JawaPos Radar

Tak Disangka, 2 dari 3 Penyandang Diabetes Tak Sadar Kena Sakit Gula

10/08/2018, 17:52 WIB | Editor: Nurul Adriyana Salbiah
penyakit diabetes, dinda kanya dewi, teman diabetes,
Teman Diabetes dan para narasumber dalam peluncuran aplikasi cek gula darah digital bersama artis Dinda Kanya Dewi. (Rieska Virdhani/JawaPos.com)
Share this image

JawaPos.com - Penyandang diabetes atau sakit kencing manis (gula darah tinggi) banyak tak sadar gula darahnya tak terkontrol. Seseorang baru mengetahui terkena diabetes ketika sudsh terkena komplikasi penyakit lain seperti gagal ginjal. Bahkan International Diabetes Federation (IDF) mencatat sebanyak 2 dari 3 orang yang terdiagnosis tidak mengetahui dirinya menyandang diabetes.

Prevalensi penderita diabetes di Indonesia tidak pernah menurun, tren menunjukkan jumlahnya selalu naik. Data ini juga bersumber dari organisasi kesehatan dunia WHO serta Kementerian Kesehatan atau Riskesdas.

Angka penyandang diabetes (diabetesi) di Indonesia menurut data IDF Diabetes Atlas pada 2015, Indonesia menempati peringkat ke-7 di dunia. Pada 2017, peringkat Indonesia naik menjadi negara ke-6. Angka penyandangnya diperkirakan lebih dari 10 juta orang.

Maka dari itu, aplikasi kesehatan Teman Diabetes mengadakan survei kepada 220 orang dengan kategori prediabetes, diabetesi, dan inner circle (anggota keluarga penyandang diabetes). Dalam survei ini ditemukan hanya 14,3 persen respinden mengukur gula darah rutin setiap hari.

"Banyak masyarakat tidak mengecek gula darahnya secara rutin. Yang cukup mengejutkan sebanyak 28,6 persen konsultasi ke dokter sekali dalam setahun," kata Co-Founder Teman Diabetes, Robyn Soetikno dalam konferensi pers, Jumat (10/8).

Diabetes adalah sebuah kondisi banyaknya kadar gula di dalam darah. Normalnya seseorang memiliki kadar gula darah 80-140 mg/dl dalam darah. Di dalam darah, kadar gula darah fluktuatif. Misalnya usai makan, kadar gula darah tinggi namun dapat kembali normal setelah dua jam pada orang dengan gula darah normal.

"Sebanyak 2 dari 3 orang terdiagnosis tak saar kena diabetes, sebagian besar mengakses layanan kesehatan dalam kondisi terlambat atau sudah komplikasi," katanya.

Ketua Perkumpulan Edukator Diabetes Indonesia (PEDI) Dr. dr. Aris, Sp.PD., KEMD., menjelaskan diabetes adalah disiplin untuk mengelola gaya hidup. Penyakit diabetes adalah penyakit katastropik atau berbiaya tinggi karena menyebabkan komplikasi.

"Sangat penting untuk diabetisi dan keluarga untuk mendapatkan informasi yang jelas mengenai gaya hidup sehat karena diabetes bukan sekadar kelola gula darah, tapi juga kelola gaya hidup," kata dr. Aris.

(ika/JPC)

Berita Terkait

Rekomendasi

berita hari ini

Sign In

Belum memiliki aku? Sign Up