JawaPos Radar

Peneliti Prediksi Jumlah Perokok Lebih Cepat Berkurang

10/08/2018, 23:52 WIB | Editor: Dyah Ratna Meta Novia
Peneliti Prediksi Jumlah Perokok Lebih Cepat Berkurang
Pengembangan teknologi yang terdapat dalam produk tembakau alternatif seperti rokok elektrik atau vape dan produk tembakau yang dipanaskan bukan dibakar dapat mengubah proses pembakaran tembakau menjadi pemanasan (Reuters)
Share this

JawaPos.com - Sebagai negara dengan jumlah angka perokok terbesar ketiga di dunia, Indonesia masih memiliki tantangan besar untuk mencari solusi atas permasalahan tersebut. Dewan Penasihat Himpunan Peneliti Indonesia (HIMPENINDO) yang juga merupakan Peneliti Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) Erman Aminullah berpendapat, pemanfaatan inovasi teknologi pada produk tembakau alternatif dapat menjadi salah satu solusi untuk menurunkan jumlah perokok di Indonesia.

“Pengembangan teknologi yang terdapat dalam produk tembakau alternatif seperti rokok elektrik atau vape dan produk tembakau yang dipanaskan bukan dibakar dapat mengubah proses pembakaran tembakau menjadi pemanasan. Dengan berubahnya proses tersebut maka tar sebagai senyawa paling berbahaya pada rokok dapat dieliminasi sehingga risiko kesehatannya menjadi lebih rendah," ujar Erman, Jumat, (10/8).

Dalam perspektif teknologi disruptif, kemampuan untuk menurunkan tingkat risiko ini dapat berpotensi mengubah pola kecenderungan konsumsi perokok yang memutuskan untuk tetap merokok agar mendapatkan produk tembakau alternatif yang lebih rendah risiko.

Menurut Erman, hasil pengembangan teknologi produk tembakau alternatif dapat memberikan pilihan lain bagi perokok yang tidak dapat berhenti. Namun, layaknya inovasi teknologi lainnya, penerimaan terhadap produk ini masih menghadapi berbagai hambatan, misalnya penerimaan dalam kehidupan sehari-hari perokok yang terbiasa dengan rokok konvensional dan belum memahami perbedaannya.

“Namun demikian, dilihat dari sudut pandang teknologi disruptif, meskipun rokok elektrik dan produk tembakau yang dipanaskan bukan dibakar masih memiliki berbagai tantangan. Karakteristik perokok yang sudah masuk ke ranah technology minded maka seharusnya perkembangannya bisa lebih signifikan,” ujar Erman.

Keyakinan tersebut, diperkuat dengan beberapa contoh kesuksesan dan keberhasilan inovasi teknologi di Indonesia. Seperti inovasi moda transportasi dari konvensional menjadi online yang pada awalnya sulit diterima berbagai pihak kini berkembang dengan pesat.

"Sepanjang didukung dengan bukti ilmiah dan penelitian yang kredibel. Serta meningkatnya pemahaman perokok atas produk tembakau alternatif yang menggunakan teknologi, maka hanya tinggal waktu para perokok akan beralih ke produk tersebut,” tambahnya.

Potensi atas produk tembakau alternatif ini pun mulai disadari oleh pemerintah dengan diterbitkannya Peraturan Menteri Keuangan No.146/PMK.010/2017 tentang Tarif Cukai Tembakau pada 1 Juli 2018. Melalui kebijakan ini, produk tembakau alternatif dikategorikan sebagai Hasil Pengolahan Tembakau Lainnya (HPTL) yang mencakup rokok elektrik atau vape, ekstrak tembakau seperti pada produk tembakau yang dipanaskan bukan dibakar, molase tembakau, tembakau hirup, dan tembakau kunyah.

(met/JPC)

Berita Terkait

Rekomendasi

berita hari ini

Sign In

Belum memiliki aku? Sign Up