JawaPos Radar

Perang Dagang AS-Tiongkok Mencuat, Rupiah Anjlok Lagi di Zona 14.505

03/08/2018, 10:54 WIB | Editor: Mochamad Nur
Perang Dagang AS-Tiongkok Mencuat, Rupiah Anjlok  Lagi di Zona 14.505
Ilustrasi penukaran uang di sebuah money changer (DOK. ISSAK RAMADHAN/JAWAPOS.COM)
Share this

JawaPos.com - Nilai tukar Rupiah terhadap dolar Amerika Serikat kembali terperosok di area level Rp14.500-an per USD. Melansir Bloomberg Dollar Index, Jumat (3/8) pukul 09.12 WIB, Rupiah pada perdagangan spot exchange melemah 27 poin atau 0,19 persen ke level Rp14.505 per USD. Rupiah hari ini bergerak di kisaran Rp14.496 per USD-Rp14.505 per USD.

Sementara itu, Yahoofinance juga mencatat Rupiah melemah 37 poin atau 0,26 persen menjadi Rp14.505 per USD. Dalam pantauan Yahoofinance, Rupiah berada dalam rentang Rp14.368 per USD hingga Rp14.505 per USD.

Dolar AS tetap menguat terhadap yuan dan sekeranjang mata uang utama lainnya di akhir pekan ini. Pelaku pasar dihantui kekhawatiran atas meningkatnya ketegangan perdagangan antara Amerika Serikat dan Tiongkok.

Seperti diketahui, Beijing berjanji melakukan aksi balasan jika Amerika benar-benar menjalankan ancamannya untuk menaikkan tarif terhadap ekspor China, setelah Presiden Donald Trump menginstruksikan pejabat perdagangannya untuk menelaah kenaikan tarif hingga 25 persen dari 10 persen pada impor Tiongkok senilai USD200 miliar.

Tetapi, karena Amerika Serikat mengimpor jauh lebih banyak dari Tiongkok, daripada yang dilakukan negeri titai bambu ini dari AS. Analis Mizuho Securities Masafumi Yamamoto mengatakan, para investor melihat perang dagang menyebabkan penderitaan yang lebih besar bagi ekonomi Tiongkok.

"Tampaknya pasar bereaksi terhadap perang perdagangan AS-Tiongkok karena Amerika adalah pemenangnya sedangkan China merupakan pihak yang kalah. Pasar Tiongkok secara umum melemah,” ujarnya.

Yuan, yang berada di bawah tekanan selama berbulan-bulan karena kekhawatiran atas sengketa perdagangan, ditransaksikan pada posisi 6,8725 yuan per dolar, setelah menyentuh 6,8828 yuan per dolar pada hari sebelumnya, terlemah sejak Mei 2017.

Euro diperdagangkan pada posisi USD1,1583, terlemah sejak 19 Juli. Sedangkan Dolar Australia, dilihat sebagai proxy terhadap pertumbuhan China, berada di level USD0,73595, dekat dengan tingkat terendah dua pekan, USD0,7355, yang disentuh pada hari sebelumnya.

Di tempat lain, poundsterling tetap lembut bahkan setelah Bank of England, Kamis, menaikkan suku bunga dari 0,5 persen menjadi 0,75 persen menyusul keputusan bulat dari dewan kebijakan yang beranggotakan sembilan orang. Sterling turun tipis ke level terendah dua minggu yang baru di posisi USD1,3012.

(mys/JPC)

Berita Terkait

Rekomendasi

berita hari ini

Sign In

Belum memiliki aku? Sign Up