JawaPos Radar

Miliki Panjang 214 Meter, Berikut Hasil Pemetaan Gua Baru di Tuban

08/08/2018, 16:25 WIB | Editor: Sari Hardiyanto
Gua Baru
Tim pemerhati gua dari Asosiasi Wisata Gua Indonesia (Astaga) dan Mahasiswa Pecinta Alam (Mahipal) Universitas Ronggolawe (Unirow) Tuban saat melakukan observasi di dalam gua di Desa Jadi, Kecamatan Semanding, Kabupaten Tuban. (Yudi Handoyo/JawaPos.com)
Share this image

JawaPos.com - Asosiasi Wisata Gua Indonesia (Astaga) dan Mahasiswa Pecinta Alam (Mahipal) Universitas Ronggolawe (Unirow) Tuban melakukan eksplorasi gua baru yang ditemukan warga di Desa Jadi, Kecamatan Semanding, Kabupaten Tuban, Rabu (8/8).

Hasilnya tim membeberkan panjang gua sebenarnya membentang ke arah timur laut dan ke barat daya. Secara keseluruhan panjang gua yakni 226 meter, akan tetapi jika diukur secara datar panjangnya mencapai 214 meter.

"Dari goa sepanjang itu kami bagi dalam 18 station, untuk lobangan akibat bekas proses tambang itu berada di station 7," ujar Nafikurrohman, perwakilan Tim Astaga Komisariat Daerah Jawa Timur, Rabu (8/8).

Gua Baru
Gua ini mempunyai kedalaman vertikal 6 meter dengan panjang lorong 214 meter, dengan masing-masing lorong mempunyai variasi keindahan ornamen yang berbeda (Yudi Handoyo/JawaPos.com)

Pria yang juga ikut menyusun standar kompetensi pemandu wisata gua itu menjelaskan, bila diukur dari station tujuh atau titik lobang yang ditemukan saat ini, panjang gua ke arah timur laut atau ke arah station nol mencapai 101 meter. Sedangkan, dari station tujuh ke arah barat daya atau mengarah ke station 18 memiliki panjang sekitar 125 meter.

Sementara kedalaman gua dari permukaan tanah tambang jika dilihat secara rata maka mencapai 32 meter. "Ketinggian atap gua sampai lantai dasar gua mencapai 11 meter dan terendah 0,5 meter. Ada pula yang ketinggiannya 2 meter. Memang variatif. Tapi penentuan ukuran ini sudah sesuai aturan dan menggunakan rumus cartesius," tuturnya.

Dari keseluruhan 18 station lebar gua yang paling besar mencapai 18,3 meter dan itu terletak di station 11. Sementara paling sempit sekitar 1,7 meter dan terletak di stasion 15. Secara keseluruhan ada 18 station dan cara menentukan station sendiri ketika ada perubahan lorong, perubahan bentuk atau arah, perubahan sudut kemiringan, penemuan-penemuan penting seperti mata air atau ornamen atau ketemu sungai. Sedangkan, jarak maksimal ada 30 meter per station.

"Kami berharap manfaat peta ini untuk masyarakat, agar mereka tahu bahwa disekelilinya lahan lokasi tambang ada gua. Yang penting ini untuk pengetahuan dan keselamatan bagi masyarakat sekitar," pungkas pria alumni Kampus Unirow Tuban ini.

Sementara itu, untuk tingkat risiko, tim observasi menyebut, apabila tidak dipetakan ke mana arah gua dengan membentang dari permukaan. Dikhawatirkan dapat mengangancam aktivitas keselematan penambang. Pasalnya, saat dianalisa ada beberapa station yang di atasnya ada aktivitas tambang. Jika tambang itu diteruskan maka tidak menutup kemungkinan akan muncul lobang baru. 

"Semisal saja di station 0, di lokasi itu sudah terdengar suara gergaji mesin. Tapi untuk data lengkapnya ditunggu, karena kami besok akan memetakan arah gua dari permukaan. Salah satunya mengukur kepastian ke mana arah gua tersebut membentang. Jika bentangan hanya dari dalam gua, sudah kami ukur semua," bebernya. 

Deskripasi gua sendiri dari station 0 hingga 10 ditemukan banyak ornamen-ornamen bagus yang berciri khas gua di sepanjang utara Jawa. Seperti, stalagtit dan stalagmit serta helectid atau bebatuan yang membentuk aliran ke samping atau melawan gravitasi. Dilihat dari ornamen-ornamen di dalam gua itu, diperkirakan umur gua sudah mencapai ratusan ribu tahun. 

Disisi lain pada ujung ke arah barat daya ada sebuah lobang kolam yang prediksi sangat curam. Hal itu ditenggarai saat dilempar batu suaranya seperti lobangan air yang memiliki kedalaman tinggi. Sedangkan, untuk menuju ke ruangan yang ada kolamnya itu harus merayap.

"Yang kami khawatirkan, jika di atas permukaan gua ada aktivitas tambang, ini yang berbahaya. Karena  itu, penemuan gua di atas lahan tambang ini perlu di dudukkan bersama, mulai dari masyarakat, pemerintah desa, kecamatan hingga Pemkab Tuban. Agar semua tahu lokasi mana yang bisa dijadikan tambang dan lahan mana yang berbahaya," pungkasnya

(yud/JPC)

Berita Terkait

Rekomendasi

berita hari ini

Sign In

Belum memiliki aku? Sign Up