JawaPos Radar

Publikasi Ilmiah Indonesia Kian Tinggalkan Singapura

10/08/2018, 03:20 WIB | Editor: Estu Suryowati
Publikasi Ilmiah Indonesia Kian Tinggalkan Singapura
Menristekdikti Mohamad Nasir pada Pembukaan Kegiatan Ilmiah dalam rangka Hari Kebangkitan Teknologi Nasional (Hakteknas) ke-23 di Pekanbaru Kamis (9/8). (Hilmi Setiawan/Jawa Pos)
Share this image

JawaPos.com - Indonesia kian memantapkan posisi kedua sebagai negara dengan jumlah publikasi internasional terbanyak di ASEAN. Jumlah publikasi Indonesia berada di posisi kedua dan kian meninggalkan Singapura di urutan ketiga.

Kabar terbaru terkait statistik publikasi ilmiah internasional itu disampaikan Menristekdikti Mohamad Nasir pada Pembukaan Kegiatan Ilmiah dalam rangka Hari Kebangkitan Teknologi Nasional (Hakteknas) ke-23 di Pekanbaru Kamis (9/8).

Nasir mengatakan, data terbaru pada 7 Agustus sekitar pukul 16.00 WIB publikasi internasional Indonesia berjumlah 16.528 publikasi. Posisi Indonesia di bawah Malaysia yang mencatatkan 17.211 publikasi.

Publikasi Ilmiah Indonesia Kian Tinggalkan Singapura
Menristekdikti Mohamad Nasir pada Pembukaan Kegiatan Ilmiah dalam rangka Hari Kebangkitan Teknologi Nasional (Hakteknas) ke-23 di Pekanbaru Kamis (9/8). (Hilmi Setiawan/Jawa Pos)

Sementara itu publikasi Singapura ada di angka 12.593 judul. "Indonesia dan Singapura selisih empat ribuan," katanya. Sedangkan publikasi Thailand hanya 9.595 publikasi. Sehingga menempatkan negeri "gajah putih" itu berada di peringkat empat.

Nasir menyampaikan apresiasi kepada ilmuan yang telah menelurkan publik internasional. Dia menjelaskan selama ini urusan riset tidak mendapatkan perhatian serius. Indikasinya pada 2015 lalu publikasi internasional Indonesia hanya di angka 5.400-an judul.

Sementara di saat yang sama publikasi Thailand mencapai sekitar sembilan ribu. Lalu publikasi Singapura 10 ribuan dan Malaysia sudah menyentuh angka 20 ribuan publikasi. "Betapa sedihnya bangsa ini, yang punya SDM besar. Dosennya saja berjumlah 260 ribu lebih," kata Nasir.

Akhirnya pemerintah membenahi infrastruktur regulasi terkait riset. Misalnya mengubah pola pelaporan pendanaan riset. Sehingga menjadi berbasis output. Dengan skema ini periset tidak lagi disibukkan dengan pelaporan keuangan yang merumitkan.

Melalui penggunaan uang dengan pelaporan berbasis output, yang dituntut adalah laporan berupa penerbitan publikasi atau pembuatan inovasi. "Dulu periset harus melaporkan penggunaan uang untuk perjalanan riset, membeli ATK (alat tulis kantor, Red) dan sejenisnya," katanya.

Sehingga ada guyonan, melaporkan keuangan untuk riset, lebih rumit ketimbang risetnya itu sendiri.

(wan/JPC)

Berita Terkait

Rekomendasi

berita hari ini

Sign In

Belum memiliki aku? Sign Up