JawaPos Radar

Pembunuh Tiba-tiba, Cek Tekanan Darah Cegah Komplikasi Hipertensi

08/08/2018, 07:40 WIB | Editor: Nurul Adriyana Salbiah
cek tekanan darah, cara cek hipertensi, komplikasi hipertensi, bulan tekanan darah,
Para dokter dalam memaparkan bahaya hipertensi menyambut "May Measurement Month' pada Agustus 2018 bersama PT Omron Healthcare Indonesia. (Rieska Virdhani/JawaPos.com)
Share this

JawaPos.com - Meski merasa sehat, tak ada salahnya mengecek kesehatan. Salah satunya rutin mengecek tekanan darah untuk mencegah hipertensi. Sebab, beberapa kasus ditemukan, seseorang tahu kalau diirnya hipertensi setelah jatuh sakit dan berada dalam perawatan medis.

Hipertensi sendiri merupakan penyakit yang dapat menyebabkan stroke, penyakit jantung koroner, hingga gagal ginjal. Semua penyakit ini membutuhkan biaya yang sangat besar dan jumlah penderitanya meningkat dari tahun ke tahun (katastropik). 

Berdasarkan data, BPJS Kesehatan mencatat sepanjang semester 1/2017 telah mengeluarkan dana Rp 12,7 triliun untuk membiayai  penyakit jantung, stroke, kanker, gagal ginjal, dan sebagainya. Ketua Perhimpunan Dokter Hipertensi Indonesia atau Indonesian Society of Hypertension dr. Tunggul D. Situmorang SpPD-KGH, memberi julukan hipertensi sebagai pembunuh tiba-tiba atau Silent Killer.

“Hipertensi dapat menyebabkan kerusakan organ tubuh yang mempunyai pembuluh darah, antara lain jantung, ginjal dan otak. Karena hipertensi adalah silent killer," tegasnya dalam konferensi pers bersama PT Omron Healthcare Indonesia, Selasa (7/8).

Karena itu, kata dr. Tunggul, diperlukan upaya bersama secara berkelanjutan dalam rangka semakin meningkatkan kesadaran masyarakat terhadap bahaya hipertensi. Melalui 'May Measurement Month' yang merupakan inisiatif International Society of Hypertension (InaSH), para dokter gencar mengedukasi pentingnya pengukuran tekanan darah secara rutin di rumah.

Dalam kampanye 'May Measurement Month 2017', lebih dari 70 ribu orang di 34 propinsi di Indonesia telah menjalani pengukuran tekanan darah. Pada 'May Measurement Month 2018', lebih dari 120 ribu orang di 27 propinsi berpartisipasi dalam program ini. Dan saat ini InaSH masih menganalisis hasilnya.

"Program pengukuran tekanan darah akan terus berlanjut untuk menjangkau lebih banyak lagi masyarakat untuk berpartisipasi," katanya.

Menurutnya, banyak pertimbangan di dalam manajemen hipertensi. Hipertensi dengan komplikasi tentu akan berisiko jika tekanan darah sudah melampaui 115/75.

"Bagaimana tekanan darah menjadi masalah di negara maju yang incomenya tinggi. Tekanan darah bukan hanya angka tapi fluktuasi gaya hidup dari Anda," jelas dr. Tunggul.

Marketing Director, PT. Omron Healthcare Indonesia, Yoshiaki Nishiyabu mendukung InaSH dalam menyampaikan pesan kesehatan terkait bahaya penyakit hipertensi. Maka masyarakat harus diedukasi agar memiliki kesadaran untuk melakukan pengecekan tekanan darah secara rutin di rumah (home monitoring).

"Hal ini sejalan dengan komitmen Omron yang menargetkan masyarakat bebas dari penyakit hipertensi, serangan jantung dan stroke melalui kampanye Generation Zero. Terkait dengan hal ini kami menciptakan teknologi yang mendorong masyarakat melakukan pengecekan tekanan darah rutin yang mudah, terjangkau, akurat dan nyaman di rumah," ujarnya.

(ika/JPC)

Berita Terkait

Rekomendasi

berita hari ini

Sign In

Belum memiliki aku? Sign Up