JawaPos Radar

Tim Himapala Unesa Gelar Ekspedisi Sungai Bengawan Solo

12/08/2018, 09:45 WIB | Editor: Budi Warsito
Tim Himapala Unesa Gelar Ekspedisi Sungai Bengawan Solo
Tim Himapala Unesa yang melakukan ekspedisi dari Hulu ke Hilir Sungai Bengawan Solo (Istimewa)
Share this image

JawaPos.com - Himpunan Mahasiswa Pecinta Alam (Himapala) Universitas Negeri Surabaya (Unesa) melakukan ekspedisi Sungai Bengawan Solo. Diprediksi, Minggu (12/8), rombongan akan tiba di Hilir Sungai Bengawan Solo pada Minggu (12/8) besok. Puluhan peserta tersebut melaksanakan pengarungan sepanjang 498 km, mulai Hulu-Hilir.

Tim yang terdiri dari 10 peserta itu berangkat dari Bendungan Serbaguna Wonogiri, Senin (16/7) lalu. Mereka dilepas oleh pihak Perum Jasa Tirta. Petualangan mereka akan berakhir di wilayah Hilir di Desa Pangkahwetan, Kecamatan Ujungpangkah, Kabupaten Gresik, Jawa Timur (Jatim).

Tak hanya mengarungi Sungai Bengawan Solo, para mahasiswa itu melakukan penelitian muatan air dan analisa ekonomi, sosial dan budaya masyarakat sekitar sungai. Hasil temuan dari pengarungan Bengawan Solo ini nantinya, akan dijadikan bahan penelitian dan buku.

Tim Himapala Unesa Gelar Ekspedisi Sungai Bengawan Solo
Tim Himapala Unesa yang melakukan ekspedisi dari Hulu ke Hilir Sungai Bengawan Solo (Istimewa)

Ketua Tim Ekspedisi Sungai Bengawan Solo, Syahrul Khoir mengatakan,hasil penelitian Sungai Bengawan Solo yang melegenda akan disebarkan sebagai bahan bagi pegiat lingkungan, relawan, akademisi dan masyarakat pada umumnya. Sehingga tim memiliki pesan tersendiri kepada seluruh khalayak umum. Buku itu, berisi muatan pengarungan sungai Bengawan Solo dari Hulu-Hilir.

"Bahwa saat ini, Bengawan Solo mengundang perhatian khusus ketika sudah banyak kerusakan lingkungan yang terjadi," kata Syahrul, Sabtu (11/8).

Ia melanjutkan, muatan pengamatan air dan analisa ekososbud tim ekspedisi Bengawan Solo Hulu-Hilir mencatat adanya pencemaran sungai sepanjang Hulu-Hilir Bengawan Solo. Pencemaran itu terjadi di daerah Sukoharjo, Jawa Tengah (Jateng) hingga daerah Ngawi, Jatim.

Pencemaran sungai katanya, didominasi oleh limbah rumah tangga, hingga limbah industri rumahan dan pabrik. Limbah industri yang ditemukan adalah limbah industri tekstil dan limbah bahan kimia. Di wilayah Sragen hingga Ngawi, warna air sungai hitam pekat disertai bau menyengat dan menimbulkan gatal di kulit.

"Apabila menyentuh kulit terasa gatal dan air sungai sudah tidak layak konsumsi. Selain itu, tim juga kerapkali menemui ikan-ikan di sungai munggut akibat dari pencemaran limbah industri," terangnya.

Diterangkannya, memasuki kawasan Bojonegoro, warna air kembali coklat warna normal air sungai. Sejak pertemuan antara anak sungai Bengawan Solo di daerah Cepu - Padangan. Namun, ditemukan adanya tumpahan minyak di aliran sungai. Diperkirakan, tumpahan minyak itu berasal dari tumpahan oli dari penambang pasir yang mendominasi di daerah Margomulyo hingga kawasan Kalitidu.

Daerah Aliran Sungai memberi pengaruh besar terhadap warga sekitar bantaran Sungai Bengawan Solo. Melalui analisa tim terbukti, air Sungai Bengawan Solo masih menjadi sumber air warga. Selain itu juga induk untuk irigasi persawahan dan masih menjadi sumber air alami untuk warga di sekitaran Margomulyo, Bojonegoro.

(yud/JPC)

Berita Terkait

Rekomendasi

berita hari ini

Sign In

Belum memiliki aku? Sign Up