JawaPos Radar

Politikus PKS: Selamat Menanti Poros Ketiga!

07/08/2018, 14:04 WIB | Editor: Imam Solehudin
Prabowo
Tak kunjung ditentukannya nama cawapres Prabowo membuat PKS gelisah. Opsi membentuk poros ketiga pun mulai digodok. (Fredrik Tarigan/JawaPos)
Share this

JawaPos.com - Memasuki pendaftaran hari keempat capres dan cawapres, Partai Keadilan Sejahtera (PKS) belum juga mendeklarasikan diri ihwal calon yang akan didukung pada pilpres mendatang. Partai besutan Sohibul Iman itu masih menunggu keputusan cawapres yang dipilih oleh Prabowo Subianto.

Politikus PKS Mahfudz Siddiq mengatakan, partainya itu diduga tengah gelisah, menyusul keputusan Prabowo yang belum menentukan cawapresnya.

Padahal, mantan Danjen Kopassus itu telah mengantongi rekomendasi ijtima ulama yang mendorong dua nama cawapres, yakni Ketua Majelis Syuro PKS Salim Segaf Al Jufri dan Ustad Abdul Somad.

"Hal ini tentu membuat gelisah banyak pihak, termasuk PKS. Pasalnya, PKS sudah mengantongi rekomendasi ijtima ulama. Calon pasangan Prabowo-Salim menjadi amanah yang harus diperjuangkan PKS ke hadapan Prabowo dan partai koalisinya," kata Mahfudz dalam keterangan tertulisnya kepada Selasa (7/8).

Namun, kata Mahfud, saat ini belum ada juga sinyal positif yang diberikan oleh Prabowo soal nama Salim sebagai cawapres. Padahal, saat ini Abdul Somad telah memutuskan untuk tak menerima penunjukkan dirinya maju dalam kontestasi pilpres.

"PKS gelisah dan begitu pula sebagian ulama GNPF. Lalu terjadilah Mudzakarah Seribu Ulama di Tasikmalaya pada 5 Agustus kemarin. Hasilnya menambah daftar bakal calon presiden dan wakil presiden. Muncul nama Anies Baswedan, Gatot Nurmantyo, dan Bachtiar Nasir," ungkapnya.

Menurut Mahfud, ketiga nama di atas bisa jadi tak hanya dipersiapkan untuk menghadapi pilpres saja. Sebaliknya, ketiga tokoh nasional itu diprediksi akan didapuk sebagai figur di poros ketiga.

"Dari nama-nama Anies Baswedan, Gatot Nurmantyo, dan Bachtiar Nasir, siapa yang bisa menjadi tokoh utama sebagai capres poros ketiga?" imbuhnya.

Kader yang tak lagi dicalonkan sebagai caleg oleh PKS itu menambahkan, secara rasionalitas politik, nama Anies Baswedan akan terganjal aturan peraturan presiden (Perpres). Yakni mengenai aturan batas waktu pengajuan izin kepada presiden bagi kepala daerah yang akan maju menjadi capres atau cawapres.

Begitu pula Ustad Bachtiar Nasir (UBN) dirasa-rasa bukanlah tokoh utama poros ketiga.

"Sebagai cawapres masih mungkin. Tinggal Jendral (Purn) Gatot Nurmantyo? Gatot sejak awal menyatakan siap menjadi capres. Tinggal meneruskan jalan takdirnya," ucapnya.

Karena itu, Mahfudz yakin bahwa seluruh partai politik terus menimbang keputusan di pilpres mendatang. Pasalnya dukungan di pilpres tentunya akan berpengaruh besar pada hasil di Pileg.

Dia menyebut, calon presiden yang diusung atau didukung partai tentunya harus bisa mendukung perolehan suara pemilu legislatif. Sehingga partai tidak sekadar menjadi pendorong mobil. Lebih jauh dari itu, partai harus ikut ditarik maju oleh mobil itu.

"Bagi partai yang sudah dapat pos capres dan cawapres, soal itu dianggap selesai. Bagaimana dengan partai yang tidak kebagian pos capres dan tidak juga cawapres? Dapat apa?" tuturnya.

"Kalau bagi-bagi kursi kabinet, itu cerita kalau menang. Kalau kalah, apa yang mau dibagi? Pikiran sederhana saya, carilah faktor pendukung untuk capaian hasil pemilu legislatif," sambungnya.

Atas dasar itulah, Mahfudz meyakini bahwa poros ketiga semakin realistis. Apalagi di tengah biaya politik yang terus meningkat dan parpol ditantang untuk bisa memenuhi biaya politik di pemilu legislatif.

"Ditambah lagi ambang batas parlemen naik menjadi 4 persen," jelas dia.

"Sampai hari ini saya belum punya rumus. Mungkin masih perlu merenung 1-2 hari lagi. Tapi kata kuncinya adalah 'berpeluang menang' dan 'membantu target suara pileg'. Selamat menanti poros ketiga!" pungkasnya.

(ce1/aim/JPC)

Berita Terkait

Rekomendasi

berita hari ini

Sign In

Belum memiliki aku? Sign Up