HS selaku Camat Tarumajaya, AS selaku sekertaris desa, HA selaku Kepala Desa, HH selaku Kepala Dusun, HB selaku Staf Bagian, S selaku Staf Desa, SH selaku Staf Kecamatan. Sedangkan SF selaku pembeli, JS selaku penjual, AA selaku penjual, MD selaku penjual juga ikut diamankan.

"Kami tetapkan juga sebagai tersangka kemudian orang yang berperan serta aktif menjadi figur seolah-olah penjual dan pemilik tanah. Penjual adalah seolah-olah pemilik kemudian pembeli juga ada. Jadi total 11,” kata Ade Ary di Mapolda Metro Jaya, Selasa (5/9).

Menurut dia, modus para pelaku adalah mereka mengaku sebagai pemilik tanah korban atas nama Lina. Mereka membawa warkah yang lengkap dicap dan ditandatangani oleh pihak kecamatan hingga kepala desa.

"Ibu L punya tanah sejak 73 kemudian di tahun 2014, dia mendapat informasi dan juga di lapangan, dia didatangi oleh sekelompok orang yang mengaku memiliki tanah dengan warkah yang lengkap. Jadi para tersangka ini membuat girik palsu yang dibuat ditandatangani lengkap oleh kepala dusun hingga camat kemudian keterangan waris palsu kemudian keterangan tidak sengketa, surat kematian palsu sehingga ketika warkah ini sudah lengkap," ujar dia.

Tapi, Lina tak tinggal diam. Dia menunjukkan kalau dia adalah pemilik yang sah dengan menunjukkan serrtifikat asli dan menguasai secara fisik tanah seluas 7.700 meter persegi dengan nilai sebesar Rp 23 milyar itu. Tapi, tak tinggal diam, para pelaku lantas membuat akta jual-beli secara lengkap dan menganggap dokumen yang dimiliki Lina adalah yang palsu.

“Modus para tersangka ini membuat dokumen-dokumen palsu tadi secara lengkap, bekerja sama dengan dari oknum tingkat dusun sampai kecamatan kemudian mendatangi korban menyatakan seolah-olah mengajak korban untuk bersengketa. Akhirnya korban melaporkan kepada kami dan kami berhasil ungkap dan kami tetapkan ada beberapa diantaranya kita tahan,” ucapnya.

Pada saat sengketa, lanjutnya, para oknum pejabat kecamatan tersebut juga membuat catatan dokumen jual-beli tanah di sebuah buku yang telah ditandatangani oleh pelaku HS selaku Camat Tarumajaya. “Dokumen-dokumen ini tercatat di buku yang resmi. Di kantor Kecamatan, setiap tahun. Bapak Camat itu menutup administrasi buku ini di halaman terakhir yang tersisa. Mereka membuat 163 akta jual-beli. Artinya masih ada 163 akta jual-beli lainnya yang masih kita kejar,” ujar Ade.

Maka dari itu, lanjut dia, pihaknya akan terus mengembangkan kasus mafia tanah tersebut lantaran masih ada 163 akta tanah yang diduga jadi korban para oknum pejabat setempat itu. Atas perbuatannya para pelaku dijerat 263 KUHP tentang pemalsuan surat kemudian Pasal 264 KUHP tentang pemalsuan akta otentik dan Pasal 266 KUHP menyuruh menempatkan keterangan palsu ke dalam akta otentik dengan ancaman maksimal enam tahun.

(dik/JPC)

Berita Terkait

Rekomendasi

berita hari ini

Sign In

Belum memiliki aku? Sign Up