JawaPos Radar

Lomba Ukir Inai Ramaikan Pekan Kebudayaan Aceh

09/08/2018, 14:02 WIB | Editor: Sofyan Cahyono
Menghias Tangan, Inai
Perwakilan kabupaten/kota mengikuti lomba ukir inai pada Pekan Kebudayaan Aceh (PKA) ke-7 di Museum Aceh, Banda Aceh. (Istimewa)
Share this image

JawaPos.com - Beragam kegiatan digelar dalam Pekan Kebudayaan Aceh (PKA) VII 2018. Salah satunya adalah lomba Boh Gaca atau mengiasi tangan pengantin dengan inai. Peserta dari 16 kabupaten/kota ambil bagian dalam perlombaan tersebut.

Pada kegiatan bertema Boh Gaca, masing-masing daerah mengutus lima peserta. Satu orang sebagai peraga mempelai perempuan dan berbaring di kasur yang telah disediakan. Sementara empat peserta lainnya mengukir inai di tangan dan bagian atas telapak kaki sang mempelai. Setiap kelompok menampilkan kerapian dalam mengukir inai sesuai ciri khas daerahnya.

Ketua Tim Juri Boh Gaca Mughfirah menjelaskan, inai merupakan budaya dari Arab, Tiongkok, Eropa dan India. Pengaruh budaya itu kemudian mewarnai kehidupan masyarakat Aceh. “Perpaduan dari negara-negara inilah yang membawa seni ukir inai pada pengantin di Aceh,” ujarnya di Museum Aceh, Banda Aceh, Kamis (9/8).

Menghias Tangan, Inai
Perwakilan kabupaten/kota mengikuti lomba ukir inai pada Pekan Kebudayaan Aceh (PKA) ke-7 di Museum Aceh, Banda Aceh. (Istimewa)

Setiap daerah di Aceh memiliki ciri khas ukiran masing-masing. Akan tetapi dalam perlombaan itu, dewan juri membolehkan memodifikasi setiap ukiran inai.

“Boleh dimodifikasi seperti memadukan antara ciri khas Aceh Besar dengan Aceh Utara. Itu boleh, walaupun masing-masing daerah punya ciri khas nya," kata Mughfirah.

Setiap ukiran inai masing-masing daerah juga memiliki makna tersendiri. Seperti di Kabupaten Aceh Barat yang terkenal dengan Bungong Awan Sion, dan Awan Meucanek. Banda Aceh terkenal dengan Pinto Aceh.

Begitu juga di Aceh Singkil, mereka mempunyai ciri khas motif yang sangat memberikan makna bagi masyarakatnya. Yaitu, gambar cincin Nabi Sulaiman. Sementara Aceh Tenggara, dalam seni ukir inai cenderung berbentuk lingkaran bulat.

“Mereka memaknai lambang tersebut sebagai Tuha Peut. Dalam kehidupan masyarakat itu ada Tuha Peut yang meluruskan berbagai masalah dalam kehidupan,” tuturnya.

Di sisi lain, inai bermanfaat bagi orang-orang yang bermasalah dalam kesehatan. Proses pembuatan inai sendiri tergantung pada ukirannya dan bisa memakan waktu hingga dua jam. “Proses ukirannya ini membutuhkan waktu lumayan lama. Kadang sampai dua jam. Ukirannya itu mulai dari tangan hingga ke kaki,” paparnya.

Dari sisi sejarah, inai bermula pada masa Nabi Ibrahim. Ketika itu, Nabi Ibrahim memiliki dua orang istri. Adalah Siti Sarah dan Siti Hajar. “Nah, yang namanya manusia pasti memiliki sifat cemburu. Oleh karena itu, Siti Sarah sebagai istri pertama kemudian melumuri inai di tangannya supaya menarik,” ungkap Mughfirah.

“Setelah diukir, ternyata benar inai memiliki khasiat luar biasa. Siti Sarah lebih tampak mempesona. Jadi sejarah itulah, mengapa seorang pengantin yang hendak dinikahkan supaya lebih mempesona diberikan ukiran inai,” tambahnya.

(mal/JPC)

Berita Terkait

Rekomendasi

berita hari ini

Sign In

Belum memiliki aku? Sign Up