JawaPos Radar

Cerita Seorang Ayah Diajak Anaknya Nonton MotoGP Sebelum Gempa Lombok

09/08/2018, 09:16 WIB | Editor: Dyah Ratna Meta Novia
gempa lombok
Mereka bangun gubuk-gubuk kecil berukuran sekitar 5x5 meter dari puing-puing sisa rumah mereka yang sudah rubuh. Menumpang di kebun warga yang tinggal di kota, berharap suatu saat tak diusir. Satu gubuk ada 4-5 keluarga, yang artinya ada sekitar 15 orang (Imel/Jawapos.com)
Share this

JawaPos.com - Ada sebuah cerita yang menusuk hati sebelum gempa mengguncang Lombok, NTB. Hingga saat ini kisah itu masih kuat di ingatan Suparto.

"Pak, liat Zarco ayo pak, liat MotoGp," kenang Suparto saat menceritakan anaknya yang mengajaknya menonton idolanya di MotoGP, beberapa menit sebelum gempa mengguncang Lombok, Nusa Tenggara Barat (NTB) pada Minggu, (5/8).

Suparto, sebelumnya hendak keluar sebentar dari rumah sesaat sebelum gempa. Namun, saat anaknya yang berusia 4 tahun mengajaknya menonton MotoGP di televisi, ia memutuskan untuk menemani anaknya sebentar.

gempa lombok
Kini, rumah mereka rata dengan tanah. Habis sehabis-habisnya. Mungkin hanya beberapa bantal, selimut, dan pakaian saja yang masih bisa digunakan usai gempa. (Imel/Jawapos)

Beberapa menit kemudian, gempa 7 SR mengguncang rumah Suparto dan juga rumah-rumah lainnya. Saat itu juga listrik padam. Dia langsung lari menggendong anaknya ditengah reruntuhan.

"Malam itu, suara reruntuhan rumah sangat mengerikan, ditambah angin yang kencang pada malam itu," kata Suparto kepada JawaPos.com ketika ditemui di depan gubuk-gubuk tempat tinggal sementara yang dibangun warga secara mandiri.

"Saya nggak tahu mbak, kalau malam itu saya jadi pergi, saya nggak tahu, nggak bisa bayangin bagaimana anak saya, keluarga saya," mata Suparto tiba-tiba berkaca-kaca.

Saking besarnya guncangan tersebut, Suparto mengaku sampai tak bisa berlari, dia selalu terjatuh. Dengan susah payah akhirnya dia tiba di sebuah tanah lapang, lalu mengucap istighfar bersama warga lain sambil merasakan gempa yang tak kunjung berhenti.

Anak-anak menangis kencang tak mau lepas dari ibunya. Ada orang tua sudah sangat sepuh hanya berdiam di dekat reruntuhan, dan tak mampu menggapai tanah lapang, hingga akhirnya dibantu beberapa warga, dan selamat.

Kini, rumah mereka rata dengan tanah. Habis sehabis-habisnya. Mungkin hanya beberapa bantal, selimut, dan pakaian saja yang masih bisa digunakan usai gempa.

"Rata semuanya, nggak punya apa-apa lagi kita, kecuali keluarga, dan puing-puing yang bisa kita jadikan tempat tinggal sementara," ujar lelaki berusia 35 tahun itu.

Mereka bangun gubuk-gubuk kecil berukuran sekitar 5x5 meter dari puing-puing sisa rumah mereka yang sudah rubuh. Menumpang di kebun warga yang tinggal di kota, berharap suatu saat tak diusir. Satu gubuk ada 4-5 keluarga, yang artinya ada sekitar 15 orang tinggal disitu.

Mirisnya, desa tempat Suparto tinggal yaitu di Desa Bentek, Dusun Loang Sawag, Kecamatan Gangga, Kabupaten Lombok Utara ini masih sangat minim bantuan. Belum tersentuh dengan maksimal karena memang aksesnya yang jauh dari kota.

Warga lain yaitu Murdiyono juga sempat bercerita bahwa mereka hanya makan mie instan yang dikirim oleh beberapa relawan yang lewat. Bukan masalah mie instannya, tapi dalam beberapa hari terakhir sejak gempa mereka hanya menyantap 2 bungkus mie untuk dibagi kepada setiap 1 keluarga.

Oleh karena itu, Murdiyono, Suparto dan beberapa warga lain yang sedang bercerita ini berharap agar ada sedikit bantuan yang mencukupi. Selama ini, mereka berjuang dengan makanan yang mereka ambil dari pohon seperti contohnya kelapa.

"Kami mengerti, dampak gempa ini meluas, dan pasti masih terfokus dibawah (di kota), jadi kami memahami, tapi kami juga berharap ada bantuan yang cukup ke depannya, minimal air dan pangan," kata Suparto.

(iml/JPC)

Berita Terkait

Rekomendasi

berita hari ini

Sign In

Belum memiliki aku? Sign Up