JawaPos Radar

Lewat Tenun, Torajamelo Selamatkan Perempuan dari Kemiskinan

12/08/2018, 09:00 WIB | Editor: Nurul Adriyana Salbiah
kain tenun, keindahan kain tenun, torajamelo, kain nusantara, torajamelo,
Dinny Jusuf dan Torajamelo bersama penenun bercerita seputar perjuangan penenun perempuan di Toraja (Rieska Virdhani/JawaPos.com)
Share this

JawaPos.com - Tak hanya dikenakan saat acara formal, kain nusantara telah menjadi salah satu barang fashion yang dicari. Meski kain nusantara seperti tenun, memiliki nilai ekonomis yang mahal harganya. Namun, nasib para perajin dan penenun di berbagai pelosok di Indonesia membutuhkan perhatian ekstra karena masih dalam keadaan terhimpit ekonomi. 

Didominasi oleh kaum perempuan, Torajamelo akhirnya turut berperan aktif dalam mengatasi kemiskinan dan kekerasan yang mereka alami. Torajamelo adalah komunitas yang peduli dengan seni dan budaya khususnya dalam bidang tenun, dan memiliki tujuan serta visi untuk memberikan kehidupan yang lebih baik bagi para perempuan penenun, sekaligus melestarikan dan meremajakan seni budaya tekstil tenunan tangan Indonesia.

"Bayangkan kami naik turun gunung di Toraja bertemu para penenun. Mereka saat ditanya berapa harganya, hanya minta ganti ongkos benang saja. Padahal itu membuatnya rumit berbulan-bulan dan biaya itu tak dihitung oleh mereka. Lalu kami ajarkan bagaimana itu bisa meningkatkan kesejahteraan mereka dengan hitungan yang lebih adil," tegas Desainer dan Aktivis Perempuan Pendiri Torajamelo, Dinny Jusuf, baru-baru ini di Museum Tekstil.

Keseriusan Torajamelo dalam membina para perempuan penenun di beberapa desa di Toraja selama 10 tahun terakhir ini membawa banyak kemajuan. Salah satunya dipamerkannya hasil karya para penenun, yang berdampingan dengan koleksi dari negara Asia lain.

Tentunya membutuhkan dedikasi dan semangat yang tinggi dari tim Torajamelo untuk membina para penenun di daerah-daerah terpencil untuk membuat kain tenun tangan asli yang memiliki banyak ragam keunikan dari masing-masing daerah tersebut. Dinny Jusuf menceritakan bahwa awal berdirinya Torajamelo didasari kecintaannya akan kain tradisional Nusantara, khususnya kain tenun. Karena suaminya berasal dari Toraja, Dinny Jusuf ingin berbuat sesuatu untuk daerah keluarga suaminya tersebut.

“Saya mendirikan Torajamelo karena saya melihat masih banyak kemiskinan dan kekerasan yang dialami para perempuan di pedesaan sehingga saya pun tergerak ingin membantu agar para perempuan di desa-desa terpencil di seluruh Indonesia dapat bangkit dan memperbaiki kehidupannya. Harapan saya,mereka dapat menambah penghasilan sekaligus juga menghidupkan seni dan budaya menenun di Indonesia agar tetap lestari karena saat ini sudah banyak yang ditinggalkan," jelasnya.

Menurutnya, keseriusan dan dedikasi dibutuhkan untuk membina para perempuan penenun yang tinggal di daerah terpencil agar dapat mandiri dan berdikari. Torajamelo percaya bahwa kita semua berperan agar kain tenun dapat tetap eksis dan menjadi warisan bangsa, dan jangan sampai di klaim oleh negara lain.

Untuk itu Torajamelo pun menghormati para perempuan penenun sebagai artisan dan menghargai hasil karya kain tenun mereka dengan harga yang pantas. Hal ini mereka lakukan untuk menyakinkan para penenun bahwa kain tenun merupakan pekerjaan yang menjanjikan, yang dapat menjadi sumber penghasilan mereka.

"Hingga kini, banyak sudah tertarik untuk terus berkarya dengan menenun sekaligus merangsang generasi muda untuk tertarik terjun menjadi penenun," papar Dinny Jusuf.

Torajamelo didirikan pada tahun 2008 di Toraja dan bertujuan untuk menghentikan kemiskinan dan kekerasan perempuan melalui kain tenun. Torajamelo lebih memfokuskan kepada pengembangan komunitas penenun, khususnya penenun yang menggunakan alat tenun gedhog, sehingga mereka dapat menghasilkan uang sembari bekerja dari rumah dan tetap dapat menjaga keluarga mereka.

Dengan suksesnya kerja Torajamelo di Toraja serta atas permintaan banyak komunitas, maka sejak tahun 2013 Torajamelo merambah ke Mamasa, Sulawesi Barat untuk membina para perempuan penenun di sana. Pada tahun 2014, Torajamelo bekerjasama dengan PEKKA (Asosiasi Perempuan Kepala Keluarga) dan memulai kerja di pulauAdonara dan Lembata di Nusa Tenggara Timur. Secara keseluruhan Torajamelo bekerjasama dengan komunitas penenun yang terdiri dari sekitar seribu perempuan penenun. Mulai tahun 2018, ketika para penenun di keempat daerah tersebut sudah mandiri dan stabil sebagai pemasok kain tenun, maka Torajamelo kemudian lebih memfokuskan diri untuk meningkatkan sisi bisnis mereka.

Dari sisi bisnis, Torajamelo menghasilkan lini mode, aksesoris dan produk cinderamata berkualitas tinggi. Semuanya dibuat dari kain tenun tangan asli dari semua daerah kerja Torajamelo. Tim Torajamelo fokus pada desain yang modis, fungsional dan berkualitas tinggi, yang bisa diperkenalkan dan dipasarkan baik di Indonesia maupun di mancanegara.

"Kami bersama pelaku kreatif muda tentunya sangat dibutuhkan oleh daerah-daerah terpelosok, untuk dapat mengindentifikasi warisan lokal untuk dapat di inovasikan menjadi produk-produk yang berdaya ekonomi tinggi. Kami pun ingin mendorong dan membantu pengembangan potensi ekonomi kreatif lokal”, tutup Dinny Jusuf. 

(ika/JPC)

Berita Terkait

Rekomendasi

berita hari ini

Sign In

Belum memiliki aku? Sign Up