JawaPos Radar

Novel Baswedan Minta Generasi Muda Berani Lawan Perilaku Korup

10/08/2018, 14:35 WIB | Editor: Kuswandi
Novel Baswedan
Penyidik senior KPK Novel Baswedan, saat memberikan pembekalan kepada peserta SAKTI 2018, Jumat (10/8) (Intan Piliang/JawaPos.com)
Share this image

JawaPos.com - Sekolah Anti Korupsi (SAKTI) 2018 yang digagas Indonesia Corruption Watch kembali dibuka. Dari hasil penjaringan, kali ini ada sekitar 23 orang peserta yang terpilih dari berbagai wilayah Indonesia. Mereka ada yang berasal dari Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT), Jambi, Riau, Serang, Makassar, Sumatera Barat, Sumatera Selatan dan Jawa Timur. Mereka akan dikarantina selama 10 hari dimulai hari ini hingga 19 Agustus mendatang.

Dalam acara kuliah perdana sebagai pembekalan, peserta tampak antusias mengikuti materi yang diberikan oleh Penasehat Wadah Pegawai KPK, Novel Baswedan dan juru bicara KPK Febri Diansyah. Tampak hadir dalam acara ini, di antaranya pengurus ICW seperti Adnan Topan Husodo, Tama S Langkun, Emerson S Yuntho, dan Lalola Ester.

Dalam paparannya, Novel meminta agar generasi muda untuk tidak kompromi dan permisif terhadap korupsi yang terjadi di Indonesia. Novel berharap, jika ada perilaku korup, maka generasi muda bisa mengambil peran untuk melawan. 

"Pelaku korupsi biasanya melibatkan keluarganya untuk menyembunyikan aksi korupsi, maka di sini peran generasi muda melawan," tegasnya di Jakarta, Jumat (10/8).

Sementara Febri menjelaskan, banyak hal yang bisa dilakukan dalam melakukan pemberantasan korupsi, dari hal kecil hingga yang besar.

"Ada pungutan di luar ketentuan yang enggak seharusnya, karena sudah ada nilai kejujuran maka tidak kompromi sama praktik korupsi," ujarnya.

Selain itu, ada juga hal lain sebagai bentuk perlawanan terhadap korupsi, di antaranya seperti terlibat gerakan antikorupsi atau mengikuti pemantauan peradilan, menanamkan nilai kejujuran.

"Mengajari anak atau adik atau yang sebaya dari kita untuk memegang nilai antikorupsi itu sendiri," pungkasnya.

Di lain pihak, atas kegiatan ini, salah satu peserta SAKTI atas nama Ronald Mardana mengatakan, tujuan dirinya mengikuti SAKTI karena ingin mendapatkan ilmu dan pengetahuan perihal pemberantasan korupsi yang nantinya bisa ditularkan kepada teman di daerahnya.

"Korupsi besar di Indonesia, di wilayah NTT. Kita sebagai kaum muda, nggak diam lihat maraknya praktik korupsi, ilmu dan pengetahuan di sini buat gerak berantas korupsi," tutur peserta asal NTT ini.

Dia juga berharap dengan adanya kegiatan ini nantinya dia bisa terus aktif sebagai generasi muda membuat perubahan dan terhindar dari perilaku korupsi.

(ipp/JPC)

Berita Terkait

Rekomendasi

berita hari ini

Sign In

Belum memiliki aku? Sign Up