JawaPos Radar

Driver Ojol Tunawicara, Kerap Kehilangan Penumpang Karena Komunikasi

30/08/2018, 11:20 WIB | Editor: Sofyan Cahyono
Nusron Adi
Nusron Adi bersama keluarganya dan kawannya, Nizar saat ditemui JawaPos.com di Buduran, Sidoarjo, Selasa (28/8) (Dida Tenola/JawaPos.com)
Share this image

JawaPos.com - Keterbatasan fisik tidak menghalangi Nusron Adi untuk tetap bekerja keras. Penyandang tunawicara dan tunarungu itu menjadi driver ojek online (ojol) di Sidoarjo, Jawa Timur (Jatim), Nusron pun menjadi buah bibir usai seorang konsumen membagi kisahnya di media sosial.

JawaPos.com sempat bertemu Nusron di kediaman mertuanya. Alamatnya di Jalan Kaplingan Garuda, Sukorejo, Buduran, Sidoarjo. Rumahnya sederhana. Perlu masuk ke gang sempit untuk menjangkaunya.

Di sana, Nusron tinggal bersama istri, seorang putri, dan ibu mertuanya. Dia menyambut dengan ramah saat JawaPos.com datang. Di ruang tamu rumah yang berukuran kecil itu, istri Nusron menyuguhkan kudapan ringan dengan tiga botol air mineral.

Nusron Adi
Nusron Adi saat ditemui JawaPos.com di Buduran, Sidoarjo, Selasa (28/8) (Dida Tenola/JawaPos.com)

Selain istrinya yang bernama Nuril Ukhrowiyah, ada teman Nusron di ruang tamu tersebut. Adalah Achmad Nizar Pratama. Pria yang juga bekerja sebagai driver ojol itu merupakan sosok yang paling bisa memahami tutur kata yang disampaikan Nusron.

Nizar, sapaan akrabnya, sekaligus menjadi penerjemah antara JawaPos.com dengan Nusron. ”Dulu saya tidak seperti ini,” ucap Nusron dengan artikulasi yang (maaf) gagap yang lantas diperjelas Nizar.

Nizar kemudian mengambil duduk di sebelah kanan Nusron. Sesekali, dia membisikkan pertanyaan ke telinga Nusron. ”Kalau ingin lebih jelas ngobrol sama mas Nusron ini di sebelah kanan. Telinga kanannya mendengar lebih baik ketimbang yang kiri,” ujar Nizar.

Nusron sebenarnya dilahirkan dengan kondisi normal. Petaka dialami saat dirinya berusia 4 tahun. Ketika itu, Nusron naik becak bersama ibunya. Saat turun dari becak, sebuah truk menabrak ibunya. Nusron kecil terlepas dari gendongan sang ibu.

Dia kemudian mengalami cedera parah di bagian kepala. Cedera itulah yang kemudian turut merusak saraf pendengarannya. ”Mas Nusron ini sama sekali nggak ingat kejadiannya. Dia dapat cerita dari saudara-saudarnya,” ungkap Nizar.

Semenjak saat itu, Nusron tidak bisa mendengar secara jelas. Kosa katanya juga terbatas. Kendati begitu, keterbatasan sama sekali tidak menggerus semangatnya untuk tetap berjuang dalam hidup.

Semasa muda, pria kelahiran 12 Januari 1982 itu tetap menempuh jalur sekolah umum. Dia tamatan STM jurusan kelistrikan. Selama sekolah, Nusron sudah kebal dengan berbagai bullying. Baginya, mau bagaimana orang mencemooh, toh dia tidak bisa mendengarnya.

Setelah tamat STM, Nusron bekerja. Dia bekerja di sebuah pabrik furniture dan perkakas di kawasan Surabaya Barat. Nusron menceritakan, dia pabrik itu dia tetap bisa produktif. ”Saya angkat barang-barang sampai 5 kg kuat,” katanya sembari mengacungkan lima jari.

Sebagai seorang buruh, Nusron punya dedikasi yang tinggi pada pekerjaannya. Namun meski sudah mengabdi sekitar 13 tahun, Nusron tidak kerasan kerja di sana.

Tempat kerjanya menempuh jarak yang jauh. Selain itu, Nusron pernah difitnah teman-temannya. Suatu hari, kantornya dibobol maling. ”Yang dituduh saya. Saya mangkel,” tuturnya sambil mengelus dada.

Selepas bekerja di Surabaya, Nusron pindah ke rumah mertunya di Sidoarjo. Dua tahun lalu, dia mendaftar ke Go-Jek. Pekerjaan itu direstui keluarganya.

Sebagai driver Go-Jek, Nusron bekerja keras setiap hari. Pagi sampai malam, panas maupun hujan. ”Kalau hujan, Mas Nusron ini berani ngambil order di saat yang lainnya males,” ucap Nizar.

Nusron lebih sering mengambil order Go-Food. Sebab menu itu lebih memudahkannya. Dia tidak perlu banyak berbicara kepada penjual makanan yang dipesan oleh kustomer. Dia cukup menunjukkan layar smartphone-nya untuk menjelaskan detail pesanan.

Salah satu kendala yang dihadapi Nusron apabila tenant makanan tersebut ramai. Dari sini biasanya terjadi kesalahan order. ”Kalau lagi ramai kan penjualnya sibuk, tidak terlalu memperhatikan pesanan yang disodorkan mas Nusron. Akhirnya salah order. Tapi tetap yang disalahkan customer ya mas Nusron, bukan tenantnya,” papar Nizar.

Pernah juga Nusron berhadapan dengan pelanggan yang jahil cenderung jahat. Ceritanya berawal saat dirinya mendapat pesanan makanan cepat saji. Nusron terlanjur membayarnya senilai Rp 170 ribu. Bagi Nusron, itu bukanlah nominal yang sedikit.

Di saat makanan sudah dibayar, pelanggan malah membatalkan pesanannya. ”Alasannya karena handphonenya dipakai mainan sama temannya. Dia nggak ngerasa pesan,” cerita Nizar.

Nusron kemudian menghubungi Nizar. Nizar yang iba kemudian membantunya. Makanan itu kemudian dijual lagi ke orang-orang yang sedang nongkrong di kawasan Magersari, Sidoarjo.

Nusron sangat beruntung mempunyai Nizar sebagai partner kerja. Selama ini, Nizar yang benar-benar peduli dengannya. Dia kerap curhat dengan problem yang dihadapi saat bekerja. Nizar pun meladeni dengan ikhlas tanpa berharap imbalan apapun.

Saat mendapat penumpang, tidak sedikit pula yang membatalkan. ”Kalau ditelepon itu kan susah. Bicaranya mas Nusron ini kan kurang jelas, jadi dicancel sama pelanggan,” imbuh Nizar.

Kendati demikian, Nusron tidak pernah sakit hati dengan penumpang yang membatalkan order Go-Ridenya. Dia bisa memahami keterbatasan komunikasi yang menjadi kendala mereka.

Sebagai kepala rumah tangga, sosok Nusron dikenal sebagai ayah yang bertanggung jawab. Nuril, istrinya, bisa menerima keterbatasan Nusron. Saat pertama kali berkenalan, Nuril sudah siap dengan segala kondisi Nusron. ”Dulu dikenalkan teman. Sudah dibilangi, ini orangnya istimewa, pokoknya beda dengan lainnya,” kenang Nuril.

Jika Tuhan sudah menetapkan takdirnya, tidak ada satupun ciptaan-Nya yang bisa membendungnya. Nusron digariskan untuk berjodoh dengan Nuril. Tahun 2009 mereka berdua melangkah ke pelaminan. Dari pernikahannya, keduanya dikaruniai seorang putri.

Sebagai isti, Nuril hanya bisa memanjatkan doa dan terus menyupport suaminya. Termasuk pekerjaan Nusron sebagai driver ojol. ”Saya dukung pekerjaannya Mas. Selama tekadnya kuat, nafkah berapapun asal halal, saya sepenuhnya mendukung,” sambung Nuril.

Nusron memang ingin menjadi dirinya sendiri. Dengan tegas dia tetap akan terus bekerja selama tenaganya kuat menopang badan. Dia menolak untuk dikasihani. Perjuangan hidupnya menjadi inspirasi bagi orang lain yang masih diberi kelengkapan oleh Sang Maha Pencipta. ”Saya ingin bisa bekerja. Nggak mau orang kasihan, tapi saya diam saja di rumah,” tegasnya.

(did/JPC)

Berita Terkait

Rekomendasi

berita hari ini

Sign In

Belum memiliki aku? Sign Up