JawaPos Radar

Pemkab Banyuwangi: Jangan Percaya Ada yang Bisa Bantu Promosi Jabatan

04/08/2018, 12:24 WIB | Editor: Dhimas Ginanjar
Pemkab Banyuwangi: Jangan Percaya Ada yang Bisa Bantu Promosi Jabatan
Sekretaris Daerah Banyuwangi Djajat Sudrajat (Istimewa)
Share this image

JawaPos.com – Pengakuan pelaku perampokan dan percobaan pembunuhan terhadap Lurah Penataban Banyuwangi berbuntut panjang. Terutama, soal pernyataan bahwa uang yang dirampok disebut untuk memuluskan promosi Lurah Penataban. Namun, sebelum uang sampai ke pihak yang menjajikan, sudah dirampok.

Pemkab Banyuwangi merespons pengakuan sepihak dari pelaku bernama Agus Siswanto itu. Sekretaris Daerah Banyuwangi Djajat Sudrajat menegaskan manajemen birokrasi tidak menerima hal seperti itu. Sebab, manajemen birokrasi di Banyuwangi dibangun berbasis prestasi.

’’Saya tegaskan sekali lagi kepada seluruh jajaran aparatur sipil negara (ASN) dan masyarakat, jangan percaya bila ada orang yang mengatakan bisa membantu promosi jabatan di Banyuwangi. Anda akan kecewa karena itu penipuan,” tegasnya.

Meski demikian, Djajat mengatakan kalau tim Inspektorat sebagai pengawas internal sedang bergerak melakukan penelusuran. Pengakuan sepihak dari tersangka kasus percobaan pembunuhan dan perampokan tersebut akan ditelusuri kebenarannya.

”Sebenarnya garisnya jelas, tidak ada promosi jabatan berdasarkan kompensasi tertentu. Jika ada oknum ASN ikut menjanjikan sesuatu, akan langsung ditindak sesuai disiplin ASN. Sanksinya bisa pidana. Silakan laporkan,” tegas Djajat.

Seperti diberitakan, Lurah Penataban Banyuwangi Wilujeng Esti mengalami percobaan pembunuhan dan perampokan oleh Agus Siswanto. Agus sebenarnya merupakan teman korban sendiri. Menurut pengakuan Agus, Wilujeng akan mengantarkan uang ke seorang tokoh masyarakat yang menjanjikan bisa membantu promosi jabatan.

Namun, di tengah jalan, Agus yang menemani Wilujeng mencoba membunuh sang lurah dan mengambil uang itu. Agus kini telah ditetapkan sebagai tersangka. Pelaku merupakan seorang residivis yang pernah divonis bersalah karena kasus penipuan pada 2015.

Djajat menambahkan, dari pengakuan sepihak tersebut, sebaiknya semua mengambil pelajaran bahwa tak akan mungkin bisa promosi jabatan dilakukan berdasarkan kompensasi tertentu, apalagi sampai mencatut nama tokoh masyarakat.

”Jadi jangan tertipu. Ini kan ada tokoh masyarakat, dicatut namanya oleh seseorang, lalu nama tokoh itu dijual ke lurah. Ya pasti tidak akan bisa karena birokrasi ini manajemen berbasis prestasi,” ujar Djajat.

Salah satu contoh konkrit manajemen berbasis prestasi itu, sambung Djajat, dilakukan dengan mempercayakan sejumlah ASN muda berprestasi untuk memegang jabatan penting. Misalnya, pentolan Dinas Pariwisata yang berusia muda diberi kepercayaan penuh karena berhasil membangun wisata dengan sangat baik hingga level internasional.

Demikian pula ASN tergolong muda menjadi pentolan Dinas Perhubungan karena bekerja keras mewujudkan beragam rute penerbangan dari Jakarta, Surabaya, dan kini disiapkan rute internasional. Di Bappeda, geraknya didominasi anak muda yang melahirkan sistem e-government dan e-planning yang menyabet penghargaan Bappenas. Di Dinas Pekerjaan Umum, sejumlah kepala bidangnya berusia muda dengan target pengerjaan infastruktur yang terukur setiap tahunnya.

”Masih banyak contoh promosi ASN yang memang basisnya kinerja. Meski dia muda, diberi kepercayaan penuh. Syaratnya cuma dua, yaitu mampu dan mau bekerja,” pungkas Djajat.

(dim/JPC)

Berita Terkait

Rekomendasi

berita hari ini

Sign In

Belum memiliki aku? Sign Up