JawaPos Radar

Sandiga Disebut Beri Mahar Rp 500 Miliar

KPK Dinilai Perlu Tindak Lanjuti Soal Pernyataan Andi Arief

11/08/2018, 10:32 WIB | Editor: Kuswandi
Sandiaga Uno
Sandiaga Uno (paling kanan), saat mendaftarkan diri menjadi pasangan capres-cawapres bersama Prabowo Subianto, di kantor KPU, Jakarta, Jumat (10/08) (Issak Ramadhan/JawaPos.com)
Share this image

JawaPos.com - Wakil Sekretaris Jenderal Partai Demokrat, Andi Arief menyebut tiga partai, Gerindra, PKS dan PAN sudah diberi uang Rp 500 miliar dari Wakil Gubernur DKI Jakarta Sandiaga Uno‎. Ini dilakukan agar Sandi  bisa menjadi cawapres Prabowo Subianto.

Ketua DPP Partai Hati Nurani Rakyat (Hanura), Benny Rhamdani mengatakan‎, Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) perlu melakukan penyelidikan terkait informasi yang disampaikan oleh Andi Arief terkait Sandiaga Uno yang diduga membayar Rp 500 miliar ke PKS, PAN dan Gerindra.

Perlunya KPK melakukan penyelidikan atas informasi tersebut, karena Sandiaga Uno adalah sebagai penyelenggara negara yang disebut-sebut telah mengeluarkan dana sebesar Rp 1 triliun.

"Apakah dana Rp 1 triliun dimaksud diambil dari dana milik pribadi yang sudah dilaporkan dalam LHKPN ke KPK saat dilantik sebagai wagub atau dana Rp 1 trilun itu diperoleh dari sumber lain," ujar Benny dalam keterangannya yang diterima JawaPos.com, Sabtu (11/8).

Kata Benny, jika dana Rp 1 triliun itu bersumber dari pihak ke tiga, maka Sandiaga Uno patut diduga sudah menerima gratifikasi. Karena terkait dengan jabatan wakil gubernur yang mau jadi cawapres.

Tindakan Sandiaga Uno, sekiranya benar maka KPK perlu mengusut berdasarkan dugaan tipikor melanggar pasal 12 UU Nomor 20 Tahun 2001 tentang Tindak Pidana Korupsi, dengan ancaman pidana maksimum 20 tahun.

Selain KPK menyelidiki dari aspek tindak pidana korupsi, maka Bawaslu juga harus menyelidiki praktek politik uang yang diduga dilakukan oleh Sandiaga Uno. Pasanya ini terkait dana politik dalam proses pencalonan pilpres 2019 yang dilarang oleh UU.

"Dengan demikian maka Paket Prabowo dan Sandiaga Uno, ibarat bayi lahir prematur dan mati, karena dibunuh oleh pokitik uang dan dugaan tindak pidana korupsi," pungkasnya.

Sebelumnya, Wakil Sekretaris Jenderal Partai Demokrat, Andi Arief mengatakan pihaknya kaget karena Prabowo melakukan hal yang di luar dugaan.

Kata dia, Wakil Gubernur DKI Jakarta dan juga Wakil Ketua Dewan Pembina Partai Gerindra Sandiaga Uno 'ngotot' menjadi cawapres Prabowo Subianto dengan membayarkan mahar.

Andi menambahkan, Sandiaga merayu Gerindra‎, Partai Keadilan Sejahtera (PKS) dan juga Partai Amanat Nasional (PAN) dengan imbalan uang sebesar Rp 500 milar. Sehingga bisa memuluskan langkahnya menjadi cawapres Prabowo Subianto.

Menurut Andi, Prabowo dengan ketua umumnya Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) melakukan pertemuan pada Selasa (7/8) malam dengan adanya kesepakatan-kesepakatan. Namun semuanya berubah hanya dalam hitungan jam.

(gwn/JPC)

Berita Terkait

Rekomendasi

berita hari ini

Sign In

Belum memiliki aku? Sign Up