JawaPos Radar

Pengamat: Pakde Karwo Ingin Sampaikan Pesan ke SBY

08/08/2018, 10:09 WIB | Editor: Sofyan Cahyono
Pilpres 2019
Ilustrasi. (Dok. JawaPos.com)
Share this

JawaPos.com - Gelombang dukungan kepada Ketua DPD Partai Demokrat Jawa Timur (Jatim) Soekarno untuk menjadi calon wakil presiden (cawapres) terus mengalir. Hal itu disinyalir sebagai bentuk pesan khusus kepada Ketua Umum Partai Demokrat Susilo Bambang Yudhoyono (SBY). Khususnya terkait dengan Pemilihan Presiden (Pilpres) 2019.

Sebelumnya, Demokrat Jatim melalui Rakerda merekomendasikan agar DPP untuk mendukung Joko Widodo (Jokowi) di Pilpres 2019. Di sisi lain, SBY telah sepakat dengan Ketua Umum Partai Gerindra Prabowo Subianto untuk membentuk koalisi.

"Sebenarnya Pakde Karwo itu ingin menyampaikan pesan kepada Pak SBY dengan cara tidak langsung," kata pengamat politik dari Universitas Trunojoyo Madura (UTM) Surokim Abdussalam kepada JawaPos.com, Rabu (8/8).

Pesan khusus yang dimaksud adalah Pakde Karwo ingin memastikan apakah Demokrat masih menjadi partai terbuka atau justru menjadi partai keluarga. Karena juga bergulir wacana untuk mendorong Agus Harimurti Yudhoyono (AHY) yang merupakan putra mahkota SBY sebagai cawapres.

"Saya pikir apa yang dilakukan Pakde Karwo dengan memberikan pesan secara tidak langsung itu bagian dari tes. Apakah Demokrat itu betul-betul partai keluarga atau partai yang terbuka," tandasnya.

Apalagi tren elektabikitas Partai Demokrat setalah SBY turun sebagai Presiden RI cenderung menurun. Surokim juga meyakini manuver Pakde Karwo sebagai bentuk dari upaya penyelamatan partai.

"Karena Demokrat dalam trennya setelah pak SBY selesai menjadi presiden kan turun terus elektoralnya. Jadi butuh jalan keluar. Pak SBY kalau mau jujur, selama ini Partai Demokrat yang bergantung pada Pakde Karwo. Bukan Pakde Karwo yang bergantung pada Demokrat," tukasnya.

Surokim berharap SBY lebih terbuka dan tidak terbawa perasaan (baper). Terutama soal perbedaan pandangan dengan Pakde Karwo di Pilpres 2019. Sebab perbedaan pandangan politik dalam sebuah partai merupakan hal yang wajar.

"Soal koalisi Pilpres, suara kader partai tidak harus sama. Kalau kemudian sama, itu yang aneh. Pak SBY juga jangan terlalu baper. Karena partai ini kan isinya orang banyak. Kalau Demokrat Jatim berbeda itu hal yang lumrah," pungkas Surokim.

(mkd/JPC)

Berita Terkait

Rekomendasi

berita hari ini

Sign In

Belum memiliki aku? Sign Up