JawaPos Radar

Wisata Underwater Milik BUMDes Tirta Mandiri di Ponggok, Klaten

Sukses Umbul Ponggok, Rancang Umbul Gedang

06/08/2018, 14:40 WIB | Editor: Ilham Safutra
Wisata Underwater Milik BUMDes Tirta Mandiri di Ponggok, Klaten
SERASA DI LAUT: Dua pengunjung Umbul Ponggok, Klaten, bermain dengan ikan dan berfoto menggunakan alat selam khusus. (BUMDes Tirta Mandiri)
Share this

Badan Usaha Milik Desa (BUMDes) Tirta Mandiri di Desa Ponggok, Klaten, memanfaatkan umbul atau mata air menjadi wisata underwater. Kreativitas itu telah mendatangkan pendapatan Rp 14,2 miliar setahun.

ILHAM WANCOKO, Klaten

---

AIR di Umbul Ponggok, Klaten, begitu jernih. Ikan-ikan di dalamnya terlihat dengan jelas. Umbul berukuran 70 x 40 meter itu menjadi tempat favorit untuk berfoto di dalam air. Juga mengasyikkan buat snorkeling meskipun air tawar. Tidak hanya bagi warga Klaten, tapi juga dari berbagai kota di Indonesia.

Ikan-ikan di sana tampaknya sudah terbiasa dengan kehadiran manusia. Mereka tidak terpengaruh meski setiap hari umbul dipenuhi orang untuk berenang dan menyelam. Para pengunjung juga bisa berfoto di dalam air. Disediakan fasilitas yang bisa disewa, mulai sepeda onthel hingga sepeda motor yang diset untuk berfoto di bawah air.

Memberi makan ikan di dalam air juga memiliki sensasi tersendiri. Pengunjung bisa menyelam sambil menggenggam pakan ikan atau pelet.

Ratusan ikan mas dan koi itu seperti mengendus. Begitu tangan dibuka, pelet bertebaran. Ikan mas dan koi tersebut segera menyergap. Bahkan kadang tidak peduli melahap jari. Kaget, menggelikan.

Bukan hanya itu, ada pula fasilitas permainan anak di umbul tersebut. Jadi, memang umbul itu cocok untuk wisata keluarga. Umbul Ponggok menjadi tempat wisata yang memang menguntungkan. Pada 2017 tercatat pendapatannya mencapai Rp 14,2 miliar. Namun, jalan untuk sampai pada posisi itu bukan hal mudah. BUMDes Tirta Mandiri mengelolanya dengan jerih payah.

Sentot Edi Nugroho, warga Ponggok sekaligus pegawai bagian umum di BUMDes Tirta Mandiri, menceritakan bagaimana perjuangan mereinkarnasi Umbul Ponggok yang awalnya umbul biasa menjadi tempat wisata. "Umbul ini sudah ada sejak dulu, tapi baru dikelola profesional sejak 2009. Itu pun terseok-seok dulu," ungkapnya.

Awalnya Kepala Desa Ponggok Junaedi Mulyono memang memiliki keinginan untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Tapi belum bisa menggali potensi desa. Hal itu membuat warga mulai mencari ide dan sebagainya. "Akhirnya desa ini meminta bantuan Universitas Gadjah Mada (UGM)," ujar Sentot.

Bantuannya berupa kuliah kerja nyata (KKN) mahasiswa. Ada sekitar 40 mahasiswa. Mereka diminta menggali potensi Ponggok. Apa yang memungkinkan untuk menjadi andalan desa tersebut.

Mahasiswa-mahasiswa itu memberikan masukan bahwa potensi desa tersebut adalah mata air atau umbulnya. Namun, pengelolaannya tidak maksimal. "Pengelolaan seadanya, padahal bisa menjadi tempat wisata. Dari situlah kami mulai sadar. Kami ingin jadikan umbul tempat wisata," jelasnya.

Kepala desa akhirnya membuat program studi banding ke Benoa, Bali. Di sana ada snorkeling, diving, dan sebagainya. "Kami lalu mulai memiliki ide wisata underwater dengan serangkaian fasilitas fotografinya dan snorkeling," ujar Sentot.

Dibukalah Umbul Ponggok dengan tiga karyawan. Modal tentunya berasal dari uang kas desa. Pendapatan masih nol, hampir tiap bulan merugi. Tiga karyawan terpaksa hanya diberi gaji Rp 350 ribu per bulan. Padahal, saat itu upah minimum kabupaten Rp 600 ribu. "Orang yang datang masih lokalan," ucapnya.

Dalam beberapa bulan, pengelolaan Umbul Ponggok goyang. Untuk membayar listrik dan gaji karyawan, pendapatan tiket dan sebagainya belum bisa menutupi. "Tapi, kami tidak menyerah," kenang Sentot.

Saat itu BUMDes Tirta Mandiri berupaya membeli alat snorkeling. Namun, harganya masih terlalu mahal dari kemampuan, Rp 21 juta. "Satu set itu seharga itu. Kami ya terpaksa menunda dulu," katanya.

Suatu saat ada komunitas Sentra Selam Jogja yang mulai menggunakan umbul untuk belajar menyelam. Khusus untuk persiapan menyelam sebelum ke laut. "Mereka mulai foto-foto di bawah air dan mulai membuat umbul ini dikenal," ujar Sentot.

Umbul Ponggok kian terkenal saat seorang pemilik akun Instagram bernama Aku Kuda Laut mulai mem-posting foto-foto di tempat itu. Kian banyak orang yang berkunjung. Pendapatan pun meningkat. "Peningkatan pengunjung terjadi pada 2014 hingga sekarang," ucapnya.

Kendala terbesar saat itu bagi pengelola adalah menyadarkan masyarakat sekitar untuk tidak mandi di umbul. Kala itu warga menjadikan umbul sebagai tempat mandi dengan menggunakan sabun dan sampo. Solusinya, warga dibangunkan toilet umum di sekitar umbul. "Kami akhirnya membuat larangan mandi di umbul, tapi solusinya ada. Tak sekadar melarang," kata Sentot.

Seiring dengan pendapatan yang meningkat, jumlah karyawan juga bertambah. Semua fasilitas dilengkapi. Namun, semua juga merasa perlu memberdayakan masyarakat Ponggok. Maka, dibuatlah kebijakan bahwa karyawan Umbul Ponggok harus berkartu keluarga Ponggok. "Jadi, masyarakat mendapat penghasilan dari umbul ini. Mereka merasa memiliki umbul ini," ujarnya.

Dengan penghasilan yang mencapai belasan miliar rupiah itu, BUMDes Tirta Mandiri tentu tidak lupa dengan masyarakatnya. Sebanyak 30 persen pendapatan masuk kas desa. "Sepuluh sampai 15 persen untuk CSR, 15 persen operasional, 20 persen pengembangan, dan 10 persen cadangan modal," jelas Sentot.

Nah, dengan share pendapatan tersebut, Desa Ponggok dengan kepala desanya mampu membuat kebijakan yang menyejahterakan. Akhirnya dibuatlah sejumlah fasilitas untuk warga. Yakni, premi BPJS Kesehatan semua warga Ponggok dibiayai. Ada pula program satu rumah satu sarjana berupa uang saku untuk anak yang kuliah serta program uang lauk-pauk untuk manula.

Desa tersebut juga mampu membangunkan rumah warganya yang tidak layak. Hingga saat ini sudah 130 rumah warga Ponggok yang dibangun dengan uang kas desa yang salah satu pendapatannya berasal dari Umbul Ponggok. "Ini bentuk rasa syukur kami," tutur Sentot.

Rencananya, ke depan dibuka Umbul Gedang, umbul yang memiliki konsep alam yang kuat. Umbul itu akan menargetkan wisatawan asing sebagai pengunjungnya. "Tidak boleh ada sentuhan besi atau modernisasi. Ini kami dapatkan idenya setelah belajar dari Desa Pentingsari, Sleman," paparnya.

Saat studi banding ke desa tersebut, ternyata tidak ada objek wisata. Tapi, yang dijual adalah suasana desa. Tidak ada sepeda motor, tapi ada cara membuat teh dan kopi. Kealamiannya membuat wisatawan asing antre untuk berkunjung. "Bahkan sampai harus inden untuk bisa mengunjunginya," ungkap Sentot. 

(*/c9/tom)

Berita Terkait

Rekomendasi

berita hari ini

Sign In

Belum memiliki aku? Sign Up