JawaPos Radar

Yusril Keberatan Pemaparan Ahli Auditor BPK di Sidang BLBI

07/08/2018, 09:17 WIB | Editor: Estu Suryowati
Yusril Keberatan Pemaparan Ahli Auditor BPK di Sidang BLBI
Yusrl Ihza Mahendra, kuasa hukum Syafruddin Arsyad Temenggung keberatan dengan saksi auditor BPK dalam persidangan kasus SKL BLBI, kemarin Senin (6/8). (Dery Ridwansah/JawaPos.com)
Share this

JawaPos.com - Tim kuasa hukum terdakwa Syafruddin Arsyad Temenggung, Yusril Ihza Mahendra merasa keberatan dengan keterangan ahli auditor BPK I Nyoman Wara dalam persidangan SKL BLBI, kemarin Senin (6/8). Pasalnya, audit yang dikerjakan Nyoman itu dituangkan dalam bentuk satu laporan yang kemudian menjadi laporan resmi BPK lalu menjadi dokumen.

Dokumen tertulis mempunyai fungsi ganda, yakni sebagai keterangan ahli dan alat bukti surat.

"Kalau dia alat bukti surat, itu ahli menerangkan apa yang dilakukan, apa yang ditemukan, bagaimana prosedur yang dilakukan. Itu artinya, dia menilai pekerjaannya sendiri," kata Yusril di PN Tipikor, Jakarta.

"Kan sangat aneh orang disuruh menilai pekerjaannya sendiri, benar atau tidak, kan itu sangat tidak rasional," lanjutnya.

Kemudian, lanjut Yusril, jika Nyoman dihadirkan sebagai saksi fakta, dia semestinya hanya menerangkan fakat-fakta apa yang ditemukannya dan dituangkan ke dalam laporan tertulis. Demikian berdasarkan ketentuan Pasal 1 angka 26, 27, dan 28 KUHAP dikaitkan dengan Pasal 184 KUHAP tentang alat bukti.

Yusril menambahkan, posisi yang bersangkutan juga harus diklarifikasi terlebih dahulu.

"Ketua majelis mengatakan, yang berlaku di pengadilan selama ini, ya seperti ini. Bagi saya itu tragedi bagi penegakan hukum, penegakan supremasi hukum dan due process of law. Ada proses yang tidak adil dalam menegakkan hukum," ucap Yusril.

Menurut Yusril, ini merupakan tragedi karena orang bisa dihukum dengan dua bukti, keterangan surat dan keterangan ahli. "Ini bukti suratnya dia sendiri yang bikin, dihadirkan ke situ jadi satu bukti. Dihadirkan ke persidangan satu bukti. Dia berikan keterangan 2 bukti, orang sudah bisa dihukum. Mengerikan saksi yang hadir di sini," paparnya.

Di sisi lain, Yusril juga sempat mempersoalkan audit investigatif yang dilakukan BPK atas permintaan KPK dengan bukti-bukti yang diserahkan dari penyidik. "Saya bilang, kalau bukti-bukti diserahkan penyidik, Anda bisa mencari bukti-bukti yang lain nggak? Dia bilang bukti-bukti yang lain tidak relevan," tuturnya.

Menurut Yusril, bukti yang digunakan hampir 100 persen dari penyidik KPK. Bukan hanya itu, KPK juga sudah menyatakan bahwa terjadi kerugian keuangan negara. Namun, KPK meminta BPK yang menghitungnya.

"Kalau itu sudah ada asumsi bahwa sudah ada kerugian negara. Kalau menurut pendapat saya, (seharusnya) nih ada nggak kerugian negara. Kalau ada berapa (KPK harus menyebutkan)," jelasnya.

Sebelumnya, Yusril Ihza Mahendra mempermasalahkan status ahli yang dihadirkan jaksa penuntut umum (JPU) dari auditor Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) I Nyoman Wara.

Pasalnya, menurut Yusril dalam Berita Acara Pemeriksaan (BAP) pada halaman 13 Nyoman diperiksa sebagai saksi. Namun pada halaman 1, Nyoman diperiksa sebagai ahli.

Yusril merasa keberatan dihadirkannya auditor BPK sebagai seorang saksi. Sebab, sebagai ahli dia harus memberikan pendapat terkait hasil audit BPPN tahun 2006 yang dilakukannya.

"Beliau dihadirkan sebagai ahli kami tidak mempersoalkan, sebagai saksi ahli akan menjelaskan hasil pemeriksaan audit BPK yang melaksanakan audit beliau sendiri," kata Yusril.

Menurutnya, jika ahli terkait dengan alat bukti, maka akan terjadi dualisme. Jaksa menghadirkan ahli auditor BPK untuk menilai alat bukti audit BPK terhadap BPPN tahun 2002-2006.

(rdw/JPC)

Berita Terkait

Rekomendasi

berita hari ini

Sign In

Belum memiliki aku? Sign Up