JawaPos Radar

Sektor Properti Lambat Sejak 2016, Ini Jurus Summarecon Manfaatkan LTV

05/08/2018, 12:30 WIB | Editor: Saugi Riyandi
Sektor Properti Lambat Sejak 2016, Ini Jurus Summarecon Manfaatkan LTV
()
Share this

JawaPos.com - PT Summarecon Agung Tbk (SMRA) menyambut positif terhadap kebijakan Bank Indonesia (BI) yang melonggarkan Loan To Value (LTV) untuk Kredit Pemilikan Rumah (KPR) mulai Agustus 2018.

Direktur Utama PT Summarecon Agung Tbk Adrianto P Adhi mengatakan meskipun belum dapat dirasakan dalam waktu dekat, namun akan berdampak multipierefect kedepannya. Melalui kebijakan tersebut dapat mendorong perbankan dalam pencairan KPR.

“LTV Summarecon menyambut sangat baik. Saya tau kesungguhan BI. Tapi LTV yang baru keluar Agustus belum ada dampak. Tapi nanti karena mengatur banyak hal selain ratio dan pencairan. Kita imbau BI agar aturan itu harus selalu dievaluasi,” ujarnya seperti diberitakan Jumat (5/8).

Di sisi lain, Adrianto mengaku, saat ini sektor properti belum cukup baik atau mengalami pertumbuhan yang lambat lantaran kondisi perekonomian yang bergejolak. Namun, dengan terus mencari peluang pihaknya tetap optimis industri sektor properti dapat terus tumbuh dengan jeli memperhatikan kebutuhan market.

“Kita sangat bersyukur Summarecon Bekasi bisa luncurkan produk baru dan Respon masyarakat calon pembeli luar biasa. Kita berharap meski kurs dolar depresiasi dan ekonomi tak begitu baik tapi ini tanda bisnis properti masih positif,” imbuhnya.

Menurutnya, jika dilihat secara makro ekonomi bisnis properti tengah mengalami pergeseran semenjak tahun 2016. Investor properti sebagian besar tengah mengambil sikap wait and see akibat dari depresiasi rupiah dan tahun politik.

Seperti diketahui, PT Summarecon Agung Tbk (SMRA) telah membangun perumahan hunian tapak di kawasan Bekasi Timur, Narogong untuk kelas menengah mulai harga Rp 348 juta bernama Srimaya Residence. Kali ini pihaknya menyasar konsumen atau pembeli yang mayoritas akan menjadi penghuni di kawasan tersebut.

“Kita buat produk cluster yang kita bangun ini ada huninya. Pembeli kita kebanyakan penghuni. Konsumen menyesuaikan daya beli. Kalo dulu pembeli kebanyakan Rp 1,2 miliar biasanya, sekarang karena penghuninya ada jadi di bawah Rp 1 miliar,” sebutnya.

(mys/JPC)

Berita Terkait

Rekomendasi

berita hari ini

Sign In

Belum memiliki aku? Sign Up