JawaPos Radar

Ekspor Tanaman Hias Melonjak, Bidik Pasar Asia-Eropa

03/08/2018, 15:23 WIB | Editor: Imam Solehudin
Tanaman Hias
Direktur Jenderal Hortikultura Kementan, Suwandi ketika meninjau salah satu sentra budidaya tanaman hias di Bogor, Jawa Barat (Ist/Jawapos.com)
Share this image

JawaPos.com - Kementerian Pertanian (Kementan) tidak hanya berupaya meningkatkan volume ekspor komoditas pangan seperti jagung, beras organik, bawang merah, pisang, kelapa dan komoditas perkebunan. Akan tetapi, menyasar peningkatan volume ekspor tanaman hias ke berbagai negara.

Direktur Jenderal Hortikultura, Suwandi mengatakan, tahun ini pihaknya fokus dalam peningkatan volume ekspor tanaman hias. "Khususnya tanaman yang memang punya daya saing tinggi di pasar dunia," ujar dia saat mengunjungi PT Florion, perusahaan budidaya sekaligus eksportir tanaman hias di Bogor, Kamis (2/8).

Suwandi mengungkapan Indonesia kaya akan komoditas tanaman hias. Yakni terdapat 173 jenis tanaman hias dengan ribuan jenis varietasnya. Misalnya, untuk bunga Tilansia saja memiliki 17 varietas.

“Berbagai komoditas tanaman hias diproduksi di Bogor dan diekspor ke berbagai negara Eropa. Dari sini saja sudah nyata meningkatkan nilai tambah devisa sekaligus meraup dolar,” ujarnya.

Suwandi menyebut salah satu upaya Kementan meningkatkan volume ekspor tanaman hias yakni melalui mendorong investasi. Serta mempermudah proses pelayanan izin pengeluaran ekspor.

“Izin ekspor tanaman hias diproses oleh Kementan. Kami menjamin prosesnya cepat secara online. Apabila memenuhi syarat, Kementan segera mungkin keluarkan surat izin pengeluaran ekspor," jelas Suwandi.

“Dengan begitu kami yakin, investasi budidaya tanaman hias dalam negeri meningkat dan volume ekspor pun ikut naik,” sambung Suwandi.

Pada kunjugan ini, Senior Menejer, PT Florion, Iwan Darmawan mengatakan dalam setahun mengekspor tanaman hias dalam bentuk bibit sebanyak 168 juta stek. Nilainya mencapai Rp 36 miliar.

Jenis bibit tanaman hias tersebut di antaranya bunga Sain Polia, aglonema, Tilansia dan Caloncoe yang diekspornya ke Eropa seperi Belanda, Italia, Denmark dan Jerman.

“Keuntungnya lumayan, biaya budidaya sih bisa ditekan efisien sekitar Rp 35 per stek, yang mahal biaya angkut pesawat bisa Rp 6.000 per stek. Ya harga jualnya bagus sehingga, kami masih dapat marjin yang bagus" kata Iwan.

“Adapun ke depan direncana ada perluasan pasar baru yaitu Jepang dan negara-negara Timur Tengah,” tambahnya.

Dia menerangkan proses ekspor bibit tanaman hias yakni dikerjakan berdasarkan standar pesanan dari negara tujuan. Ekspor dilakukan seminggu 3 kali, di mana surat izin pengeluaran ekspor dikeluarkan Kementan.

(ika/JPC)

Berita Terkait

Rekomendasi

berita hari ini

Sign In

Belum memiliki aku? Sign Up