JawaPos Radar

Sebelum Jadi Tempat Wisata, Gua Baru di Tuban Jalani Proses Kajian

08/08/2018, 07:22 WIB | Editor: Yusuf Asyari
Sebelum Jadi Tempat Wisata, Gua Baru di Tuban Jalani Proses Kajian
Wakil Bupati Tuban, Noor Nahar Hussein bersama jajaranya saat meninjau lokasi gua di tambang batu kumbung Desa Jadi, Kecamatan Semanding, Tuban. (Yudi Handoyo/JawaPos.com)
Share this

JawaPos.com - Penemuan gua di Desa Jadi, Kecamatan Semanding, Tuban harus melalui serangkaian proses sebelum dijadikan objek wisata maupun wilayah konservasi. Peninjauan tersebut untuk mengumpulkan data secara topologi, geologi maupun kajian lingkungan.

Wakil Bupati Tuban, Noor Nahar Hussein menegaskan, dari data tersebut, akan dilakukan kajian lebih lanjut pada gua yang memiliki panjang 214 meter dengan lebar dinding mencapai 15 meter itu.

Nahar menginstruksikan, agar keberadaan gua ini harus diamankan, baik pemerintah desa, aparat, maupun masyarakat umum. Untuk sementara waktu, penambangan di atas gua harus dihentikan sebelum ada rekomendasi lebih lanjut.

Terkait dengan lokasi gua yang berada di lahan warga, Nahar menuturkan, hal tersebut dapat dibicarakan kemudian setelah semuanya ada kejelasan dari lembaga terkait. Baik dari aspek geologi ataupun konservasi lahan.

Dirinya juga menyatakan, Pemkab Tuban akan mendata luasan areal gua. Selanjutnya, Dinas Lingkungan Hidup (DLH) bersama stakeholder dan tenaga ahli, akan membuat peta dan skema areal gua serta lokasi yang dilarang untuk melakukan aktivitas penambangan.

Hal ini dilakukan mengingat banyak warga yang melakukan aktivitas penambangan di lokasi sekitar gua. "Dikhawatirkan terjadi longsor yang dapat memakan korban jiwa," kata Nahar Hussein kepada awak media saat meninjau secara langsung lokasi gua, Selasa (7/8).

Selain itu, larangan tersebut juga didasarkan pada pertimbangan-pertimbangan logis dari berbagai studi. Wabup yang juga mantan Ketua Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Kabupaten Tuban ini menambahkan, pihaknya juga akan bekerja sama dengan Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) dan pakar geologi nasional. Sehingga, dapat ditentukan langkah-langkah selanjutnya yang mengacu pada kajian ilmiah.

Bila dinyatakan layak sebagai objek wisata, Pemkab akan mendukung penuh pengembangan destinasi wisata gua tersebut. Gua yang ditemukan secara tidak sengaja tersebut berada di areal penambang batu kapur yang dijadikan kumbung (karst) milik salah seorang warga Desa Jadi.

Didalam gua tersebut ada stalagtit dan stalagmit menjadi kekhasan dari gua ini. "Ditambah lagi, gua ini belum pernah terjamah tangan manusia, jadi benar-benar alami. Dengan dijadikan objek wisata dapat meningkatkan kemajuan dan kesejahteraan masyarakat desa Jadi," harap dia.

Pada kesempatan yang sama, Sudariono warga desa Jadi, penemu gua sekaligus pemilik areal tambang menceritakan kronologi singkat penemuan gua tersebut. Pada awalnya, tengah menambang seperti biasanya. Saat memotong batu kumbung, tiba-tiba muncul lubang yang menghembuskan angin dari dalam.

Bersama dengan penambang lain, Sudariono membuat lubang yang lebih besar yang digunakan sebagai pintu masuk. Selanjutnya, ketika turun ke dalam Sudariono terkejut melihat kondisi gua yang memiliki stalagmit dan stalagtit yang menjulang hingga menyentuh atap gua.

(yud/JPC)

Berita Terkait

Rekomendasi

berita hari ini

Sign In

Belum memiliki aku? Sign Up