JawaPos Radar

Aturan Baru BPJS Dibayangi Ancaman Bayi Stunting

05/08/2018, 16:17 WIB | Editor: Imam Solehudin
Aturan Baru BPJS Dibayangi Ancaman Bayi Stunting
Aturan baru BPJS Kesehatan dinilai tak hanya mengancam keselamatan ibu yang tengah proses bersalin. Tetapi juga bayinya. (Dok.JawaPos)
Share this

JawaPos.com - Stunting atau anak yang bertubuh kerdil atau pendek masih menjadi permasalahan bangsa. Balita stunting tidak menerima nutrisi yang cukup mulai dari kandungan hingga usia dua tahun. Stunting ternyata bisa terjadi juga jika terdapat masalah pada bayi selama proses kelahirannya.

Setelah terbitnya aturan baru Peraturan Direktur Jaminan Pelayanan Kesehatan, Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS) Kesehatan yang dinilai membatasi layanan paket kelahiran bayi sehat, bisa mengancam bayi tumbuh stunting. Sebab jika ada masalah yang dialami bayi saat dilahirkan, pembiayaannya dibatasi.

"Angka stunting itu dalam jangka panjang bisa naik. Anak lahir cacat afiksi atau gagal napas lalu tak ada dokter anaknya. Kemudian saat anak mengalami infeksi pertumbuhan akan terganggu," papar Ketua Umum Ikatan Dokter Anak Indonesia Dr.dr. Aman Bhakti Pulungan, Sp.A(K), FAAP baru-baru ini.

Stunting memang disebabkan multifaktor. Salah satunya karena terjadi masalah pada kehidupan bayi di 1000 hari pertama kehidupan.

"Tentu dikaitkan dengan anak pendek, malnutrisi, dan penyakit kronik. Anak kalau yang dari lahir tidak baik, berpotensi sakit. Kalau dia sakit, gizinya kurang maka berpotensi jadi stunting," jelas dr. Aman.

Menurutnya, peraturan BPJS Kesehatan akan membawa dampak jangka panjang, lantaran setiap kelahiran bayi tentu berisiko.

"Di saat golden period itu jangan sampai bayi sakit, meninggal atau cacat. Ketika bayi lahir tapi kita tidak mempersiapkan semaksimal mungkin, maka risikonya besar," jelasnya.

Menurutnya, ada banyak dampak lain akibat peraturan tersebut. Di antaranya angka kematian bayi meningkat. "Mau apapun, dolar, utang dan lainnya, ketika kita tidak bisa menurunkan angka kematian bayi maka negara tidak sejahtera. Orang yang belum lahir saja enggak dijamin hidup, siapa yang mau lahir di indonesia?," pungkasnya.

(ika/JPC)

Berita Terkait

Rekomendasi

berita hari ini

Sign In

Belum memiliki aku? Sign Up