JawaPos Radar

Sri Mulyani: Lulusan Ekonomi Harus Melek Digital

03/08/2018, 17:35 WIB | Editor: Budi Warsito
Sri Mulyani: Lulusan Ekonomi Harus Melek Digital
Menkeu, Sri Mulyani menghadiri Rapat Pleno Asosiasi Fakultas Ekonomi Bisnis Indonesia (AFEBI) di Medan, Jumat (3/8). (Prayugo Utomo/JawaPos.com)
Share this

JawaPos.com - Menteri Keuangan Republik Indonesia, Sri Mulyani hadir dalam Rapat Pleno Asosiasi Fakultas Ekonomi Bisnis Indonesia (AFEBI) di Medan, Jumat (3/8). Dia didapuk sebagai pembicara dihadapan Dekan Fakultas Ekonomi dari hampir semua perguruan tinggi yang ada di tanah air.

Dalam forum itu, Sri Mulyani mengingatkan agar lulusan Fakultas Ekonomi punya kemampuan dan pemahaman yang mumpuni dalam ekonomi digital. Menurut Sri Mulyani, ekonomi digital saat ini sudah punya dampak terhadap peningkatan produktifitas negara. Ekonomi digital juga berdampak pada perubahan dinamika bisnis.

Dijelaskan Sri Mulyani, dari dimensi kebijakan publik saat ini, ekonomi Indonesia relatif stabil dengan pertumbuhan ekonomi rata-rata 5 persen. Pada tahun ini juga, diproyeksikan bisa menyentuh angka 5,2 persen ditengah berbagai tantatangan yang dihadapi.

Dalam tiga tahun terakhir, tingkat inflasi berada di angka 3,5 persen. Selanjutnya, tingkat kemiskinan dan pengangguran juga turun masing-masing 9,8 persen dan 15,2 persen.

Selain itu, kebijakan fiskal APBN juga dinilainya dalam kondisi yang relatif sehat dan bertahan. Khususnya pendapatan negara yang kini sudah ada di posisi 44% dari capaian tahun lalu yang hanya 41%.

Ekonomi digital ternyata juga memicu tantangan. Terutama soal pengangguran dan pajak. "Turn over job tinggi sekali. Ada konsekuensinya terhadap pengangguran dan pajak," terangnya.

Ekonomi digital juga dapat menjadi ancaman bagi perpajakan. Umumnya dari sisi objek pajak. Untuk itu, visi kedepannya adalah bagaimana mengantisipasi subjek dan objek pajak serta mengumpulkannya dari sektor ekonomi digital.

Sehingga, Sri Mulyani menganggap, Fakultas Ekonomi dengan lulusannya harus memahami betul soal ekonomi digital. Karena tantangan lapangan pekerjaan adalah teknologi yang semakin berkembang.

"Kita harus merespon perubahan teknologi. Harapan saya, FEB menghasilkan ekonom dan orang yg paham basic eco-thinking. Mahasiswa FEB harus dilatih bicara berdasarkan fakta dan bukti, tidak hanya statistik," paparnya.

Dia meminta, para lululusan Fakultas Ekonomi juga menguasai data, karena saat ini sudah menjadi semacam "tambang" yang baru. Bukan hanya menjadi penyuplai. Terlebih, persoalan pajak dan objek pajak juga akan semakin kompleks dengan perkembangan ekonomi digital.

"Institusi akan mempengaruhi ekonomi sehingga riset harus digiatkan. Para dosen juga harus bisa mendidik ekonom andal," kata Menkeu.

Terpisah, Ketua Dewan Pengurus Nasional (DPN) AFEBI, Suharnomo, mengatakan, forum ini juga membahas soal pembukaan program studi (Prodi) Ekonomi digital. "Semua ilmu ekonomi tetap diberikan seperti biasa, tetapi nanti dikombinasikan dengan pengetahuan IT atau digital," ujarnya.

Rencana soal Prodi itu akan segera dimatangkan. Peserta forum juga sudah satu visi soal rencana itu. Targetnya, Prodi Ekonomi digital akan diimplementasikan pada tahun depan.

"Hari ini kami mengundang Menteri Keuangan dan Menristek Dikti untuk memberikan inspirasi yang kami butuhkan untuk membuat kurikulumnya," tandasnya.

(pra/JPC)

Berita Terkait

Rekomendasi

berita hari ini

Sign In

Belum memiliki aku? Sign Up