JawaPos Radar

Suami Tidak Nafkahi Istri Jadi Faktor Tren Perceraian di Bandung

04/08/2018, 05:55 WIB | Editor: Bintang Pradewo
Suami Tidak Nafkahi Istri Jadi Faktor Tren Perceraian di Bandung
Loket pendaftaran perceraian di PTA Bandung, Jawa Barat. (Siti Fatonah/ JawaPos.com)
Share this image

JawaPos.com - Bandung diklaim sebagai salah satu Kota dengan tingkat kebahagian masyarakatnya yang tinggi. Namun juga dibarengi dengan tren perceraian yang cukup tinggi dan meningkat setiap tahunnnya.

Ketidakpuasan finansial atau perekonomian keluarga menjadi faktor utama pasangan suami istri ini bercerai. Suami tidak mampu menafkahi keluarga hingga akhirnya istri memilih gugatan cerai di peradilan tinggi agama.

Panitera Muda Gugatan Pengadilan tinggi agama Bandung, Asep Kustiwa menyebut ekonomi jadi latar belakang utama perceraian tinggi di Kota Bandung.

"Latar belakang, faktor ekonomi karena suami tidak bertanggungjawab, tidak menafkahi istri dan anak-anaknya," kata Asep kepada JawaPos.com, Jumat (3/8).

Walaupun ada hal lain seperti ketidakcocokan atau bahkan kekerasan dalam rumah tangga (KDRT) hanya sebagian kecil saja. Sehingga jika dilihat persentasenya akan sangat jauh perbedaanya. "Kalau KDRT ada, cuma presentasenya jauh dibanding faktor ekonomi," ucapnya.

Penggugat Sinta, 37, warga Bandung mengakui sudah tidak ada kecocokan lagi dengan suaminya. Karena satu alasan sang suami tidak menafkahi sejak memiliki anak pertama hingga keempat. Pengakuannya keduannya sudah mengalami luka liku dalam bahtera rumah tangga selama 20 tahun.

"Sudah tidak ada kecocokan lagi, kami sudah rujuk empat kali. Tapi saat ini sudah puncaknya jadi memilih untuk pisah," ungkapnya.

Alasan lainnya karena adanya KDRT berupa pemukulan. Sehingga tidak ada jalan lain selain perceraian. Bahkan sejak awal pernikahan, Sinta yang berprofesi wiraswasta ini menjadi dua peran sekaligus dalam keluarga yakni menjadi seorang Ibu dan ayah.

"Dari anak pertama yang sekarang umur 19 tahun sampai si kecil umur 6 tahun, saya jalani dua peran, Ibu sama ayah. Karena suami saya tidak menafkahi," tuturnya.

Saat meluapkan isi hati, terlihat Ibu empat orang anak ini sangat kesal kepada suaminya. Mata sedikit memerah dan intonasi yang semakin menunjukan amarah dan kesedihan yang medalam.

"Namanya perceraian ya hal yang sangat menyedihkan. Tapi kalau diteruskan pun akan lebih sakit," ucapnya.

Untuk diketahui, Persentase pendaftar perceraian adalah pihak perempuan selaku penggugat lebih tinggi yakni 70 persen. Sedangkan pihak laki-laki sebagai pemohon hanya sebanyak 30 persen, dengan tinggi tren perceraiang periode Januari-Juli 2018 yakni 3.342 perkara.

Dengan tingginya tren perceraian di Kota Bandung, dalam artian kesadaran masyarakat Bandung sangat tinggi dengan mengajukan gugatan atau permohonan perceraian di pengadilan tinggi agama Kota Bandung. 

(ona/JPC)

Berita Terkait

Rekomendasi

berita hari ini

Sign In

Belum memiliki aku? Sign Up