JawaPos Radar

Gempa Lombok

Jumlah Pengungsi Belum Dapat Dipastikan, Distribusi Bantuan Terkendala

Pagi Ini Presiden Jokowi Tinjau Korban

07/08/2018, 11:45 WIB | Editor: Ilham Safutra
Jumlah Pengungsi Belum Dapat Dipastikan, Distribusi Bantuan Terkendala
SISA HARTA: Nur Hasanah, warga Dusun Ranjok Utara, Desa Dopang, Kecamatan Gunung Sari Lombok Barat mengangkut berang-barang dalam rumahnya yang hancur akibat gempa 7.0 SR, Minggu malam (5/8). (SIRTU/LOMBOK POST/Jawa Pos Group)
Share this

JawaPos.com - Tim evakuasi gabungan terus menyisir daerah di Lombok. Berdasar data sementara yang berhasil dihimpun posko Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), tercatat 98 orang meninggal, 236 orang mengalami luka-luka, serta ribuan rumah rusak Diperkirakan, jumlah korban dan kerusakan akibat gempa akan terus bertambah.

Kepala Pusat Data, Informasi, dan Humas BNPB Sutopo Purwo Nugroho menuturkan, belum semua daerah yang terdampak gempa sudah dijangkau petugas tim SAR gabungan. "Korban meninggal paling banyak terdapat di Kabupaten Lombok Utara karena wilayah itulah yang parah terkena dampak gempa," katanya.

Di antara 98 orang yang meningggal akibat gempa, 72 orang terdapat di Kabupaten Lombok Utara, Lombok Barat (16), Kota Mataram (4), Lombok Timur (2), Lombok Tengah (2), dan Kota Denpasar (2). Data tersebut terkumpul hinggal kemarin (6/8) pukul 18.00.

Jumlah Pengungsi Belum Dapat Dipastikan, Distribusi Bantuan Terkendala
SISA HARTA: Nur Hasanah, warga Dusun Ranjok Utara, Desa Dopang, Kecamatan Gunung Sari Lombok Barat mengangkut berang-barang dalam rumahnya yang hancur akibat gempa 7.0 SR, Minggu malam (5/8). (SIRTU/LOMBOK POST/Jawa Pos Group)

Menurut Sutopo, sebagian besar korban meninggal karena tertimpa bangunan yang roboh. "Belum ada laporan wisatawan asing yang menjadi korban akibat gempa," ujarnya.

Sementara itu, jumlah pengungsi belum bisa dipastikan. Diperkirakan, ribuan pengungsi tersebar di berbagai lokasi. "Bantuan juga belum bisa didistribusikan dengan merata. Selain terbatasnya jumlah logistik, pengungsi tersebar di berbagai lokasi sehingga menyulitkan pembagian, khususnya di Kabupaten Lombok Utara,'' ungkapnya.

Evakuasi wisatawan di Gili Trawangan, Gili Air, dan Gili Meno terus berlangsung. Tim evakuasi gabungan awalnya hanya memprediksi ada 1.000 orang di pulau itu. Ternyata, jumlah mereka lebih banyak. "Dipimpin Basarnas, tim evakuasi mengangkut wisatawan dengan perahu menuju Lombok," tuturnya.

Presiden Joko Widodo memastikan bahwa pemerintah akan memberikan bantuan bagi para korban terdampak gempa. Terlebih bagi mereka yang tempat tinggalnya rusak. "Kami akan melihat dulu keadaan di lapangan, baru kami putuskan. Tetapi, bahwa akan diberikan bantuan, iya. Jumlahnya yang belum diputuskan," ujarnya di sela-sela meninjau venue pencak silat di TMII kemarin.

Mengenai penanganan pascagempa, Jokowi menuturkan, pihaknya sudah menginstruksi jajaran terkait untuk penanganan pascagempa dengan sebaik-baiknya. Dia pun menunjuk Menko Polhukam Wiranto untuk mengoordinasi seluruh jajaran yang terkait dengan hal itu, baik BNPB, Kemensos, TNI, Polri, maupun yang lain.

Kemarin Wiranto memimpin koordinasi penanggulangan bencana di Lombok. Menurut dia, petugas sudah melakukan berbagai upaya untuk membantu masyarakat. Mulai evakuasi sampai membawa mereka ke tempat aman dan lokasi pengungsian.

Dari laporan yang diterima Wiranto, TNI-Polri sudah mengirimkan bantuan tambahan dari Jakarta. Mereka bertolak ke Lombok kemarin pagi.

Berdasar data Mabes TNI, prajurit yang dikerahkan ke Lombok mencapai 387 orang. Mereka terdiri atas 82 personel Yonkes Divisi 2 Kostrad, Yonkes Marinir (100 personel), Batalyon Paskhas (100), Yonzipur 10 Kostrad (100), serta 5 personel Satkomlek. Selain itu, TNI-AL mengirimkan KRI dr Soeharso dari Surabaya. "Akan bergerak ke Lombok Utara sebagai rumah sakit darurat," ungkap Wiranto.

Kapal bantu rumah sakit itu turut membawa satu kompi prajurit Zeni Tempur TNI-AD dan 100 personel Pasmar-2 Surabaya. Menurut Wiranto, tambahan tenaga tersebut diperlukan lantaran banyak warga dan korban gempa yang membutuhkan penanganan medis. Dari pemantauan kemarin, RSUD Kota Mataram penuh. "Kami lihat di tenda-tenda itu tidak cukup. Karena itu, TNI dikerahkan," ujarnya.

Selain itu, mereka mendirikan rumah sakit lapangan. Di antaranya, rumah sakit lapangan dari Yonkes 1 Kostrad dengan kekuatan 100 personel dan perlengkapan medis. "Lalu, ada lima unit tim kesehatan Polri. Sekarang sudah masuk ke daerah-daerah bencana," ungkap Wiranto.

Tim medis sengaja diperintah bergerak ke daerah-daerah bencana. Sebab, masih ada korban gempa yang belum berhasil dievakuasi dari reruntuhan bangunan.

Tidak heran, Wiranto menyebutkan, jumlah korban sangat mungkin bertambah. Baik korban luka maupun meninggal. Agar evakuasi lebih cepat, pemerintah mengerahkan ekskavator.

Pemda NTB yang dibantu TNI, Polri, dan pihak swasta sudah mengerahkan ekskavator ke beberapa titik. "Untuk pembersihan puing-puing reruntuhan. Diharapkan dapat menyelamatkan saudara-saudara kita," katanya.

Lebih lanjut, Wiranto menyampaikan, ribuan wisatawan dari sejumlah destinasi wisata di NTB juga dievakuasi. Termasuk di Gili Trawangan.

"Kami bersyukur, dengan sangat cepat dikerahkan kapal-kapal dari polda (4 kapal), Pelni (3), Mabes Polri (2), dan Angkatan Laut (2)," jelasnya. Sampai kemarin sore, sudah 1.870 wisatawan asing yang diseberangkan ke Mataram.

Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) pun terus memantau kemunculan gempa susulan pascagempa 7 SR yang mengguncang Lombok Utara. Berdasar data sampai pukul 19.00 WIB tadi malam, terjadi 184 kali gempa susulan. Namun, 13 di antara jumlah tersebut hanya gempa susulan yang guncangannya terasa. Berdasar grafik perekaman, gempa susulan menurun. Sepanjang Senin (6/8), tercatat empat kali gempa susulan pada pukul 19.00. 

(wan/far/byu/syn/lyn/c5/tom)

Alur Cerita Berita

Mewujudkan Mitigasi lewat Tata Ruang 07/08/2018, 11:45 WIB
Gempa, Konstruksi, dan Edukasi 07/08/2018, 11:45 WIB
Unhas Kirim Tim Medis ke Lombok 07/08/2018, 11:45 WIB
Lihat semua

Berita Terkait

Rekomendasi

berita hari ini

Sign In

Belum memiliki aku? Sign Up