JawaPos Radar

Dua Sejoli, Agam dan Kartijah Jadi Gajah Pengiring Zulkifli Hasan

08/08/2018, 21:10 WIB | Editor: Bintang Pradewo
Dua Sejoli, Agam dan Kartijah Jadi Gajah Pengiring Zulkifli Hasan
Kedua gajah Taman Nasional Way Kambas, Agam dan Kartijah ramaikan arak-arakan obor Asian Games 2018. (Reyn Gloria/ JawaPos.com)
Share this image

JawaPos.com - Mewarnai torch relay (obor) Asian Games di Lampung, ada penampilan menarik yang disajikan oleh Pemprov Lampung dari Taman Nasional Way Kambas (TMWK) yaitu dua sejoli gajah bernama Agam dan Kartijah.

Salah satu paramedis TMWK, Sunarto menceritakan perjalanan singkat kedua gajah tersebut sampai ke Bandar Lampung. TMWK menurunkan 10 petugas termasuk salah satunya dokter hewan untuk mengawal kesehatan dua sejoli tersebut.

"Perjalannya dimulai dari kemarin sore (7/8), sekitar pukul 19.00 WIB diangkut menggunakan truk Fuso sampai di Bandar Lampung pada 24.00 WIB. Kemarin, diamankan di Kelurahan Pengajaran, baru ke Bandar Lampung, Rabu (8/8) pukul 7.00 WIB, diturunkan di Lapangan Saburay," terangnya di di Jalan Raden Intan, Bandar Lampung, Lampung, Rabu (8/8).

"Gajah ini kan memang akan mengiringi obor dari Raden Inten, yang akan dibawa Zulkifli Hasan," imbuhnya.

Menurut Sunarto, tidak ada yang istimewa dalam pemilihan kedua gajah tersebut di acara Torch Relay. Dirinya mengaku gajah lain sebenarnya bisa diturunkan namun pada saat pemeriksaan hanya Agam dan Kartijah yang siap dan sehat.

"Iya kita diarahkan dari Gubernur dan Polda Lampung untuk ikut menyemarakkan obor Asian Games ini lewat dua gajah ini. Ini ikon Lampung kan makanya kami pun ikut senang," ungkap Sunarto.

Dua gajah ini didatangkan langsung dari Way Kambas. Agam merupakan gajah jantan yang berumur 39 tahun dengan berat 2,5 ton, sedangkan untuk si Betina Kartijah berumur 40 tahun dengan berat 2 ton.

"Jadi Kartijah ini termasuk yang tua di Way Kambas. Kenapa namanya Kartijah karena sifatnya yang paling keibuan, ada singkatannya itu, Kartininya para Gajah," katanya sambil tertawa.

Dikarenakan sifat alami yang suka merumput, Sunarto melihat kondisi Bandar Lampung sulit untuk memfasilitasi kedua gajah tersebut. Maka, dia mengakali dengan menyediakan makanan beserta snack untuk gajah.

"Kami sediakan itu 700 potong pelepah, dan 3 karung pisang lalu gula merah untuk tambahan staminanya," tuturnya.

Setelah sampai di Bandar Lampung yang cuacanya cukup terik, Sunarto pun segera memberikan air kepada gajah untuk minum maupun membasahi badan gajah. Ini berupaya untuk menstabilkan suhu badan dari gajah.

"Kondisi disini kan terik sekali ya dan biasanya gajah kalau digembalakan akan sering masuk air untuk mendinginkan badannya yang mudah panas tapi karena di sini ya kami berikan pasokan air, dibasahi badannya diberi minum agar staminanya tetap stabil," terang Sunarto.

Jika tidak disiram air, Sunarto mengatakan suhu badan gajah akan meninggi sehingga dapat memungkinkan gajah dapat kelelahan dan sakit. Maka, para paramedis dan dokter hewan berusaha menstabilkan suhunya di kisaran
alau tidak disiram air suhu badannya meninggi 36-37 derajat celcius.

"Begitu acara selesai kami langsung kembali lagi ke Way Kambas. Agar mereka bisa kembali lagi di rumahnya, nggak stress," tutupnya.

(rgm/JPC)

Berita Terkait

Rekomendasi

berita hari ini

Sign In

Belum memiliki aku? Sign Up