JawaPos Radar

Polda Tetapkan 3 Tersangka Korupsi Pembangunan Sekolah Senilai Rp 7 M

09/08/2018, 18:44 WIB | Editor: Budi Warsito
Polda Tetapkan 3 Tersangka Korupsi Pembangunan Sekolah Senilai Rp 7 M
Kabid Humas Polda Sulsel, Kombes Dicky Sondani (Sahrul Ramadhan/JawaPos.com)
Share this

JawaPos.com - Tim penyidik Direktorat Reserse Kriminal Khusus (Ditreskrimsus) Polda Sulawesi Selatan (Sulsel) menetapkan tiga orang tersangka dalam kasus dugaan korupsi proyek pembangunan gedung, Madrasah Aliyah Negeri Insan Cendekia (MAN IC) di Desa Belapunraga, Kabupaten Gowa, Sulsel.

Mereka adalah, Pejabat Pembuat Komitem (PPK), Andi Muhammad Anshar; Direktur PT Syafitri Perdana Konsultan, Alimuddin Anshar dan Direktur PT Cahaya Insani Hendrik Wijaya.

Penetapan ketiga tersangka tersebut, dilakukan setelah penyidik menerima hasil audit perhitungan kerugian negara dari Badan Pemeriksa Keuangan dan Pembangunan (BPKP) Sulsel sebesar Rp 7 miliar rupiah.

"BPKP menemukan adanya kerugian negara. Hasil perhitungan kerugian negaranya, itu ada total loss," kata Kabid Humas Polda Sulsel, Kombes Dicky Sondani saat memberikan keterangan di Makassar, Kamis (9/8).

Proyek tersebut, diketahui menggunakan APBN tahun 2015 sebesar Rp 8.230 miliar melalui Kementrian Agama RI. Proyek itu dikerjakan perusahaan milik para tersangka.

Namun faktanya, sekolah yang harusnya sudah bisa difungsikan sebagai sarana belajar mengajar, hingga saat ini belum rampung pengerjaannya. Bahkan proyek pembangunan tersebut juga telah terhenti dan bangunannya pun jadi terbengkalai.

Kobes Dicky mengungkapkan, dari hasil proses penyidikan sebelumnya, juga telah dijelaskan oleh penyidik bahwa dalam pelaksanaan pengerjaan terjadi pengurangan kualitas. Hal itu dikuatkan dari hasil pemeriksaan fisik terhadap pengerjaan pembangunan yang dilakukan oleh tim ahli konstruksi pada 16 Juli 2017 lalu.

Hasil yang ditemukan, kualitas beton pada pekerjaan yang sudah tidak memenuhi syarat. Itu telah menyalahi aturan sebagaimana yang dituangkan dalam kontrak pekerjaan. Dimana seharusnya menggunakan kualitas beton K-225, namun yang teralisasi dilapangan hanya kualitas beton antara K-102 hingga K-122. Sehingga dikategorikan sebagai gagal konstruksi.

"Kita sementrara belum tahan karena baru ditetapkan. Penyudik juga belum memeriksa mereka sebagai tersangka," terang Dicky.

Penyidik tambahnya, selanjutnya bakal menjadwalkan pemeriksaan dalam kapasitas ketiganya sebagai tersangka pada kasus yang merugikan negara cukup besar itu. "Penyidik juga terus mengumpulkan alat bukti, selanjutnya akan disampaikan lagi," pungkas Dicky.

(rul/JPC)

Berita Terkait

Rekomendasi

berita hari ini

Sign In

Belum memiliki aku? Sign Up