JawaPos Radar

Menteri Intelijen Israel Senang Dengar Kematian Ilmuwan Syria

08/08/2018, 13:10 WIB | Editor: Dyah Ratna Meta Novia
ilmuwan syria dibunuh
Pusat pengembangan senjata kimia di Syria diserang (AFP)
Share this

JawaPos.com - Menteri Intelijen Israel Yisrael Katz menyambut baik pembunuhan seorang ilmuwan senjata Syria. Dilansir Arab News pada Selasa, (7/8), Katz menolak berkomentar mengenai isu yang menuding pemerintahnya berada di belakang pegeboman yang mematikan itu.

Kepala Syrian Government Weapons Research Center, Jenderal Aziz Asbar tewas bersama dengan sopirnya ketika bom menghantam mobilnya pada Sabtu. Hal itu dikonfirmasi oleh Observatorium Syria untuk Hak Asasi Manusia yang berbasis di Inggris.

Surat kabar Al-Watan propemerintah mengonfirmasi pembunuhan di provinsi tengah Hama. Asbar memimpin pusat penelitian Maysaf di Hama, yang terkena serangan udara Israel bulan lalu dan pada September tahun lalu.

ilmuwan syria dibunuh
Perang Syria membuat banyak anak jadi korban (Dawn)

The New York Times pada hari Senin mengatakan, seorang pejabat senior dari badan intelijen Timur Tengah mengatakan bahwa Israel berada di belakang pembunuhan itu.

"Kami tentu saja tidak mengomentari laporan semacam ini dan saya tidak akan berkomentar sekarang," Katz mengatakan kepada radio tentara Israel.

Menurut Katz, ilmuwan Syria itu terlibat dalam pengembangan senjata kimia dan rudal jarak jauh yang mampu memukul Israel. Katz mengakui dia senang dengan kematian ilmuwan tersebut.

Serangan udara Israel menargetkan pusat penelitian senjata kimia Syria pada 22 Juli. Seorang juru bicara militer Israel menolak berkomentar.

Serangan September 2017 menyebabkan kerusakan di pusat pengembangan senjata kimia Syria. Ketika kebakaran terjadi di sebuah gudang tempat misil-misil itu disimpan.

Israel telah melakukan banyak serangan di Syria sejak tahun 2017. Mereka menargetkan pasukan pemerintah dan sekutu mereka dari Iran dan kelompok militan Syiah Lebanon, Hizbullah.

Awal 2017 menandai titik rendah untuk Presiden Syria Bashar Assad dalam perang tujuh tahun dengan otoritasnya terbatas hanya 17 persen dari wilayah nasional.

(ina/JPC)

Berita Terkait

Rekomendasi

berita hari ini

Sign In

Belum memiliki aku? Sign Up