JawaPos Radar

Brigade Orgil, Sebuah Ironi di Negeri Gilabeh

12/08/2018, 01:05 WIB | Editor: Kuswandi
Brigade Orgil
Cak Lontong, Akbar dan Inayah Wahid, saat berakting dalam pertunjukkan teater Indonesia Kita dengan tajuk 'Brigade Orgil' Jumat (10/8) malam (Didi Mugitriman/Kayan Procuction)
Share this

JawaPos.com – “Emang lagi manja, lagi pengin dimanja. Pengin berduaan dengan dirimu saja. Emang lagi syantik, tapi bukan syok syantik, syantik-syantik gini hanya untuk dirimu” demikian penggalan lirik lagu ‘Lagi Syantik’ yang dinyanyikan Inayah (Inayah Wahid) dengan suara fals dan badan lenggak lenggok ala pedangdut Siti Badriyah, dalam awal pertunjukkan teater Indonesia Kita bertajuk ‘Brigade Orgil’, di Graha Bhakti Budaya Taman Ismail Marzuki, Jakarta, Jumat (10/8) malam.

Bukannya pada senang, semua orang yang mendengar Inayah bernyanyi dan menari seperti Mucle (Mukhlas), Ence Bagus, dan Joseph Ginting justru menutup telinganya. Tak terkecuali dengan bapaknya, (Sri Slamet Sumarwoto). Ini karena suara Inayah cempreng tak semerdu yang didendangkan penyanyi aslinya.   

Padahal Inayah baru saja lulus les vokal dari Ubiet (Nyak Ina Raesuki) gurunya. Sehingga dia sangat percaya diri jika suaranya dapat didengar merdu olah semua orang.

Brigade Orgil
Bedu, Nungki Kusumastuti, Marwoto dan Joseph saat berakting dalam pertunjukkan teater Indonesia Kita dengan tajuk 'Brigade Orgil' Jumat (10/8) malam (Didi Mugitriman/Kayan Production)

Sekilas penampilan Inayah ini bak seorang normal biasa, tanpa ada yang curiga jika dia sebenarnya merupakan pasien sebuah rumah sakit jiwa di Negeri Gilabeh (Gila kabeh/gila semua).

Tak berapa lama, Cak Lontong (Lies Hartono) dan Akbar ajudannya (Insa Nur Akbar) pun datang dengan mendorong tas besar berisi peralatan golf. Bak konglomerat, Lontong pun tampak asyik memeragakan cara memegang stik dan memukul bola golf dengan dibantu oleh sang ajudan.

Sementara itu, tak mau kalah dengan Lontong, Bedu (Bedu Tohar) pun tiba-tiba datang dan ikut memainkan hobi mahal yang biasa dimainkan oleh orang-orang berduit tersebut. Dia tampak piawai mengayunkan stik golf, bak pegolf dunia,Tiger Woods.

Demikian penggalan cerita dalam pertunjukkan ke -29 teater yang di sutradarai oleh Agus Noor tersebut.

Sekilas, orang-orang yang hidup di Negeri Gilabeh ini tampak seperti orang normal biasa. Inayah, Marwoto, Cak Lontong, Akbar, Mucle, Bedu, Encek Bagus dan beberapa pemain lainya beraktivitas seperti orang normal pada umumnya. Padahal semuanya adalah orang-orang gila.

Di negeri ini, diceritakan, semuanya penduduknya telah terjangkit virus gila. Semua orang seperti terserang kegilaan, lalu mereka teringat sebuah ramalan, bahwa pada suatu hari akan datang wabah aneh yang membuat semua orang menjadi kehilangan kewarasan.

Wabah aneh ini memuncak ketika tak seorang pun mau menjadi pejabat atau pemimpin, dan Negeri Gilabeh terancam vakum. Bagaimana tidak khawatir akan kevakuman, apabila yang terjadi ketika dilakukan pemilihan umum, yang menang justru kotak kosong?, bagaimanapun Negeri Gilabeh tak boleh bubar.

Di tengah kegilaan, maka orang gila menjadi tidak nampak gila. Bahkan sebaliknya, di tengah wabah kegilaan, orang yang tak gila justru terlihat gila.

“Pasien dengan nomor 1000 KM bolak balik, gejala mendapat predikat sebagai pasien berprestasi selama lima detik, yaitu..... Cak Lontong!,” kata Dokter Bowo yang juga ternyata merupakan pasien di RS. Jiwa Kali Item.

Seperti pertunjukkan-pertunjukkan sebelumnya, dalam pentas kali ini, Cak Lontong dengan gaya satir humornya, dengan dibantu oleh Akbar berhasil mengocok perut ratusan penonton yang memadati ruang teater. Pertunjukkan juga bertambah lucu dengan dibumbui oleh guyonan Marwoto dan Bedu.

Meskipun tergolong baru di dunia teater, peran Inayah dengan joke-joke satirnya yang merefleksikan situasi dan kondisi perpolitikan tanah air, juga turut membuat gelak tawa penonton terpingkal-pingkal tiada henti. Tak ketinggalan pula akting mahasiswa-mahasiswi Fakultas Seni Pertunjukkan Institut Kesenina Jakarta (FSP IKJ) juga turut membuat latar pertunjukkan bertambah warna.

Banyaknya humor yang memancing gelak tawa penonton memang bisa membuat durasi waktu pertunjukkan sekitar tiga jam menjadi tak terasa lama. Namun, banyaknya gelak tawa tersebut sedikit mengurangi pesan atau makna yang ingin dikomunikasikan kepada penonton. Diharapkan, pertunjukkan selanjutnya, bisa diperbaiki, sehingga antara pesan dan hiburan terjalin seirama.   

 

 

(wnd/JPC)

Berita Terkait

Rekomendasi

berita hari ini

Sign In

Belum memiliki aku? Sign Up