JawaPos Radar

BPBD Jateng Waspadai Kebakaran di Gunung

03/08/2018, 16:02 WIB | Editor: Sofyan Cahyono
Kebakaran Hutan dan Lahan
Ilustrasi. (Dok. JawaPos.com)
Share this image

JawaPos.com - Musim kemarau meningkatkan potensi kebakaran. Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Jawa Tengah (Jateng) pun meningkatkan kewaspadaan. Terutama mewaspadai kebakaran di kawasan gunung atau perbukitan. Sebab proses pemadamannya akan menjadi lebih sulit.

"Di Jateng ini beberapa tahun yang lalu pernah hampir (hutan) seluruh gunung terbakar. Sulit kalau terjadi di perbukitan. Karena (pemadaman) yang memungkinkan pakai model manual," kata Kepala BPBD Jateng Sarwa Pramana saat dijumpai di Kantornya, Semarang, Jumat (3/8).

Secara manual maksudnya pemadaman tidak memungkinkan menggunakan helikopter untuk mengangkut air. Pasalnya, sumber mata air sendiri untuk saat ini tidak cukup tersedia.

"Kalau bicara pakai heli, pasti ada sumber mata air seperti sungai-sungai besar. Jangan dibayangkan pemadaman api (seperti di) Riau, Karhutla (kebakaran hutan dan lahan) di Jawa Tengah nggak bisa," sambungnya.

Untuk itu, Sarwa mengimbau kepada para penjaga kawasan gunung untuk meningkatkan pengawasan. Terlebih jika daerah tersebut dibuka untuk lokasi pendakian. "Kalau membuat api unggun, ekstra hati-hati. Pada saat mereka naik, pembekalan air juga terbatas. Tiupan angin juga kencang," ujar Sarwa.

Imbauan juga diberikan kepada masyarakat yang tinggal di kawasan gunung. Mereka diminta untuk tak sembarangan membuang puntung rokok dan berhati-harti saat memasak menggunakan kayu bakar.

"Kalau pembakaran paling sering di Kudus, lahan tebu. Sudah hampir 3-4 kali terjadi. Untuk itulah, kami taruh satu mobil damkar untuk back up. Di Kudus, kami juga dukung dengan tanki air dan satu truk. Di sana sering terjadi, atau mungkin dibakar saya tidak tahu," tandasnya.

Seperti diketahui, Jateng sejak sebulan terakhir dilanda kemarau yang berujung bencana kekeringan ekstrem. Berdasarkan data BPBD per Jumat (3/8) ini, ada 112 kecamatan dan 276 desa di 21 kabupaten/kota yang terdampak kekeringan. Terparah di Kabupaten Grobogan, disusul Kebumen, Purworejo, Sragen, dan Cilacap.

(gul/JPC)

Berita Terkait

Rekomendasi

berita hari ini

Sign In

Belum memiliki aku? Sign Up