JawaPos Radar

Mewujudkan Mitigasi lewat Tata Ruang

Oleh DANNY HILMAN NATAWIDJAJA*

08/08/2018, 17:10 WIB | Editor: Ilham Safutra
Mewujudkan Mitigasi lewat Tata Ruang
Salah seorang tim evakuasi mencoba masuk ke reruntuhan masjid Jami'an Jamiah, Bangsal, Kecamatan Pemenang, Kabupaten Lombok Utara, selasa(7/8). (IVAN MARDIANSYAH/LOMBOK POS/Jawa Pos Group)
Share this

JawaPos.com - Sudah bukan hal baru kalau Indonesia disebut sebagai kawasan yang rawan gempa tektonik. Sebab, Indonesia berada di antara tiga buah lempeng bumi utama yang bergerak relatif satu sama lain. Sehingga terbentuk jalur tumbukan lempeng yang tiga kali lebih panjang dari Jepang. Juga, terbentuk banyak sekali jalur patahan/sesar aktif di seluruh penjuru wilayah.

Ironisnya, para peneliti yang menekuni bidang kegempaan masih bisa dihitung dengan jari Mungkin berbanding lurus juga dengan kurangnya perhatian dan dukungan pemerintah.

Namun, dengan segala keterbatasan, pada 2009 para ahli gempa yang berjumlah sembilan orang, dikenal sebagai tim 9, dari berbagai instansi dan perguruan tinggi, bergabung. Untuk bekerja bersama-sama membuat peta sumber dan bahaya gempa Indonesia.

Mewujudkan Mitigasi lewat Tata Ruang
Warga berupaya mengumpulkan harta bendanya yang masih dapat diselamatkan setelah diguncang gempa 7 SR di Lombok. (SIRTU/LOMBOK POST/Jawa Pos Group)

Hasilnya sudah dipublikasikan pada 2010. Pada 2016 para ahli gempa Indonesia berkumpul lagi, tapi sudah bertambah sampai 60 orang. Tujuannya ialah merevisi dan mengembangkan peta gempa 2010.

Hasil kerja keras tim yang diwadahi Kelompok Kerja PuSGeN (Pusat Studi Gempa Nasional) serta difasilitasi Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat itu sudah dipublikasikan secara luas pada awal 2017. Sekarang tim PusGeN masih bekerja terus untuk merevisi SNI 1726-2012.

Karena itu, mitigasi bencana gempa yang paling utama ialah mengembangkan budaya membuat bangunan yang tahan gempa. Sesuai dengan "peta zonasi (guncangan) gempa". Bukan dengan terus menggunjingkan bagaimana meramalkan dengan pasti kapan gempa akan terjadi (karena sampai sekarang hal itu belum dapat dilakukan). Mitigasi juga bisa dilakukan dengan pengembangan tata ruang yang memperhitungkan keberadaan jalur patahan aktif atau patahan gempa serta potensi tanah longsor.

Jalur patahan penting untuk sedapat-dapatnya dihindari. Sebab, apabila terjadi gempa, pada jalur itu terjadi pergeseran dan deformasi tanah. Contoh perencanaan struktur bangunan yang baik dapat terlihat sewaktu gempa Chichi berkekuatan M7,7 di Taiwan yang melintasi wilayah perkotaan. Namun, tidak ada rumah yang ambruk (karena guncangan), kecuali bangunan yang lokasinya tepat di jalur patahan.

Minggu (29/7) wilayah utara Pulau Lombok diguncang gempa berkekuatan M6,4 (atau biasa disebut 6,4 skala Richter/SR) yang diikuti rentetan gempa susulan. Tepat seminggu kemudian (5/8), kita kembali dikejutkan terjadinya gempa berkekuatan M7,0 (7,0 SR) di lokasi episentrum yang berdekatan dengan gempa M6,4 sebelumnya.

Tentu gempa itu tidak bisa disebut sebagai gempa susulan. Sebab, gempa susulan seharusnya mempunyai skala kekuatan tidak lebih dari 1 skala di bawah gempa utama. Artinya tidak lebih dari M5,4. Tapi, ini malah lebih besar. Jadi, sekarang kita tahu bahwa gempa M6,4 bukan yang utama atau mainshock, melainkan gempa pendahuluan atau foreshock. Gempa utama adalah yang M7,0.

Gempa Lombok M7,0 bersumber pada bidang patahan naik dan mempunyai kedalaman atau berjarak sekitar 15 kilometer dari wilayah terdampak paling parah, yaitu di sekitar episentrum gempa. Apabila dihitung secara empiris, perkiraan besarnya guncangan adalah 0,4-0,5 g (g = percepatan gravitasi). Secara kasar guncangan 0,4-0,5 g ini biasanya dapat menimbulkan kerusakan yang setara dengan skala VIII sampai IX MMI (Modified Mercalli Intensity Scale). MMI adalah klasifikasi kualitatif efek (kerusakan) guncangan gempa yang berdasar pengamatan.

Pada MMI VIII-IX, bangunan yang didesain khusus (tahan gempa) masih dapat rusak ringan sampai sedang. Sedangkan bangunan biasa banyak yang rusak parah dan ambruk total. Biasanya diikuti banyak rekahan tanah, sering kali disertai semburan pasir dari dalam tanah akibat proses likuifaksi.

Apakah dalam peta sumber dan bahaya gempa Indonesia 2017 potensi guncangan sebesar 0,4-0,5 g di wilayah Lombok Utara itu sudah diprediksi dapat terjadi? Ya, sudah. Dalam peta deterministic hazard gempa terlihat wilayah tersebut berwarna "kuning", yaitu punya potensi PGA (peak ground acceleration) 0,4-0,5 g! Nilai itu juga sesuai dengan zonasi gempa pada peta probabilistic hazard gempa dengan periode ulang 2.500 tahun. Artinya, peta zonasi gempa 2017 yang baru ini cukup akurat.

Gempa Lombok Utara bersumber dari satu zona patahan naik (reverse fault zone) yang berada pada wilayah busur belakang (back-arc) di utara zona gunung-gunung api aktif. Zona patahan busur belakang ini memanjang arah timur-barat di wilayah utara Kepulauan Nusa Tenggara dengan kemiringan bidang patahan ke arah selatan. Mulai Pulau Wetar-Alor-Flores-Sumbawa-Lombok sampai ke bagian utara Pulau Bali.

Pada gempa Lombok M7,0 ini blok bagian selatan dari jalur patahan bergerak ke utara beberapa meter dan terangkat ke atas 1 sampai 2 meter. Jadi, jangan heran apabila sekarang perairan di utara Lombok mengalami pendangkalan. Itu bukan karena air laut yang surut, melainkan permukaan tanahnya yang naik.

Sudah banyak kejadian gempa besar di zona patahan ini, termasuk gempa Flores 1992 yang membangkitkan tsunami besar dan memakan korban sampai 2.000-an orang. Peristiwa bencana gempa Lombok baru-baru ini perlu dijadikan pelajaran agar kita lebih serius dan siap untuk menghadapi bencana gempa di masa mendatang.

Pembangunan infrastruktur di wilayah jalur patahan busur belakang Nusa Tenggara, khususnya berkaitan dengan pengembangan pariwisata, mau tidak mau harus memperhitungkan dan menyiasati risiko bencana gempa dan tsunami. Jalur patahan busur belakang ini tidak hanya di Nusa Tenggara-Bali, tapi menerus ke Pulau Jawa. Dikenal sebagai jalur patahan Baribis-Kendeng yang melewati Kota Surabaya, Semarang, Cirebon, dan diduga masih terus sampai ke wilayah Jakarta.

Perkara meneliti dan menghitung potensi guncangan gempa di berbagai tempat itu tidak terlalu sulit. Sebab, jalur gempa tidak akan pindah ke mana-mana. Begitu pula perkara untuk meminimalkan korban dan kerusakan, pada prinsipnya tidak rumit. Asal saja bangunan dibuat sesuai dengan standar teknis tahan guncangan hasil hitungan.

Namun, perkara untuk merealisasikannya tentu sangat tidak mudah. Butuh motivasi dan kerja sama berbagai kalangan. Mulai para ahli, praktisi, pemerintah, hingga masyarakat.

*) Peneliti Utama LIPI dan Ketua Pokja Geologi PuSGeN dan Ketua Pokja Geologi PuSGeN 

*

Alur Cerita Berita

Mewujudkan Mitigasi lewat Tata Ruang 08/08/2018, 17:10 WIB
Gempa, Konstruksi, dan Edukasi 08/08/2018, 17:10 WIB
Unhas Kirim Tim Medis ke Lombok 08/08/2018, 17:10 WIB
Lihat semua

Berita Terkait

Rekomendasi

berita hari ini

Sign In

Belum memiliki aku? Sign Up