JawaPos Radar

OMG! 500 Warga Bandung Ajukan Cerai Setiap Bulan

04/08/2018, 00:55 WIB | Editor: Bintang Pradewo
OMG! 500 Warga Bandung Ajukan Cerai Setiap Bulan
Ruang pendaftaran perceraian Pengadilan Tinggi Agama Bandung, Jalan Terusan Jakarta. Bandung, Jumat (3/8). (Siti Fatonah/ JawaPos.com)
Share this

JawaPos.com - Pengadilan Tinggi Agama (PTA) Kota Bandung mendapati tren perceraian yang meningkat dari tahun ke tahun. Bahkan pada periode Januari hingga Juli kemarin terdata sangat tinggi.

Data yang dihimpun JawaPos.com dari kantor PTA Bandung sebanyak periode Januari-Juli 2018 sebanyak 3.342 perkara dengan perkara kontensius sekitar 700 sekian.

Panitera Muda Gugatan, Asep Kustiwa mengatakan pada Juli 2018 angkat perceraian di Kota Bandung meningkat drastris. Pasalnya setiap bulan rata-rata pendaftar baik dari pihak penggugat maupun pemohon sebanyak 500 orang. Namun pada Juli 2018 hampir 700 orang.

"Tren perceraianan pada Juli justru meningkat sekitar 681 perkara. Karena biasanya kami hanya menerima perkara itu rata-rata diangka 500," kata Asep saat ditemui di kantor pengadilan tinggi agama Bandung, Jumat (3/8).

Tren tersebut meningkat dari tahun sebelumnya. Diketahui periode Januari-Desember 2017 tercatat sebanyak 6.342 perkara. Dengan perbandingan perkara kontensius dalam artian perkara yang mengandung sengketa antara dua pihak atau lebih dan perkara volunter atau perkara yang tidak mengandung sengketa.

"Yakni perkara kontensiun 5.680 dan perkara volunter 662 perkara, jadi kalau ditotal sebanyak 5.342 perkara," ujarnya.

Dalam hal ini, ada beberapa penyebab yang melatar belakangi tingginya perceraian di Kota Bandung yakni faktor ekonomi dan kekerasan dalam rumah tangga (KDRT).

"Karena suami tidak bertanggung jawab, tidak menafkahi istri dan anak-anaknya, itu mayoritas penyebab mereka cerai di sana. Kalau KDRT ada cuma presentasenya jauh dibanding faktor ekonomi," jelasnya.

Persentase antara penggugat dan dan pemohon pun sangat timpang. Karena pihak perempuan sekitar 70 persen melakukan gugatan, sedangkan laki-laki hanya 30 persennya saja.

Dalam pantauan JawaPos.com di ruang pendaftaran terlihat mayoritas perempuan. Tiga meja pendaftara dan satu kasir melayani para pendaftar yang membawa beberapa perayaratakan tang dibutuhkan.

Namun terpantau, para pendaftar tidak menunjukan rasa sedih melainkan sumringah dan dibarengi tawa dan candaan teman yang tengah mengantarnya di ruang tunggu pendaftaran pengadilan tinggi agama Bandung. 

(ona/JPC)

Berita Terkait

Rekomendasi

berita hari ini

Sign In

Belum memiliki aku? Sign Up