JawaPos Radar

Bambang Haryo: Industri SKT Menciut, Potensi Pengangguran Membengkak

07/08/2018, 19:45 WIB | Editor: Teguh Jiwa Brata
Bambang Haryo: Industri SKT Menciut, Potensi Pengangguran Membengkak
Ilustrasi buruh industri Sigaret Kretek Tangan. (Dok. Radar Bromo)
Share this

JawaPos.com - Anggota Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia (DPR RI) Bambang Haryo Soekartono, menilai penurunan industri Sigaret Kretek Tangan (SKT) berpotensi mengakibatkan pengangguran yang besar. Ditambah lagi, ada kemungkinan mereka yang menganggur akan kesulitan mencari kerja lagi.

"SKT ini di 2018, itu sudah turun dibanding 2017, ada 5 persen kurang lebih. Nah, ini berarti 5 persen dari jumlah pelinting ini pasti akan PHK, terus siapa yang mau menerima buruh ter-PHK,” ujarnya dalam keterangan tertulis, Selasa (7/8).

Selain itu, politikus Gerindra ini juga sangat menyayangkan bila sampai ada lagi pengurangan buruh yang ada di industri SKT. Dia menilai para buruh SKT tersebut telah berkontribusi bagi ekonomi daerah. 

“Buruh-buruh ini juga membawa dampak ekonomi disekitar pabrik-pabrik itu sendiri. Ini dampak ekonomi mulai dari kost-kostan, tempat jual makanan, dan lain-lain. Pergerakan ekonomi pun hidup,” tuturnya.

Lebih jauh Bambang Haryo mengatakan bahwa pemerintah perlu memberikan berbagai insentif bagi industri SKT. Salah satu insentif tersebut misalnya dengan tidak menaikkan cukai rokok kembali. 

“Cukai rokok tidak perlu dinaikkan lagi, itu sudah yang terbesar. Karena jumlah total pajak cukai, PPN, dan pajak daerah, itu totalnya sudah mendekati 70 persen dari total harga rokok itu sendiri,” tegasnya.

Dia menambahkan, kenaikkan cukai akan berdampak pada penurunan pendapatan negara dari pajak yang didapat dari rokok tersebut. “Pendapatan cukai rokok adalah terbesar no 3 daripada pendapatan negara, dan masuk dalam 15 persen dari APBN kita. Jadi jangan sampai ini terganggu kondisinya sehingga akhirnya masyarakat yang dirugikan,” tutupnya.

Sebelumnya Sudarto Ketua Umum Federasi Serikat Pekerja Rokok, Tembakau, Makanan dan Minuman (FSP RTMM SPSI) mengatakan pekerja SKT pada umumnya pekerja SKT adalah perempuan dengan pendidikan rendah. Mereka yang ter-PHK tidak dapat bisa bersaing dengan tenaga kerja lainnya jika ada kesempatan kerja.

(hap/JPC)

Berita Terkait

Rekomendasi

berita hari ini

Sign In

Belum memiliki aku? Sign Up