JawaPos Radar

Jurnalis iNews TV Diintimidasi Driver Taksi Online

06/08/2018, 03:30 WIB | Editor: Estu Suryowati
Jurnalis iNews TV Diintimidasi Driver Taksi Online
BUAT LAPORAN. Rossi tengah membuat laporan di Polsek Pontianak Kota, Sabtu (4/8) malam (Anugrah for Rakyat Kalbar/Jawa Pos Group)
Share this image

JawaPos.com - Seorang video jurnalis iNews TV, Rossi Yulizar, diduga menjadi korban intimidasi sejumlah driver taksi online di depan ruko kawasan Jalan Ampera, Kecamatan Pontianak Kota, Kota Pontianak, Sabtu (4/8) petang.

Kontributor MNC Media Group ini bahkan dipaksa untuk menghapus rekaman video di handphone (HP) miliknya.

Kala itu, para driver online tengah berkonflik dengan Rolly, pemilik RB Resto & Cafe. Bahkan HP Rossi dirampas. Kartu persnya ditarik. Dia juga nyaris dikeroyok para driver.


"Awalnya, jam lima sore saya lewat di Jalan Ampera. Tiba-tiba keributan antara sejumlah driver taksi online dan pemilik kafe, yang melarang mobil-mobil taksi online parkir sembarangan di depan kafe," kisah Rossi dikutip Rakyat Kalbar (Jawa Pos Group), Senin (6/8).

Sebagai seorang jurnalis, hati nurani Rossi terpanggil untuk meliput peristiwa itu. Ia tak mau ketinggalan momen tegang tersebut.

"Namanya jurnalis, ketika ada kejadian, ya langsung mengeluarkan kamera atau HP untuk merekam video kejadian itu," jelas Rossi.


Sebelum merekam kejadian, tentu Rossi mengeluarkan kartu persnya. Lalu dikalungkan. Dia juga sempat menghubungi kepolisian untuk mengabarkan kejadian perkelahian itu.


"Nah, setelah itu saya diteriaki salah satu driver taksi online dan langsung diikuti driver lainnya. Mereka mengepung saya dan memaki serta menarik baju sambil mendorong badan saya," beber Rossi.


Salah satu driver sempat mencegah agar tidak melakukan pemukulan terhadap Rossi. Namun, Rossi tetap diintimidasi.

"Mereka mengancam dan meminta saya agar segera menghapus gambar yang sudah direkam. Saya hapus di hadapan mereka. Eh, tiba-tiba salah seorang driver merampas HP saya dan membawanya pergi untuk mengecek sisa gambar," ungkapnya.

"Driver lain menarik id card di leher saya untuk difoto sembari mengancam saya agar tidak lagi mengambil gambar dan meliput kejadian itu," ungkap Rossi.


Usai intimidasi itu, para driver meninggalkan Rossi di lokasi kejadian dan melanjutkan perseteruan dengan pemilik kafe. "Kasus intimidasi dan kekerasan ini sudah saya adukan ke Polsek Pontianak Kota," tegas Rossi.


Kekerasan terhadap Rossi ni, juga disaksikan Abin, karyawan RB Resto & Cafe. Kepada awak koran ini, Abin mengiyakan bahwa Rossi hampir dikeroyok para sopir taksi online.

Bahkan Rossi, kata Abin, sudah dikepung. Rossi pun lanjut Abin, juga sempat bercerita dengannya terkait kejadian itu.


"Dia (Rossi) memang hampir dikeroyok juga. Awalnya di sini, lalu tak lama di kafe seberang. Kata dia (Rossi), sopir-sopir itu mengambil HP-nya dan minta jangan ambil gambar," beber Abin.


Sementara itu, dalam pelaporan kasus intimidasi ini, Rossi didampingi Koordinator Divisi Hukum Advokasi dan Serikat Pekerja Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Pontianak Boyke Sinurat, Sekretaris AJI Pontianak Reinaldo Sinaga, dan Koordinator Liputan iNews TV Kalbar Gunawan Bastian.

"AJI Pontianak bersama Rossi dan Koordinator Liputan iNews TV telah melaporkan kasus ini ke Polsek Pontianak Kota. AJI tetap akan mendampingi dan mengawal kasus ini. Kami pun berharap pihak kepolisian dapat menangani kasus ini sampai tuntas," harap Boy.


Pada intinya, lanjut Boy, AJI Pontianak sangat menyesalkan insiden penghalangan terhadap kerja jurnalis saat ingin meliput kejadian keributan di Jalan Ampera antara driver online dengan pemilik kafe.


"Padahal rekan kami sudah menunjukkan kartu pengenal media kepada beberapa orang driver, tapi mereka mengabaikan bahkan mengeluarkan kata-kata kasar dan menarik baju, menarik tali pengikat id card. Bahkan yang lebih menyakitkan kita, oknum driver mengambil secara paksa HP milik Rossi untuk menghapus video yang terekam di HP Rossi," kesal Boy.


Boy menyebut pelarangan terhadap jurnalis melakukan peliputan tidak boleh terjadi. Apalagi itu di ruang publik. Lokasi yang diliput Rossi, lanjut Boy, adalah ruang publik sehingga dia berhak melakukan tugas peliputan di lokasi tersebut.

"Pelarangan jurnalis menjalankan tugas adalah bentuk pengekangan kebebasan pers dan pelanggaran terhadap UU Pers Nomor 40 Tahun 1999," kata Boy.


Ketua Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Kalbar Gusti Yusri menambahkan, intimidasi terhadap jurnalis tidak dibenarkan. Ia mengecam dan sesalkan intimidasi itu. "Intimidasi terhadap wartawan ketika menjalankan profesinya tidak dibenarkan. Sangat disayangkan hal itu terjadi," ucapnya.

Menurut Yusri, kekerasan maupun ancaman terhadap jurnalis seharusnya tidak terjadi. Sebab dalam menjalankan profesinya, jurnalis dilindungi UU Pers. "Tidak ada alasan untuk mengintimidasi, untuk menghalang-halangi. Karena itu kebebasan (pers)," pungkas Yusri.

(jpg/est/JPC)

Berita Terkait

Rekomendasi

berita hari ini

Sign In

Belum memiliki aku? Sign Up