JawaPos Radar

Gara-gara Kuliah S2, Guru SDLB di Tuban Dipecat

09/08/2018, 20:00 WIB | Editor: Yusuf Asyari
Gara-gara Kuliah S2, Guru SDLB di Tuban Dipecat
Guru Tidak Tetap (GTT) di Sekolah Dasar Luar Biasa (SDLB) Negeri di Kabupaten Tuban, Setiawan Gema Budi. (Yudi Handoyo/JawaPos.com)
Share this

JawaPos.com - Setiawan Gema Budi, seorang Guru Tidak Tetap (GTT) diputus kontraknya diduga gara-gara menempuh program S2 sambil tetap mengajar. Guru yang menyandang tuna netra tersebut sepihak diputus dari Sekolah Dasar Luar Biasa (SDLB) Negeri di Kabupaten Tuban.

Setiawan mengatakan, sampai saat ini belum jelas apa yang menyebabkan dirinya dikeluarkan oleh pihak sekolah. Bahkan, sampai saat ini merasa dipersulit pihak sekolah, untuk kuliah sambil mengajar.

Padahal, dia telah mengabdi selama kurang lebih setahun. "Padahal sebelum menempuh kuliah saya telah koordinasi dengan Dinas Pendidikan Kabupaten Tuban dan sudah diizinkan untuk menempuh S2," kata Setiawan, Kamis (9/8).

Dirinya menambahkan, melalui kebijakan Kepala Sekolah (Kepsek), setiap GTT semestinya diberi hak untuk melanjutkan S2. Sedangkan, Kepsek cukup mengetahui, dan tidak perlu surat pengantar belajar dari Dinas Pendidikan. Kendati demikian, setelah terdaftar menempuh S2, pihak sekolah justru memecatnya tanpa alasan yang jelas.

"Jauh-jauh hari saya juga pernah negosiasi dengan Kepsek, dan bilang iya mengizinkan kuliah lagi. Anehnya lagi saya tidak dikasih SP3 tapi langsung dipecat sepihak," bebernya.

Akibat pemecatan sepihak, dirinya mengaku kebingungan mau berbuat apa. Sebab, sesuai Peraturan Daerah (Perda) yang mengatur penyandang disabilitas masih digodok di DPRD Tuban. Apabila mau dibawa ke ranah hukum, tentu belum kuat karena belum ada payung hukumnya.

"Kasus serupa pernah terjadi di Kabupaten Bojonegoro. Disana persoalan ini bisa diselaikan, dengan hasil GTT bisa kuliah dengan tetap aktif mengajar," ungkap pria yang juga menjadi Ketua Persatuan Tunanetra Indonesia (Pertuni) Tuban ini.

Dirinya memaparkan, saat ini namanya sudah masuk di sistem dan untuk bisa tetap mengajar di SDLB Negeri. Jadwal kuliahnya pun hanya masuk dua hari.

"Sebelumnya saya sempat konsultasi dengan Dinas Pendidikan Provinsi Jatim. Hasilnya dinas merestuinya, karena PNS saja disetujui apalagi yang guru kontrak untuk kuliah," ungkapnya.

Terpisah, Kepala SDLB Negeri Tuban, Hendro Yulianto, menampik kalau Setiawan diputus kontrak gara-gara melanjutkan studinya. Keluarnya GTT tersebut atas kemauannya sendiri, bukan karena pihak sekolah. "Siapa yang diputus kontrak, tidak ada itu," dalihnya.

Hendro mengungkapkan, jika Setiawan kuliahnya setiap hari, sehinga tidak bisa menyesuaikan jadwal sekolah. "Jalan yang terbaik bagi GTT yang mengabdi setahun itu, adalah dengan keluar dulu," jelasnya.

Sementara itu, di SDLB Negeri Tuban memiliki sembilan GTT. Surat Keputusan (SK) dari Gubernur Jatim sudah turun langsung untuk lima GTT termasuk dirinya. Sedangkan lainnya SK ditandatangani oleh Kepsek.

Setiawan pertama kali mengajar sebagai tenaga sukwan di SDLB Negeri terhitung mulai tanggal 2 Agustus 2017, sesuai SK Kepsek SDLB N nomor: 424/31/414.042.001.51/2017. Ditambah Surat Tugas dari Kepsek Hendro Yulianto, kepada Setiawan nomor: 800/09/414.042.001/2018. Dimana surat tugas ini berlaku mulai 2 Januari 2018 sampai 31 Desember 2018.

Sementara SK dari Gubernur untuknya, bernomor: 188/669/KPTS/013/2017, tentang penugasan GTT pada SMAN, SMKN, dan pendidikan khusus, dan pendidikan layanan khusus negeri Pemprov Jatim tahun anggaran 2017.

(yud/JPC)

Berita Terkait

Rekomendasi

berita hari ini

Sign In

Belum memiliki aku? Sign Up