JawaPos Radar

Selidiki Komunikasi dengan Eni dan Johannes, KPK Sita Hp Sofyan Basir

09/08/2018, 10:30 WIB | Editor: Estu Suryowati
Selidiki Komunikasi dengan Eni dan Johannes, KPK Sita Hp Sofyan Basir
Direktur Utama PT PLN (Persero) Sofyan Basir tiba di gedung KPK, Jumat (20/7). Ia akan diperiksa sebagai saksi untuk tersangka Johannes Budisutrisno Kotjo. (Intan Piliang/JawaPos.com)
Share this image

JawaPos.com - Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) menyampaikan, salah satu alat komunikasi elektronik (ponsel) yang disita saat proses pengeledahan beberapa waktu lalu adalah milik Direktur Utama PT PLN (Persero) Sofyan Basir. Juru Bicara KPK Febri Diansyah mengatakan, dalam penggeledahan tersebut, lembaga antirasuah memang mengamankan beberapa alat bukti barang seperti alat komunikasi elektronik juga CCTV.

"Saat penggeledahan dilakukan pertengahan Juli, di rumah Dirut PLN salah satu bukti elektronik yang disita saat itu adalah alat komunikasi yang digunakan Dirut PLN," ungkapnya pada awak media, Kamis (9/8).

Febri menjelaskan, alasan alat komunikasi elektronik Sofyan Basir disita yakni guna menelusuri komunikasi terkait kasus dugaan suap PLTU Riau-1. Sebagaimana diketahui, kasus terebut menyeret Wakil Ketua Komisi VII DPR Eni Maulani Saragih.

Selidiki Komunikasi dengan Eni dan Johannes, KPK Sita Hp Sofyan Basir
Tersangka korupsi Wakil Ketua Komisi VII DPR Eni Maulani Saragih dengan rompi tahanan KPK menuju mobil tahanan usai diperiksa di kantor KPK, Jakarta, Sabtu (14/7). (Issak Ramadhani/JawaPos.com)

"Ya pasti untuk kebutuhan penanganan perkara, informasi yang relevan kami dalami," tukasnya.

Namun, mantan aktivis ICW ini belum bisa merinci terkait isi ponsel milik Sofyan. Saat ini timnya masih melakukan proses pemeriksaan ponsel, terkait komunikasi yang dilakukan Sofyan dengan dua tersangka.

"(Isi ponsel) itu belum bisa saya sampaikan. Tapi, pasti penyidik akan mendalami ada atau tidak komunikasi di antara pihak-pihak (dalam kasus) tersebut," imbuh Febri.

"Saya belum bisa bicara banyak soal isi komunikasi itu. Tapi, itu standar yang sama saja dalam sejumlah kasus, kalau memang ada dugaan bukti-bukti relevan di sana" pungkasnya.

Sebelumnya, KPK mengeledah rumah Sofyan di Jalan Taman Bendungan Jatiluhur II Nomor 3, Jakarta Pusat. Penggeledahan dilakukan sejak Minggu (15/7) pagi hingga petang.

Tim penyidik KPK membawa tiga koper dan empat kardus, termasuk rekaman CCTV usai menggeledah rumah Sofyan. Selain itu, lembaga ini juga sudah menggeledah rumah tersangka Eni, rumah, apartemen dan kantor Johannes, tersangka lain dalam kasus ini.

Keduanya, Eni dan Johannes telah ditetapkan oleh KPK sebagai tersangka. Dalam kasus ini, sebagai anggota DPR RI Eni disebut menerima komitmen fee sebanyak Rp 4,8 miliar dari Johannes yang merupakan pihak swasta.

Penerimaan ini dilakukan sebanyak empat kali dengan nominal yang berbeda dan yang terakhir penerimaan uang oleh Eni sebesar Rp 500 juta. Uang tersebut kemudian disita dan dijadikan alat bukti oleh penyidik KPK.

Sebagai pihak penerima, Eni kemudian disangkakan melanggar Pasal 12 huruf a atau huruf b atau Pasal 11 Undang-undang Nomor 31 Tahun 1999 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi sebagaimana diubah dengan Undang-undang Nomor 20 Tahun 2001 juncto Pasal 55 Ayat (1) ke-1 KUHP.

Sementara sebagai pihak pemberi, Johannes yang merupakan pihak swasta disangkakan melanggar pasal melanggar Pasal 5 Ayat (1) huruf a atau huruf b atau Pasal 13 Undang-undang Nomor 31 Tahun 1999 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi sebagaimana diubah dengan Undang-undang Nomor 20 Tahun 2001.

(ipp/JPC)

Berita Terkait

Rekomendasi

berita hari ini

Sign In

Belum memiliki aku? Sign Up