JawaPos Radar

Gempa Kecil di Lombok Membuat Trauma dan Takut Warga

08/08/2018, 11:25 WIB | Editor: Dyah Ratna Meta Novia
gempa lombok
Gempa berkekuatan 7 SR yang terjadi di Lombok, Nusa Tenggara Barat (NTB) pada Minggu, (7/8), bukan hanya berdampak pada kerusakan bangunan. Namun juga dampak psikologis yang dirasakan para korban (Imel/Jawapos.com)
Share this image

JawaPos.com - Gempa berkekuatan 7 SR yang terjadi di Lombok, Nusa Tenggara Barat (NTB) pada Minggu, (7/8), bukan hanya berdampak pada kerusakan bangunan. Namun juga dampak psikologis yang dirasakan para korban. Perasaan depresi, cemas, perilaku agresif, bingung, putus asa, sedih, takut, bercampur menjadi satu.

Salah satunya yang dirasakan oleh seorang ibu bernama Yuhana, 29 tahun, warga Dusun Kongok, Desa Meninting, Lombok, NTB. Dia mengatakan, sejak Minggu, (5/8), hingga berita ini diturunkan, ia dan para tetangga belum berani pulang ke rumah.

"Kita semua tidur di tenda, di halaman depan rumah, semua, anak-anak juga," katanya sambil menunjuk kearah tenda tempat ia tidur.

gempa lombok
Gema Lombok dampaknya sangat arah (AFP)

"Ini anak saya juga takut, minta digendong terus. Rumah retak makanya nggak berani tidurdi rumah. Takutnya pas tidur tiba-tiba gempa kan ambruk, apalagi gempa-gempa kecil yang masih terus ada," ujar Yuhana kepada JawaPos.com, Rabu, (8/8).

Ketakutan Yuhana ditambah dengan salah satu menara masjid yang ada tepat disamping rumahnya hampir roboh akibat gempa. Namun, dengan inisiatif warga, mereka bergotong royong untuk merobohkan menara di Masjid Al Ihsan itu agar tak membahayakan bagi warga lainnya.

Perasaan-perasaan takut dan trauma inilah yang sulit untuk dihilangkan dari para korban. Untuk itu, Aksi Cepat Tanggap (ACT) memberikan dukungan psikososial pascabencana gempa bumi.
Menurut ACT, dukungan psikologis pascabencana juga sangat diperlukan. "Dengan tingkat kerusakan hampir 90 persen tuntu bisa dibayangkan seperti apa dampak psikologisnya," kata Vice President of Humanity Network Department ACT, M Insan Nurrochman.

ACT juga akan menerjunkkan relawan ahli bidang psikosial, dan tentunya kerjasama dengan pihak-pihak terkait.

Kepala Cabang ACT NTB, Lalu Alfian Muhammad mengatakan, pascagempa bumi yang pertama ACT telah menerjunkan tim medis untuk melakukan trauma healing kepada para korban. "Relawan medis memberikan trauma healing kepada anak-anak dan orang tua lanjut usia, ACT juga akan menurunkan psikolog untuk membantu relawan medis memberikan trauma healing," katanya.

Hingga saat ini, menurut data dari BMKG, gempa di Lombok hingga pukul 09.00 WITA tercatat sebanyak 319 gempa susulan.

(iml/JPC)

Berita Terkait

Rekomendasi

berita hari ini

Sign In

Belum memiliki aku? Sign Up