JawaPos Radar

Pilpres 2019

Terbentuknya Poros Ketiga Dinilai Justru Untungkan Petahana

08/08/2018, 14:00 WIB | Editor: Estu Suryowati
Terbentuknya Poros Ketiga Dinilai Justru Untungkan Petahana
Deklarasi pencapresan Joko Widodo (Jokowi) saat Rakernas PDIP di Bali beberapa bulan lalu. Terbentuknya poros ketiga dinilai justru akan menguntungkan posisi petahana. (Muhammad Tan Reha/Jawa Pos)
Share this image

JawaPos.com - Munculnya poros ketiga diyakini beberapa pihak masih mungkin terjadi. Partai Keadilan Sejahtera (PKS), Partai Amanat Nasional (PAN), dan Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) diyakini masih berpeluang berkongsi. Namun tidak ada garansi munculnya poros alternatif dapat menumbangkan petahana, Joko Widodo (Jokowi).

Kepala Divisi Advokasi dan Bantuan Hukum DPP Partai Demokrat Ferdinand Hutahaean melihat, munculnya poros ketiga tidak akan banyak menguntungkan penantang Jokowi. Adanya tiga pasangan calon hanya memastikan Pilpres 2019 akan berjalan dua putaran.

"Kalau terbentuk poros ketiga ini kan akan menjadi lebih besar kemungkinan untuk menjadi dua putaran. Kemungkinan besar ada pertimbangan-pertimbangan yang sulit kami putuskan nanti," kata Ferdinand kepada JawaPos.com, Rabu (8/8).

Ferdinand mengatakan, situasi Pilkada DKI Jakarta 2017 tidak bisa dijadikan acuan untuk Pilpres 2019. Walaupun pada waktu itu penantang yang kalah justru bersatu di putaran kedua dengan penantang yang perolehan suaranya lebih banyak.

Sebab psikologis partai tidak bisa ditebak. Misalnya, dia memprediksikan PKB bakal kembali ke gerbong pendukung Jokowi jika koalisi poros ketiganya gagal di putaran kedua.

"Mungkin saja PKB akan kembali ke petahana di putaran kedua, PAN mungkin juga kes ana, PKS bisa saja ke Prabowo," imbuh Ferdinand.

Jika situasi tersebut yang terjadi maka akan berdampak buruk bagi koalisi penantang Jokowi. Sebab, probabilitas Jokowi kembali terpilih menjadi semakin besar.

"Terbentuknya poros baru ya memang membuat peluang petahana jadi lebih besar. Kecuali sosok yang ditampilkan lebih mampu menandingi, di situ kelemahannya," pungkas Ferdinand.

(ce1/sat/JPC)

Berita Terkait

Rekomendasi

berita hari ini

Sign In

Belum memiliki aku? Sign Up