JawaPos Radar

Hasil Investigasi Kontras

Densus 88 Kerap Lakukan Pelanggaran HAM Terhadap Terduga Teroris

03/08/2018, 19:10 WIB | Editor: Kuswandi
Diskusi penanganan kasus terorisme
Sejumlah narasumber dalam acara diskusi dengan tajuk 'Menyikapi Perpres Pelibatan TNI dalam Penanganan Terorisme' di Puri Imperium, Kuningan, Jakarta Selatan, Jumat (3/8). (Ridwan/JawaPos.com)
Share this image

JawaPos.com - Peneliti Komisi untuk Orang Hilang dan Korban Tindak Kekerasan (Kontras) Feri Kusuma membuka hasil investigasinya terkait pelanggaran HAM yang dilakukan oleh Tim Densus 88 dalam menangani terduga terorisme. Feri menilai aparat kepolisian semena-mena kepada seorang yang baru dianggap sebagai terduga teroris.

"Kami beberapa kali melakukan investigasi kepada seorang yang sebagai terduga teroris, tapi di eksekusi mati di tembak di sisi yang mematikan. Polisi untuk membenarkan, mereka mengklaim bahwa itu teroris, langsung menyebut bahwa mereka melakukan perlawanan," kata Feri dalam diskusi 'Menyikapi Perpres Pelibatan TNI dalam Penanganan Terorisme' di Puri Imperium, Kuningan, Jakarta Selatan, Jumat (3/8).

Menurut Feri, tindakan eksekusi mati sering dilakukan oleh Tim Densus 88 kepada seorang warga yang baru dianggap sebagai terduga teroris. Dia pun mencontohkan dalam investigasinya saat aparat kepolisian menangani terduga teroris di Tulungagung, Jawa Timur.

Feri menjelaskan, dua terduga teroris di Tulungagung langsung di tembak mati oleh tim Densus 88, padahal fakta sebenarnya seorang terduga teroris tersebut tidak melakukan perlawanan.

"Dia di eksekusi dalam jarak yang sangat dekat dan saya dapat fotonya langsung dari teman jurnalis yang meliput, bagaimana titik luka yang dialami oleh korban," sebut Feri.

Selain itu, Feri pun mencontohkan saat peristiwa pergantian tahun 2013-2014 polisi menyebut terjadi kontak senjata dengan terduga teroris selama 8 jam. Namun Feri heran akan hal tersebut, pasalnya persenjataan polisi tidak mampu melakukan kontak senjata selama itu.

"Tidak mungkin terjadi kontak senjata selama 8 jam, karena kualitas persenjataan polisi itu tidak mampu selama itu hanya mampu 4-5 jam, saya coba turun kesana dan yang terjadi seperti disampaikan oleh kepolisian, tidak ada kontak senjata, tidak ada bom, tapi fakta yang sebenarnya adalah rumah ini langsung di sergap kepolisian," ungkap Feri.

Oleh karena itu, Feri menilai terdapat pelanggaran HAM yang dilakukan oleh Densus 88 dalam menangani terorisme. Terlebih jika TNI ikut dilibatkan, akan semakin menimbulkan masalah baru terhadap warga yang dianggap sebagai terduga teroris.

"Apalagi kalau TNI dilibatkan ini akan lebih susah, akan sulit memastikan keselamatan warga negara yg masih diduga sebagai teroris," tukasnya.

Terpisah terkait adanya hasil investigasi yang dilakukan Kontras, Kadiv Humas Mabes Polri Irjen Pol. Setyo Wasisto belum merespon panggilan telepon yang dilayangkan JawaPos.com. Sementara, Kabag Penum Mabes Polri Kombes Pol Syahar Diantono mengaku akan mengeceknya terlebih dahulu." Nanti saya cek dulu, kita lagi rapat," tukasnya kepada JawaPos.com.

(rdw/JPC)

Berita Terkait

Rekomendasi

berita hari ini

Sign In

Belum memiliki aku? Sign Up