JawaPos Radar

Gunakan Mesin Ilegal, Pabrik Rokok ini DItutup Bea Cukai Malang

03/08/2018, 11:33 WIB | Editor: Soejatmiko
Gunakan Mesin Ilegal, Pabrik Rokok ini DItutup Bea Cukai Malang
ILEGAL: Direktur Jenderal Bea dan Cukai, Heru Pambudi (kiri) menunjukkan mesin produksi rokok ilegal saat konferensi pers di halaman Kanwl Bea Cukai Jawa Timur II, Jumat (3/8). (fisca tanjung/jawapos.com)
Share this

JawaPos.com - Kantor Wilayah (Kanwil) Bea Cukai Jawa Timur II telah melakukan operasi tangkap tangan di wilayah Gondanglegi, Kabupaten Malang. Pabrik rokok tersebut diketahui menyalahgunakan izin karena memiliki mesin produksi rokok ilegal.

Direktur Jenderal Bea dan Cukai, Heru Pambudi mengatakan, petugas Bea Cukai Jawa Timur II telah melakukan penindakan terhadap pabrik rokok Megah Arta Jaya Desa Brongkal, Kecamatan Pagelaran, Kabupaten Malang, pada tanggal 24 Mei lalu.

Pabrik tersebut memiliki Nomor Pokok Pengusaha Barang Kena Cukai (NPPBKC) Sigaret Kretek Tangan (SKT). Namun, tertangkap tangan oleh petugas Bea Cukai sedang memproduksi sigaret kretek mesin (SKM) dengan menggunakan mesin ilegal.

"Pemberitahuan kepada bea cukai memproduksi sigaret kretek tangan, artinya tidak pernah mendeklair sebagai produsen yang menggunakan mesin. Kenyataannya memiliki mesin," ujarnya saat konferensi pers di halaman Kanwl Bea Cukai Jawa Timur II, Jumat (3/8).

Selanjutnya, pihaknya melakukan kegiatan preventif. Tapi, mereka justru membandel dengan masih berusaha melakukan kegiatan ilegal dengan cara produksi sembunyi-sembunyi pada malam hari. "Mereka melakukan kegiatan produksi dan kemudian kami lakukan tangkap tangan dalam keadaan mesin (masih) menyala," jelasnya.

Pabrik tersebut memiliki mesin dengan nilai Rp 946 juta atau hampir Rp 1 miliar. Potensi kerugian negara akibat produksi tersebut yakni sebesar Rp 210 juta. Heru menyampaikan, sebagai tindak lanjut, pihaknya saat ini tengah melakukan penyidikan kepada ZA, 40 yang diduga sebagai pelaku. Pihaknya pun telah mengamankan barang bukti berupa mesin produksi dan rokok.

Dia menerangkan, modus yang digunakan adalah tidak memberitahukan barang kena cukai yang selesai dibuat, mengeluarkan barang kena cukai dari pabrik tanpa diberitahukan kepada Kepala Kantor Bea Cukai dan dilindungi dengan dokumen cukai. Serta tanpa izin membuka, melepas segel, atau tanda pengaman.

Hal itu, lanjut dia, melanggar ketentuan di bidang cukai dalam pasal 16 jo 52 jo 57 Undang-undang nomor 39 tahun 2007 tentang cukai.

(fis/JPC)

Berita Terkait

Rekomendasi

berita hari ini

Sign In

Belum memiliki aku? Sign Up