JawaPos Radar

Hindari Perdebatan, Sejarah Panjang Pancasila Mulai Dirumuskan

09/08/2018, 20:13 WIB | Editor: Sari Hardiyanto
Sejarah Pancasila
JUMPA PERS: Plt Kepala BPIP Hariyono (kedua dari kiri) didampingi rektor UNS Ravik Karsidi (ketiga dari kiri) saat memberikan keterangan kepada wartawan, Kamis (9/8). (Ari Purnomo/JawaPos.com)
Share this image

JawaPos.com - Badan Pembinaan Ideologi Pancasila (BPIP) berencana menerbitkan naskah sidang Badan Penyelidik Usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia (BPUPK). Guna mewujudkannya, BPIP akan menggandeng Arsip Nasional Republik Indonesia (ANRI) dan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud).

Hal ini bertujuan untuk memastikan bukti historis mengenai kapan Pancasila itu pertama kali dikemukakan. Di samping itu, upaya ini juga untuk mengetahui secara pasti mengenai misi dan visi para pemimpin pendiri bangsa.

"Tujuannya adalah agar bangsa kita energinya tidak habis untuk debat tanpa dasar atau bukti historis kapan pancasila itu pertama kali dikemukakan," terang Pelaksana tugas Kepala BPIP, Hariyono usai memberikan kuliah umum di Universitas Sebelas Maret (UNS) Solo, Kamis (9/8).

Selain itu, upaya ini juga ingin mengetahui bagaimana perdebatan yang terjadi di kalangan para pendiri bangsa kala itu. Sehingga, tidak hanya semata-mata berbicara mengenai naskah pancasilanya, tetapi juga cita-cita para pendiri bangsa. 

Dengan mengetahui sejarah tersebut, Hariyono menambahkan, maka ke depan tidak akan lagi ada perdebatan menurut versi yang beragam. Tetapi, semuanya harus bersumber pada dokumen yang otentik.

Menurutnya, upaya ini antara lain juga untuk mengetahui distorsi pemahaman Pancasila. "Sidang BPUPK itu berlangsung mulai tanggal 29 Mei sampai 1 Juni, selama itu ada sekitar 40 orang yang berpidato. Tetapi pidato tentang Pancasila sebagai dasar negara itu hanya terjadi pada tanggal 1 Juni, oleh bung Karno," urainya. 

Dan bung Karno, lanjutnya, inilah yang yang membuat pimpinan sidang BPUPK akhirnya membentuk panitia kecil yang terdiri delapan orang. Sedangkan selama ini banyak masyarakat tidak tahu bahwa panitia kecil bukanlah sembilan orang melainkan hanya delapan orang saja. Panitia kecil itu dibentuk di luar sidang BPUPK. Dan akhirnya naskah pidato 1 Juni dijadikan sebagai bahan dasar untuk merumuskan dasar negara. 

Sedangkan tujuan yang kedua kata Hariyono adalah untuk mengetahui visi dan misi pendiri bangsa waktu itu. Dan selama ini, upaya tersebut terbentur dengan minimnya data. Maka dari itu, BPIP ingin bisa menampilkan dokumen otentik sesuai dengan isinya. "Sehingga bangsa kita bisa berdamai dengan sejarahnya, supaya ini tidak menjadi beban sejarah masa sekarang dan mendatang. Harus kita akui sebagai bangsa besar sering kali lupa dengan dokumen kita sendiri," ungkapnya.

(apl/JPC)

Berita Terkait

Rekomendasi

berita hari ini

Sign In

Belum memiliki aku? Sign Up