JawaPos Radar

Selama 3 Bulan

Musim Kemarau Tiba, Warga Cibarusah Menderita Kekeringan

06/08/2018, 19:02 WIB | Editor: Bintang Pradewo
Musim Kemarau Tiba, Warga Cibarusah Menderita Kekeringan
Musibah kekeringan melanda tiga daerah di Bekasi Kota, Jawa Barat. (Dery Ridwansah/ JawaPos.com)
Share this

Musim kemarau tiba. Masyarakat desa yang letaknya 40 kilometer dari pusat Kota Bekasi, Jawa Barat mengeluh kekeringan. Mereka kesulitan mencari air bersih untuk beraktivitas sehari-hari. Sungai-sungai kering, hanya terlihat bebatuan dan tanah yang mulai retak sejauh mata memandang.

Oleh: Yesika Dinta

Sedikitnya tiga desa di Kecamatan Cibarusah, Bekasi yang terdampak kekeringan. Antara lain Desa Sirnajati, Ridogalih, dan Ridomanah. Setiap memasuki akhir Juli, warga mulai kesulitan mendapat pasokan air.

Bukan hanya tiga desa tersebut, beberapa tahun terakhir bahkan ketujuh desa di Cibarusah pernah dilanda kekeringan. Berbagai cara pun dilakukan penduduk, tak jarang mereka harus turun ke kali dan menggali sumur kecil yang biasa disebut ‘kobak’ dengan tangan kosong.

“Menggalinya pakai tangan, singkirin batu-batunya dulu, pokoknya sampai dalam kira-kira tiga meter. Nanti keluar itu air (bersih) nggak keruh,” ujar Yana, 32, warga yang terdampak kekeringan saat ditemui JawaPos.com di Kali Cipamingkis, Cibarusah, Bekasi, Senin (6/8).

Musim Kemarau Tiba, Warga Cibarusah Menderita Kekeringan
Musibah kekeringan melanda tiga daerah di Bekasi Kota, Jawa Barat. (Dery Ridwansah/ JawaPos.com)

Menuruni Kali Cipamingkis bukanlah hal yang mudah. Kondisi track yang bebatuan bercampur pasir dan tanah kering itu kerap membuat warga tergelincir. Namun begitu, semangat mereka tak pernah surut demi mendapatkan air bersih.

“Kalau nggak lewat sini (track bebatuan), harus mutar ke perumahan dekat pabrik penggilingan batu gesit di ujung sana, jauh,” tuturnya.

Perjuangan mereka tak henti ketika menuruni kali dan menggali bebatuan. Sekelompok warga yang mayoritas berasal dari Desa Sinarjati dan Loji itu masih harus kembali ke atas sembari memikul air di tangan kanan dan kirinya.

Kobak air juga bisa digunakan langsung untuk mandi. Biasanya warga mengajak keluarganya untuk membersihkan diri setiap pagi dan sore hari.

“Sekalian mandi, cuci baju,” kata Yana lagi.

Musim Kemarau Tiba, Warga Cibarusah Menderita Kekeringan
Musibah kekeringan melanda tiga daerah di Bekasi Kota, Jawa Barat. (Dery Ridwansah/ JawaPos.com)

Kali Cipamingkis adalah sumber air yang dimanfaatkan warga dua desa tersebut. Sedangkan dari desa lain, Ridogalih misalnya, mereka kerap menggunakan air keruh dari Kali Cihoe untuk beraktivitas sehari-harinya.

“Kalau kata orang kota mah (airnya) sudah nggak layak pakai,” ungkap Hasan Husari, 42, warga Ridogalih yang tinggal tepat di sebelah Kali Cihoe, Cibarusah, Bekasi.

Beberapa bantuan sering tiba di sekitar desa tersebut, hanya saja jumlahnya belum cukup memadai. Sebagian warga yang mampu, biasanya membeli air bersih ke Cibarusah Kota.

“Kalau nggak pakai (air Kali Cihoe), mau cari ke mana lagi, memang ini sumber satu-satunya. Memang paling parah (kekeringan) di Ridogalih,” terangnya.

Musim Kemarau Tiba, Warga Cibarusah Menderita Kekeringan
Musibah kekeringan melanda tiga daerah di Bekasi Kota, Jawa Barat. (Dery Ridwansah/ JawaPos.com)

Sementara itu, Kasie Tantrib Kecamatan Cibarusah Iman Arachman mengakui kondisi kekeringan memang sudah merupakan siklus tahunan di wilayahnya. Menurutnya, rata-rata kekeringan terjadi 3-4 bulan setiap tahunnya saat musim kemarau.

“Tiap tahun saat musim kemarau itu akan kering di bulan Juli akhir, Agustus, September, Oktober. Bulan November biasanya sudah hujan,” jelas Iman di kantor Kecamatan Cibarusah, Bekasi pada hari yang sama.

Dia menyebutkan, pemerintah tidak tinggal diam saat musim kemarau tiba. Pihaknya selalu siap mengirim bantuan air melalui Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Bekasi.

“Ada 5.000 liter (air bersih). Sekali kirim bisa 3-4 tangki. Jadwalnya pengiriman diatur BPBD, jadi hari ini misalnya ke Sirnajati, besok ke Ridogalih, besok ke Ridomanah. Selama 3 bulan (musim kemarau) itu,” paparnya.

Ketika air bantuan datang, muncul masalah lain, yakni ketimpangan antara permintaan dan pendistribusian. Kebutuhan air jauh lebih banyak dibanding yang dikirimkan.

“Kita kirim hari ini tiga hari kemudian sudah habis lagi kan. Bantuan juga banyak dari LSM, swasta, dewan, dan lain-lain,” pungkasnya.

Persoalan kekeringan di Cibarusah belum terpecahkan, tak ada solusi yang berarti selain mengirim air bantuan. Dari tiga desa yang paling terdampak, sedikitnya 12.500 jiwa menderita setiap tahun. Pemerintah Kabupaten Bekasi belum memikirkan secara teknis terkait pencegahan kekeringan.

(yes/JPC)

Berita Terkait

Rekomendasi

berita hari ini

Sign In

Belum memiliki aku? Sign Up