JawaPos Radar

Sabu Senilai Rp 10 Miliar Dimusnahkan

08/08/2018, 12:09 WIB | Editor: Sofyan Cahyono
Pemusnahan narkoba
Pemusnahan barang bukti 10 kilogram sabu-sabu oleh BNNP Riau, Rabu (8/8). (Virda Elisya/JawaPos.com)
Share this

JawaPos.com - Badan Narkotika Nasional Provinsi (BNNP) Riau memusnahkan barang bukti narkotika jenis sabu-sabu. Jumlahnya mencapai 10 kilogram atau senilai Rp 10 miliar.

Pemusnahan dilakukan di halaman Kantor BNNP Riau, Jalan Pepaya, Pekanbaru, Riau, Rabu (8/8). Acara dihadiri Kepala BNNP Riau Brigjen Pol M Wahyu Hidayat serta perwakilan dari Polda Riau, Kejaksaan Tinggi (Kejati) Riau, dan instansi terkait lainnya.

Seorang tersangka turut dihadirkan. Inisialnya YD, 43. Saat pemusnahan, ia tampak mengenakan baju tahanan warna biru. Tangannya diborgol dan wajahnya ditutup dengan sebo.

Sebelum dimusnahkan, sabu telah melalui proses pemeriksaan dengan alat tes narkotika portabel. Hasilnya positif mengandung zat methamfetamina. Setelah itu, 10 kilogram sabu yang dibungkus dengan plastik bening itu dimasukkan ke dalam mesin inseminator. Sekitar 15 menit di dalam mesin, sabu dan bungkusannya langsung hilang tak bersisa.

Kepala BNNP Riau Brigjen Pol M Wahyu Hidayat mengatakan, pemusnahan barang bukti bertujuaan untuk menghindari penyimpangan. "Selain itu juga sebagai bentuk tranparansi," ucap Wahyu Hidayat.

Adapun 10 kilogram sabu diamankan petugas BNNP Riau dibantu Polres Siak pada Minggu (29/7). Dua orang diamankan. Yaitu, YD dan istri mudanya berinisial EA, 34. Keduanya merupakan warga asal Kota Bukittinggi, Sumatera Barat.

Pasutri tersebut diamankan di depan Mapolres Siak. Tepatnya di Jalan Lintas Perawang-Siak, KM 70 sekitar pukul 17.30 WIB. Sabu-sabu dibawa pasutri dengan menggunakan mobil Toyota Innova.

"Awalnya mereka datang ke Pekanbaru naik sepeda motor. Kemudian sampai di Pekanbaru menginap di hotel beberapa hari dan merental mobil," ungkap Wahyu.

Gerak-gerik pasutri itu sudah diintai petugas semenjak menyewa kamar hotel. Petugas BNN ikut menyewa kamar tepat di sebelah mereka. Tapi penangkapan urung dilakukan lantaran YA berhasil mengelabui petugas. "Kami mau tangkap di hotel. Tapi tidak ada barang buktinya. Makanya tidak jadi ditangkap," terangnya.

Pasutri tersebut kemudian melanjutkan perjalanan. Petugas membuntuti mereka hingga ke Pelabuhan Tanjung Buton, Kabupaten Siak. Bungkusan berisi sabu seberat 10 kg dimasukkan ke mobil. Keduanya lantas meluncur ke Kota Pekanbaru dengan kecepatan tinggi.

Dari Siak, YA menyadari telah dibuntuti. Dia lalu menghubungi pria inisial TB yang diketahui sebagai pemesan sabu dari Malaysia sekaligus penentu tujuan barang itu diantarkan. "Handphone TB langsung tidak aktif, sehingga keberadaannya sulit dilacak sekarang," ungkapnya.

Saat di pelabuhan, sempat terjadi aksi kejar-kejaran. YA yang pernah bekerja sebagai sopir travel sempat berhasil lolos dari kejaran petugas. Petugas BNN pun berkoordinasi dengan Polres Siak. Setelah berhasil ditangkap, pasutri ini dibawa ke BNNP Riau guna pemeriksaan.

Dari hasil pemeriksaan, YA mengaku sudah dua kali menjadi kurir sabu dengan jumlah bervariasi. Pertama, membawa sabu 0,5 kg dengan tujuan Palembang. Upahnya saat itu Rp 14 juta.

Kedua, YA mengantarkan sabu 1 kg ke Palembang. Upahnya Rp 20 juta. Untuk yang ketiga, YA diperkirakan akan menerima upah Rp 200 juta. "Perkiraannya upah setiap kg adalah Rp 20 juta," sebutnya.

Kasus ini masih dikembangkan. Termasuk menyangkut status EA. Penyidik masih mencari bukti lain untuk menjerat istri muda YA itu. "Statusnya sampai saat ini masih saksi. Karena dari awal dia tidak tau kalau suaminya menjemput sabu. Dia diajak dengan alasan menjemput tulang. Sekalian berobat ke Pekanbaru karena dia sakit," tutur Wahyu.

Selain itu, penyidik juga masih mengembangkan kasus ke Tindak Pidana Pencucian Uang (TPPU). Rekening milik YA segera diperiksa untuk mengetahui penghasilannya selama menjadi kurir narkoba. "Kalau pengakuannya, isi rekening yang diperiksa hanya Rp 1,5 juta," bebernya.

Atas perbuatannya, YA dijerat dengan Pasal 114 ayat 2 dan/atau Pasal 112 ayat 2 Undang-Undang Nomor 35 Tahun 2009 tentang Narkotika. Ancamannya maksimal seumur hidup dan minimal 5 tahun penjara.

(ica/JPC)

Berita Terkait

Rekomendasi

berita hari ini

Sign In

Belum memiliki aku? Sign Up