JawaPos Radar

Eksperimen Telur Buktikan Cuka Tak Baik untuk Gigi

10/08/2018, 06:35 WIB | Editor: Novianti Setuningsih
Eksperimen Telur Buktikan Cuka Tak Baik untuk Gigi
Ilustrasi: Eksperimen menggunakan telur bisa membuktikan bahwa konsumsi cuka berlebih tak baik untuk gigi. (Pixabay)
Share this image

JawaPos.com - Menjaga kesehatan gigi dan mulut sangatlah penting. Namun sebagian masyarakat Indonesia di beberapa daerah masih memiliki tingkat kesadaran dan pengetahuan tentang kesehatan gigi dan mulut yang tergolong rendah. Sehingga, masalah karies atau karang gigi menjadi masalah utama yang sering dikeluhkan.

Hasil Riset Kesehatan Dasar (RISKESDAS) Nasional tahun 2013 menunjukkan angka karies gigi (DMF-T) rata-rata di Kota Batam, Kepulauan Riau adalah 4,9. Itu berarti dari 32 gigi yang dimiliki oleh masyarakat Kota Batam, Kepulauan Riau rata-rata 5 gigi di antaranya bermasalah. Keadaan ini diperparah dengan jumlah tenaga kesehatan yang jauh dari komposisi ideal.

Di Kota Batam, Kepulauan Riau, berdasarkan data Konsil Kedokteran Indonesia (KKI) tahun 2013, jumlah dokter gigi hanya 177 orang yang melayani kurang lebih 1.864.142 penduduk. Padahal rasio idealnya menurut data WHO adalah 1 dokter untuk 2.500 penduduk. Maka edukasi dilakukan oleh Formula (OT Group), dan Fakuktas Kedokteran Gigi FKG Trisakti, pada tanggal 6-11 Agustus 2018.

Eksperimen Telur Buktikan Cuka Tak Baik untuk Gigi
Suasana pemeriksaan gigi di Batam bersama Formula dan Fakultas Kedokteran Gigi Trisakti (dok.Formula)

"Selain kesadaran dan tingkat pengetahuan mengenai kesehatan gigi dan mulut yang masih rendah, ternyata kemajemukan budaya dan kebiasaan masing-masing daerah dapat juga menjadi pangkal permasalahan," kata Head of Corporate and Marketing Communication OT Harianus Zebua dalam keterangan tertulis, Kamis (9/8).

Misalnya saja kebiasaan masyarakat Palembang mengonsumsi makanan yang mengandung asam dan cuka, yang berakibat pada rentannya mereka mengalami pengeroposan gigi. Bahkan, di salah satu wilayah di Malang, ada fakta di mana masyarakatnya menggunakan satu sikat gigi bersama-sama.

"Tentu saja, bila hal tersebut dibiarkan tanpa didukung kegiatan yang sifatnya meningkatkan kesadaran dan pengetahuan masyarakat mengenai cara merawat gigi yang benar, maka permasalahan gigi dan mulut di Indonesia akan semakin memburuk," ujarnya.

Oleh karena itu, edukasi yang dilakukan adalah kegiatan pemeriksaan dan pengobatan gigi, serta percobaan “Eggsperimen”. Percobaan ini menggunakan medium kulit telur yang merupakan representasi gigi, sama-sama mengandung kalsium dan rentan terhadap serangan asam. Kulit telur yang sudah direndam dalam pasta gigi Formula relatif lebih kuat dan utuh jika dibandingkan kulit telur yang tidak direndam dalam pasta gigi Formula pada saat dimasukkan ke dalam cairan cuka.

Dekan FKG Trisakti Prof. Dr. drg. Tri Erri Astoeti, M.Kes menjelaskan kepada masyarakat akan pentingnya menjaga dan meningkatkan kesehatan gigi dan mulut melalui pendidikan kedokteran gigi. Di samping itu, kegiatan ini juga memberikan pengobatan gigi dan mulut bagi masyarakat termasuk anak-anak dan dewasa di Kota Batam, Kepulauan Riau.

"Diharapkan dapat meningkatkan kepedulian masyarakat untuk merawat kesehatan gigi dan mulut mereka. Kami harap tentunya, kerja sama ini dapat membantu pemerintah daerah mengatasi masalah gigi dan mulut, meningkatkan kesadaran masyarakat akan pentingnya menjaga kesehatan gigi dan mulut," tutup Prof. Erri.

(ika/JPC)

Berita Terkait

Rekomendasi

berita hari ini

Sign In

Belum memiliki aku? Sign Up