JawaPos Radar

7 Bulan, 12 Bayi Dibuang

04/08/2018, 09:45 WIB | Editor: Sofyan Cahyono
Bayi dibuang
HIDUP: Bayi berjenis kelamin laki-laki yang dibuang di Dampit, diberi nama Arya Riski. (Istimewa)
Share this image

JawaPos.com - Kasus pembuangan bayi masih marak terjadi di wilayah Malang Raya. Lokasi pembuangannya beragam. Mulai di sungai, tempat sampah, hingga ditinggalkan begitu saja di sekitaran rumah warga. Mirisnya, hanya sebagian kecil kasus yang berhasil diungkap.

JawaPos.com menghimpun data dari Woman Crisis Center (WCC) Dian Mutiara. Sepanjang Januari-Juli 2018, tercatat ada 12 kasus pembuangan bayi di wilayah Malang Raya. Jumlah tersebut mengalami peningkatan dibanding tahun lalu yang ada 12 kasus.

Untuk di Kota Malang saja, terdapat 3 kasus pembuangan bayi selama tujuh bulan. Ketiga bayi yang dibuang ditemukan sudah dalam kondisi tidak bernyawa.

Bayi
ILUSTRASI: Bayi. (Dok. JawaPos.com)

Jasadnya masing-masing ditemukan di wilayah Lowokwaru, Kedungkandang, dan Kebonsari. "Yang di kota, deteksinya dari penemuan jenazah bayi," ujar Consultant WCC Dian Mutiara, Sri Wahyuningsih dalam keterangannya.

Kemudian berdasarkan catatan JawaPos.com, kasus pembuangan bayi di wilayah Malang Raya sepanjang 2018 sudah terjadi sejak 2 Januari lalu. Saat itu salah satu warga yang hendak menjaring ikan di Sungai Kalisari, Desa Mangliawan, Kecamatan Pakis, Kabupaten Malang, menemukan jenazah bayi laki-laki.

Selanjutnya pada Senin (22/1), mayat bayi laki-laki ditemukan terbungkus dengan handuk putih. Pelaku pembuangan adalah Kutiba, 26, warga Poncokusumo, Kabupaten Malang. Dia membuang bayinya yang sudah dalam kondisi tak bernyawa di depan musala Desa Aran-aran.

Saat meninggalkan bayi, janda itu meninggalkan secarik kertas yang menunjukkan nama si jabang bayi. Dia menamakan jenazah anaknya M Reza Aditama.

Hanya selang dua hari, Kutiba yang melahirkan seorang diri di kandang sapi itu berhasil diamankan petugas dari Polres Malang. Dia mengaku tidak membunuh anaknya.

Di hadapan polisi, Kutiba mengaku melahirkan seorang diri anaknya yang dihasilkan dari hubungan di luar nikah. Karena tidak ada pengawasan medis, bayi yang dilahirkan akhirnya meninggal dunia. Alasannya, kepala bayi terbentur lantai saat dilahirkan.

Kabar berikutnya pada 3 Februari lalu. Salah satu warga yang hendak mencari ikan di Desa Sengguruh, Kecamatan Kepanjen, menemukan sesosok bayi yang sudah mengapung. Bayi ini berjenis kelamin laki-laki.

Lalu, penemuan bayi terjadi di Desa Kademangan, Kecamatan Pagelaran pada 25 Maret 2018. jasad bayi perempuan diketahui mengapung di sungai setempat.

Riyanto, 49, warga sekitar yang menemukan bayi tersebut ketika hendak pergi ke sawah. Awalnya, Riyanto tak menaruh curiga saat mengetahui ada barang yang mengapung di tengah sungai.

Ketika didekati, barulah dia sadar bahwa itu adalah jenazah bayi perempuan. Penemuan itupun kemudian dilaporkan pada petugas berwenang. "Ketika ditemukan, sudah dalam kondisi tak bernyawa," kata Kapolsek Pagelaran AKP Sumaryono waktu itu.

Mayat bayi kembali ditemukan di Desa Wandanpuro, Kecamatan Bululawang, Jumat (20/4). Sutrisno, 38, warga setempat, menemukan mayat bayi berjenis kelamin laki-laki. Dia menemukan jasad yang sudah membusuk di pagar pemakaman desa setempat.

Dua bulan berselang, kasus pembuangan bayi kembali terjadi. Kali ini di Desa Sidorenggo, Kecamatan Ampelgading, Kabupaten Malang. Berbeda dengan lima kasus sebelumnya, bayi berjenis kelamin perempuan ditemukan dalam kondisi masih hidup.

Bayi berkulit putih mulus dengan bibir merah itu dibuang di kawasan rumah Kini, 80, warga setempat, Senin (2/7) malam. Wahyu, 15, yang pertama kali menemukan, sempat melihat ada sepasang laki-laki dan perempuan berboncengan dengan sepeda motor. Mereka meletakkan bayi itu di sekitar rumahnya.

Panjang bayi 48 sentimeter dan berat badan 2,9 kilogram. Di paha kanan dan kiri bayi terdapat tanda yang diduga bekas suntikan. "Kondisi bayi hidup. Usianya diperkirakan masih sehari ketika ditemukan," ujar Kasubbag Humas Polres Malang AKP Farid Fathoni.

Selang sehari, bayi kembali dibuang dalam kondisi hidup. Lokasinya di Desa Bumirejo, Kecamatan Dampit, Selasa (3/7). Bayi berjenis kelamin laki-laki itu ditinggalkan seseorang di belakang rumah warga bernama Saniyah, 43.

Selanjutnya beralih ke Kota Malang. Januari lalu, Polres Malang Kota berhasil mengungkap kasus pembuangan bayi yang dilakukan mahasiswa. Saat itu, warga digegerkan dengan temuan bayi mungil berjenis kelamin perempuan di saluran sungai kawasan Kecamatan Lowokwaru, Kota Malang.

Bayi tersebut ditemukan salah seorang warga dengan kondisi sudah meninggal dan berwarna pucat. Setelah dilakukan penelusuran, rupanya pelaku pembuangan tak lain ibu kandungnya sendiri.

Yakni, UY, 22, seorang mahasiswi Perguruan Tinggi Negeri (PTN) di Kota Malang. Hasil pemeriksaan, pelaku malu telah melahirkan bayi perempuan hasil hubungan intim dengan laki-laki yang diakui sebagai temannya.

Dari sekian banyak kasus, bayi yang dibuang rata-rata baru berusia dalam hitungan hari. Bahkan tak jarang, ari-arinya masih menempel di perut saat bayi dibuang .

WCC Dian Mutiara sendiri tidak bisa mendeteksi pelaku secara pasti. Artinya, tidak bisa dipukul rata apakah pelaku merupakan mahasiswa atau masyarakat umum.

Memang, beberapa temuan pembuangan bayi berada di sekitaran kampus. Malang sendiri dikenal sebagai kota pendidikan. Banyak mahasiswa dari berbagai penjuru daerah yang mengeyam pendidikan di sejumlah kampus di Malang. "Tapi kami tidak bisa diidentifikasi berapa banyak kasus mahasiswa (yang membuang bayi)," jelas Sri Wahyuningsih.

Di sisi lain, aparat kepolisian di Malang tak sekadar melakukan penindakan jika berhasil menangkap pelaku pembuangan bayi. Petugas juga melakukan pencegahan dengan melakukan sosialisasi kepada masyarakat.

Kapolres Malang AKBP Yade Setiawan Ujung menjelaskan, pihaknya sudah melakukan beragam upaya untuk menekan angka pembuangan bayi di wilayahnya. Salah satunya dengan gencar melakukan sosialisasi.

Sasaran sosialiasi adalah sekolah-sekolah. Selain itu, polisi juga aktif di media. Baik media massa atau media sosial. "Karena yang rentan itu anak remaja. Usia sekolah yang dikhawatirkan melakukan hubungan di luar nikah," terang Ujung.

Ketika melakukan olah tempat kejadian perkara (TKP) pembuangan bayi, korps baju coklat sekaligus melakukan sosialisasi kepada tokoh agama, tokoh masyarakat bahkan hingga RT.

Pengurus RT di wilayah Kabupaten Malang diminta mendata perempuan hamil di kawasannya. Sehingga ketika terjadi kasus pembuangan bayi, maka bisa segera dideteksi. "Tokoh agama, masyarakat dan RT juga dilibatkan untuk pencegahan pembuangan bayi," imbuh Ujung.

Kasat Reskrim Polres Malang AKP Adrian Wimbarda menambahkan, kasus pembuangan bayi tetap diusut. Petugas melakukan olah TKP dan penyisiran. "Tetap kami tangani. Sudah ada beberapa yang ditangkap," tegasnya.

(fis/tik/JPC)

Berita Terkait

Rekomendasi

berita hari ini

Sign In

Belum memiliki aku? Sign Up