JawaPos Radar

Belum Tentukan Sikap, PBB Mengaku Manut Sama Ulama

12/08/2018, 15:03 WIB | Editor: Fadhil Al Birra
Yusril Ihza Mahendra, Pilpres 2019, PBB pilpres 2019
Ketum PBB Yusril Ihza Mahendra. (Dok. JawaPos.com)
Share this image

JawaPos.com - Calon Presiden (Capres) dan Calon Wakil Presiden (Cawapres) telah muncul dua pasang. Mereka adalah Joko Widodo - Ma'ruf Amin dan Prabowo Subianto - Sandiaga Uno. Meski demikian, Partai Bulan Bintang (PBB) tampaknya belum mau menentukan sikap. PBB sementara ini masih menempatkan diri di tengah. Belum mendukung Prabowo-Sandi atau pun mendukung Jokowi-Ma’ruf.

Ketum PBB Yusril Ihza Mahendra bahkan membantah tudingan yang menyebut bahwa partainya itu tidak mendukung ijtimak ulama. “Lha, kami ini Partai Islam. Kalau tidak manut sama ulama, manut sama siapa lagi? Masa kami manut sama orang yang teriak-teriak di medsos,” katanya dalam keterangan tertulisnya, Minggu (12/8).

Menurut Yusril, ijtimak ulama memutuskan mendukung Prabowo sebagai Capres dan salah satu dari dua ulama, yakni Ustad Abdul Samad atau Habib Salim Segaf Aljufri sebagai Cawapres. Tetapi yang diputuskan oleh partai-partai koalisi keumatan yang tidak pernah ngajak PBB untuk musyawarah, justru bukan ulama, melainkan Sandiaga Uno, seorang pengusaha.

“Karena yang dipilih bukan ulama, ya PBB tunggu dulu. Bagaimana petunjuk ulama yang berijtimak di Hotel Peninsula itu. Kan mereka yang memutuskan,” jelas Yusril.

Yusril mengaku ketika sedang menunggu hasil ijtimak ulama Jilid II, pihaknya banyak mendapat 'gempuran' lantaran masih netral dan tidak segera mendukung Prabowo-Sandi. “Malah ada yang menuduh saya mengkhianati komando para ulama. Lha, yang berkhianat tidak memilih pendamping Prabowo adalah seorang ulama, siapa? Memang saya?” tanya Yusril.

Selama ini, Yusril mengaku tidak ikut-ikutan dan sama sekali tidak pernah diajak bicara oleh partai-partai koalisi keumatan itu. Sementara pada kubu sebelah, Jokowi, yang tidak dikomando ulama mana pun, malah memilih seorang ulama. yakni Kiai Ma’ruf yang juga Ketua Majelis Ulama Indonesia dan Rais Am PB NU.

"Ijtimak Ulama Jilid I memutuskan mendukung Prabowo sebagai Presiden dan salah satu dari dua ulama sebagai wakilnya. Tetapi keputusan itu tidak ditaati. Sementara Jokowi yang tidak disuruh oleh ulama manapun, malah memilih ulama menjadi cawapresnya. Saya berharap ijtimak ulama Jilid II dapat menjernihkan dan menjawab pertanyaan ini," kata Yusril.

Yusril menambahkan bahwa ijtimak ulama Jilid II memang dilematis. Kalau ada ijtihad baru yang membatalkan keputusan semula, yakni memberikan legitimasi kepada Prabowo yang telah memutuskan memilih bukan ulama menjadi Cawapresnya, para ulama harus menunjukkan dengan jelas rujukan nash syar’i yang menjadi dasar keputusannya. "Salah-salah mengambil keputusan bisa menyebabkan merosotnya wibawa ulama di mata umat," tuturnya.

Sementara belum ada keputusan ijtimak ulama Jilid II, PBB kini berada di tengah. PBB juga memohon kejelasan keberadaan Kiai Ma’ruf Amin yang kini sudah resmi menjadi cawapresnya Jokowi dari para ulama peserta ijtimak ulama Jilid II. Pasanya, sejak awal PBB telah mengatakan tidak akan mendukung Jokowi sebagai Capres 2019. “Kami, PBB manut kepada para ulama,” pungkaas Yusril.

Sekadar informasi, Gerakan Nasional Pengawal Fatwa (GNPF) belum menentukan sikap soal terpilihnya Sandiaga Uno sebagai Cawapres Prabowo Subianto. GPNF menyatakan akan menggelar ijtimak ulama Jilid II sebelum perayaan Idul Adha, 22 Agustus 2018 mendatang.

(fab/JPC)

Berita Terkait

Rekomendasi

berita hari ini

Sign In

Belum memiliki aku? Sign Up