JawaPos Radar

Pilpres 2019

Sulitnya Prabowo Solidkan PKS dan Demokrat

03/08/2018, 17:00 WIB | Editor: Estu Suryowati
Sulitnya Prabowo Solidkan PKS dan Demokrat
Ketua Umum Partai Demokrat Susilo Bambang Yudhoyono saat menyambut kedatangan Ketua Umum Partai Gerindra Prabowo Subianto di Jakarta, Senin (30/7). (Dery Ridwansah/JawaPos.com)
Share this

JawaPos.com - Tarik-menarik masih tampak di antara partai-partai pendukung Prabowo Subianto. Utamanya soal sosok calon wakil presiden (cawapres) yang akan mendampingi Prabowo di 2019.

Di satu sisi, PKS bersikukuh supaya kadernya bisa menjadi cawapres. Demokrat pun sama. Agus Harimurti Yudhoyono (AHY) yang memiliki elektabilitas tinggi dinilai pantas mendampingi Prabowo.

Tak kunjung selesainya negosiasi dengan kedua partai diduga lantaran PKS maupun Demokrat sama-sama ngotot mengusung kadernya untuk mendampingi Prabowo.

Sulitnya Prabowo Solidkan PKS dan Demokrat
Presiden PKS Sohibul Iman ditemui saat melayat Yusuf Supendi, Jumat (3/8). (Gunawan Wibisono/JawaPos.com)

Direktur Eksekutif Saiful Mujani Research and Consulting (SMRC) Djayadi Hanan menyampaikan, bisa saja nantinya PKS akan mencabut dukungannya dari Prabowo. Pasalnya ijtima ulama telah memunculkan nama Ketua Majelis Syuro PKS Salim Segaf Al Jufri.

"PKS mungkin mengambil sikap tak bergabung dengan Prabowo bila cawapres tidak dari PKS," ujar Djayadi saat dihubungi, Jumat (3/8).

Terpisah, pengamat politik dari Sinergi Masyarakat untuk Demokrasi Indonesia (Sigma) Said Salahudin menilai, Partai Demokrat memiliki agenda politik mengajukan AHY di Pilpres 2019.

"Safari politik AHY ke sejumlah daerah dan pemampangan balihonya secara masif di berbagai pelosok negeri menjadi indikasi kuat dari agenda itu," katanya.

Penilaian tersebut, kata Said, diperkuat dengan pernyataan elite-elite Demokrat yang terus bersuara tentang peluang AHY menjadi capres atau cawapres.

Oleh karena itu, sangat tidak logis jika Ketua Umum Partai Demokrat Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) menyatakan berkoalisi dengan Gerindra tanpa mengajukan nama AHY sebagai cawapres.

"Apa yang dikatakan oleh SBY itu, menurut saya agak mengganggu akal sehat kita. Tidak logis," katanya.

"Sebab, agenda untuk mengusung AHY sebagai cawapres tentu tidak bisa dilakukan secara pasif. Melainkan harus dibarengi oleh sebuah proses komunikasi yang intensif dengan pihak capres dan parpol lainnya," ungkap Said.

Seperti diketahui, PKS bersikukuh mengajukan nama-nama kadernya untuk dijadikan cawapres. Khususnya setelah nama Ketua Majelis Syuro PKS Salim Segaf Al Jufri direkomendasikan ijtima ulama menjadi cawapres.

PKS mempertimbangkan keluar dari koalisi pendukung Prabowo jika kadernya tak dijadikan cawapres. Bahkan, Direktur Pencapresan PKS Suhud Aliyudin menyebut, bisa saja partainya membuka opsi abstain pada Pilores 2019 jika Prabowo tidak memilih kader PKS sebagai cawapres.

(ce1/gwn/JPC)

Berita Terkait

Rekomendasi

berita hari ini

Sign In

Belum memiliki aku? Sign Up