JawaPos Radar

Jelang Asian Games 2018

Beutifikasi Ala Anies-Sandi Percantik Jakarta

05/08/2018, 05:05 WIB | Editor: Bintang Pradewo
Beutifikasi Ala Anies-Sandi Percantik Jakarta
Perbaikan trotoar di sepanjang Jalan Jendral Sudirman, Jakarta Pusat. (Dok. JawaPos.com)
Share this image

JawaPos.com - Menjelang Asian Games 2018, wajah Jakarta kini menjadi segar karena adanya trotoar 'baru' di Jalan Sudirman-Thamrin. Proses pengerjaan beutifikasi dinilai cukup dikebut karena mengejar target perhelatan olahraga terbesar se-Asia tersebut.

Gubernur DKI Jakarta, Anies Baswedan pun menargetkan trotoar harus sudah rampung akhir Juni. Nyatanya, targetnya memang tercapai, setiap keramik telah terpasang dan guiding block untuk para difabel pun telah dipasang rapi.

Kepala Bidang Kelengkapan Prasarana Jalan dan Jaringan Utilitas (KPJJU) Dinas Bina Marga DKI Jakarta, Junaedi Nelman sempat menerangkan desain trotoar yang memang dikerjakan oleh 2 pengembang.

Beutifikasi Ala Anies-Sandi Percantik Jakarta
Perbaikan trotoar di sepanjang Jalan Jendral Sudirman, Jakarta Pusat. (Issak Ramadhan/ JawaPos.com)

"Kalaupi Jaya Konstruksi itu 2 km, lebarnya bervariasi antara 8-12 m. Taman selebar 2,5 m. Sedangkan, WIKA trotoar yang dibangun panjangnya 4 km dari Patung Pemuda sampai dengan Kali Krukut," terang Junaedi beberapa waktu yang lalu.

Dalam pembangunan trotoar, Dinas Bina Marga pun menjelaskan kalau baru ada lima halte baru yang dibangun oleh Jaya Konstruksi. Sedangkan, pihak WIKA masih menunda pengerjaan trotoar hingga Asian Games 2018 selesai.

"Ada 5 halte baru yang dibangun sisi barat mulai dari Le Meridien ada 3 halte, sisi timurnya ada 2 halte semua sudah dalam tahap penyelesaian. Strukturnya 2 meter x 8 meter. Kalau WIKA belum," terangnya.

Yang menarik perhatian masyarakat adalah trotoar kawasan Gelora Bung Karno (GBK) yang kian cantik. Dengan warna trotoar yang beragam, seperti warna hijau untuk pesepeda, sedangkan trotoar warna gelap untuk pejalan kaki. Lebih penting lagi, trotoar nantinya akan steril dari pedagang kaki lima dan kendaraan yang parkir.

Dalam pembangunannya, trotoar ini direnovasi menyusuri Jalan Tentara Pelajar, GBK, Halte Lapangan Panah, Gerbang Pemuda sampai Palmerah Selatan, sudah tertata rapi dan siap dilalui pejalan kaki, bahkan pengguna kursi roda.

Pemasangan tekstur kasar trotoar dapat membuat kaki berpijak dengan tidak licin. Bahkan, guiding block atau jalan pemandu disediakan bagi penyandang disabilitas, khususnya tunanetra. Trotoar pun didesain landai di tiap ujungnya untuk memudahkan para pengguna kursi roda.

Tidak dipungkiri trotoar menjadi lebih sejuk dilewati para pengunjung dikarenakan pohon- pohon yang tertanam rapi di sepanjang trotoar. Saat ini, pohon pun sudah mulai ditumbuhi daun, meskipun belum lebat.

Namun keindahan tersebut, tidak sebanding dengan trotoar yang mengarah ke Universitas Atmajaya. Trotoar sengaja ditanami rumput yang disebut-sebut sementara dan akan dilanjutkan menjadi trotoar seutuhnya saat Asian Games berlangsung.

Tidak sampai disitu, menjelang penyelesaian halte-halte di Trotoar Sudirman-Thamrin, terlihat ada beberapa halte yang menjorok ke dalam dan tidak memiliki jalan untuk menghubungkan halte dan jalan raya karena dibatasi oleh rumput ataupun tanaman.

Sesuai pantauan JawaPos.com di lokasi, terlihat beberapa orang bingung mencari jalan penghubung ke jalan raya. Pasalnya ada taman kecil tepat di depan beberapa halte, sehingga membuat para pengguna jalan kebingungan.

"Susah ini, masa saya harus jalan ke sana (menunjuk arah parkiran Atmajaya)? Harusnya arah halte bisa lurus kan terus naik bus. Lah ini, susah ada rumput-rumput gini," tutur salah satu mahasiswa Atmajaya, Reynold, 20, di Semanggi, Jakarta Selatan.

"Pasti sih yang nunggu bus jadi susah lewat, tapi karena saya naiknya ojek online ya nggak pengaruh banget. Kan tinggal jalan dikit, lagipula jadi lebih adem kelihatannya nggak gersang gitu," tutur Santi, 29.

Terkait hal tersebut, Wakil Gubernur DKI Jakarta, Sandiaga Uno menyatakan jalan 
yang membelah taman tersebut jelas berguna bagi para pengguna bus, sehingga tidak memilih atau berpikir menginjak dan merusak rumput.

"Saya tinjau langsung dan sesuai instruksi mereka menyiapkan connector atau seperti bridge, ramp. Ini jadi pemicu agar bus-bus maupun masyarakat berhenti di tempatnya," ujar Sandi di Hall Basket Gelora Bung Karno, Senayan, Jakarta Selatan, Rabu (25/7).

Selain itu adapula, kejadian yang viral saat sedang ada pembenahan trotoar. Sempat ramai di sosial media tentang tiang-tiang yang menghalangi jalan disabilitas di kawasan Sarinah, Jakarta Pusat dan menghalangi jalur sepeda di kawasan Gelora Bung Karno.

Sementara itu, Direktur Utama Pusat Pengelola Kompleks Gelora Bung Karno (PPK GBK) Winarto mengonfirmasi hal tersebut. Dirinya menuturkan memang tiang ada terlebih dulu dibanding desain dari jalur sepeda di trotoar.

"Memang begitu, duluan ada tiangnya kan itu tiang penerangan jalan umum. Kalau trotoar kan baru, memang semuanya masih memerlukan pekerjaan yang kecil-kecil seperti kabel-kabel dirapiin duluan, berikutnya tiang-tiang yang menggangu," tuturnya saat dihubungi JawaPos.com, Rabu (1/8).

Sedangkan, untuk tiang di kawasan Sarinah Kepala KPJJU Dinas Bina Marga DKI Jakarta, Junaedi Nelman mengonfirmasi bahwa tiang tersebut memang telah dipindahkan sejak (26/7), oleh Dinas Perhubungan.

"Benar, tiang traffic line sudah dipindah sama Dinas Perhubungan (Dishub) itu kegiatan dinas sementara, yang menuju ke saluran itu kegiatan Sudin Bina Marga Jakarta Barat," terangnya kepada JawaPos.com, Jumat (27/7).

Menurutnya, ada miss-komununikasi dalam pemasangan tiang di tempat tersebut. Maka dari itu, dirinya menekankan hal tersebut tidak akan terulang kembali.

Trotoar untuk menyambut Asian Games kini telah selesai. Namun, Pengamat Tata Kota dari Universitas Trisakti, Nirwono Joga melihat Anies masih memiliki tiga persoalan utama. Pertama, trotoar itu harus dibangun dengan memperhatikan sirkulasi pejalan kaki serta keterhubungan antara pejalan kaki dengan tujuannya.

"Ini yang seringkali tidak diperhatikan. Pemerintah hanya melihat kerapihan tapi bagaimana trotoar nyambung dengan halte Transjakarta atau Gedung sekitarnya tidak diperhatikan," tutur Nirwono, Sabtu (7/7).

Lalu yang kedua, trotoar di kawasan GBK secara teknis terlihat sangat ramah disabilitas ada guiding block bahkan trotoar dibuat landai di ujung. Namun, Nirwono melihat prakteknya akses Darin trotoar ke halte Transjakarta atau kereta terdekat sulit.

"Karena sirkulasi trotoar sulit terhubung dengan halte atau yang lain, ya trotoar jadi tidak efektif fungsinya dan tidak bisa digunakan para disabilitas alias mereka tidak bisa mandiri," jelas Nirwono.

Terakhir, Nirwono melihat masih adanya ketidaktegasan Pemprov DKI Jakarta dalam menjamin trotoar steril dari kegiatan apapun kecuali para pejalan kaki. Misalnya seperti, Pedagang Kaki Lima (PKL) di Tanah Abang, Benhil dan Jatinegara.

(rgm/JPC)

Berita Terkait

Rekomendasi

berita hari ini

Sign In

Belum memiliki aku? Sign Up