JawaPos Radar

Ketegaran Hati Susistiyono, Penginjil yang Buta setelah Kecelakaan

08/08/2018, 03:20 WIB | Editor: Estu Suryowati
Ketegaran Hati Susistiyono, Penginjil yang Buta setelah Kecelakaan
ILUSTRASI. Jemaat gereja tengah mengikuti peribadatan. (Aryo Mahendro/JawaPos.com)
Share this

JawaPos.com - Sangat sederhana. Begitulah kesan pertama kali yang terlihat dari keluarga Susistiyanto. Hidup di rumah ukuran 6x10 meter, di Jalan Bukit Pinang, Kelurahan Tanjung Pinang, Kecamatan Pahandut, Palangka Raya.

Awalnya, mereka hidup layaknya masyarakat pada umumnya. Susistiyono sebagai penginjil di desa-desa. Sedangkan sang istri, Karsi, menjadi petani karet di sebuah perusahaan.

Sebagai pembantu pendeta yang sering berpindah-pindah, Susistiyono masih sempat mengajar di sekolah swasta. Berbekal ijazah Teologi atau ilmu tentang Ketuhanan dan kemampuan menggunakan komputer, ia menjadi tenaga honorer di sekolah dasar, menengah, dan kejuruan di Desa Lahei Mangkutub, Kecamatan Mentangai, Kuala Kapuas.

Namun, roda kehidupannya benar-benar berubah akibat kecelakaan di Kawasan Bukit Liti arah Kuala Kurun - Kota Palangka Raya sekitar tiga tahun silam.

Kecelakaan itu terjadi saat dia dipindah dan bertugas memberikan pelayanan untuk Gereja Evangelis di Desa Parahangan, Kahayan Tengah, Kabupaten Pulang Pisau.

Kecelakaan membuatnya patah tangan kiri dan menjalani operasi pemasangan pen. Jari telunjuk kiri diamputasi. Ironisnya, alumnus Sekolah Tinggi Teologi (STT) Bethel, Banjar Baru, Kalsel, ini juga kehilangan mata kirinya.

Tuhan Maha Pengasih dan Penyayang. Nyawa Susistiyono masih bisa diselamatkan dari kecelakaan mengerikan. Namun, cobaan dan ujian itu tidak membuat semangatnya reda. Walaupun dari segi fisik, kemampuan matanya menurun.

Susistiyono masih tetap sebagai penginjil. Sering pulang pergi Palangka Raya dan Kecamatan Kahayan Tengah. Sambil menyambi sebagai sales lapangan sebuah toko peralatan rumah tangga, Columbus.

Berjalan hampir setahun. Nahas, kesehatan mata kanannya ikut menurun. Kebutaan menghampirinya. Sampai akhirnya tidak bisa melakukan aktivitas dan diberhentikan dari pekerjaannya.

Di sisa hidupnya, ia memutuskan tinggal di Palangka Raya bersama istri tercintanya, Karsi. Tanpa penglihatan, dia tidak bisa beraktivitas dengan lancar seperti semula. Hanya bergantung kepada istrinya.

Dengan sangat setia, perempuan kelahiran Demak, Jawa Tengah, itu menemaninya meski kini terpuruk. Karsi menyiapkan semua kebutuhan suami tercintanya. Sebagai seorang istri, Karsi benar-benar melayani suaminya. Karsi harus bolak-balik berjalan sejauh 100 meter ke belakang rumah, menimba air untuk masak, mandi dan juga mencuci pakaian. Serba keterbatasan.

Untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari, perempuan 54 tahun itu harus bertani di sisa-sisa lahan pekarangan rumahnya. Dia juga memelihara beberapa ekor ayam kampung untuk keperluan yang mendesak.

Kondisi rumah cukup memprihatinkan. Rumah dari kayu sisa potongan (sebetan) itu tiada dialiri listrik. Malam tiba, penerangan teplok atau lampu tempel yang bersumbu dan menggunakan bahan bakar minyak tanah, mau tak mau harus menemani keduanya.

Di dapur, ia tak memakai tabung gas melon alias elpiji 3 kg seperti kebanyakan masyarakat. Hanya ada tungku tanah liat berbahan bakar kayu.

Tuhan Maha Adil. Bulan lalu, keluarga ini mendapatkan bantuan bedah rumah berupa bahan bangunan senilai Rp 15 juta. Kini, bagian depan rumah mereka mulai direhab dengan kayu yang lebih baik.

Walaupun untuk listrik sampai saat ini belum tersalur dari PLN. Padahal, rumah keduanya berada di Kota Palangka Raya, berjarak cuma 7 Km dari titik nol ibu kota Kalteng.

"Dulu pernah menyambung listrik dari tetangga sebelah. Tapi karena menunggak dan tidak sanggup membayar akhirnya diputus," ucap Karsi dikutip dari Kalteng Pos (Jawa Pos Group), Rabu (8/8).

Sebagai manusia, Karsi dan Susistiyono hanya bisa berusaha dan berdoa. Tidak putus asa. Keduanya pernah mencoba memeriksakan mata kanan Susistiyono bersama dengan Yayasan Kameloh Mandiri. Mata Susistiyono harus dioperasi dan membutuhkan penanganan khusus dengan biaya yang tidak sedikit.

"Mau diobati tapi tak ada uang mas. Buat makan saja susah," ungkap Karsi dengan mata berkaca-kaca.

Keduanya pun mengurungkan niat untuk memulihkan mata kanan Susistiyono.

(jpg/ce1/est/JPC)

Berita Terkait

Rekomendasi

berita hari ini

Sign In

Belum memiliki aku? Sign Up